Cerita Perawat: Pasien COVID-19 Lansia Sering Merasa Kesepian dan Dijauhkan

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Perawat Bagian Geriatri RSCM, Ns. Eva Rista Machdalena, S.Kep. Foto: Satgas COVID-19
zoom-in-whitePerbesar
Perawat Bagian Geriatri RSCM, Ns. Eva Rista Machdalena, S.Kep. Foto: Satgas COVID-19

Lansia adalah kelompok paling rentan apabila terpapar COVID-19. Sebab, daya tahan tubuh mereka mulai melemah, dan acap memiliki penyakit komorbid.

Oleh karena itulah, kematian COVID-19 di Indonesia didominasi lansia dan juga yang punya penyakit penyerta. Hampir 85 persen persentasenya.

Ns Eva Rista Machdalena, S.Kep menjelaskan, selain ancaman penyakit fisik, psikologis lansia juga mempengaruhi kerentanan. Berdasarkan pengalamannya, pasien lansia kerap merasa kesepian ketika mendapat perawatan.

"Secara psikologis lansia lebih sering kesepian. Kesepian karena tak bisa kontak dengan keluarga, bercerita dengan teman-temannya. Jadi mereka bilang, saya kesepian, saya merasa dijauhkan keluarga karena isolasi," kata Eva dalam diskusi virtual di BNPB, Rabu (14/10).

Di saat itulah peran perawat begitu vital. Merekalah yang harus menjaga semangat para pasien lansia itu.

"Yang penting adalah waktu keberadaan kita yang full buat dia. Jangan sampai kita sekadar selesai suntik udah. Tapi kita bisa orek feelnya dia, kecintaan dia terhadap sesuatu. Kalau dia mau melakukan apa pun, kalau masih mampu bisa dilakukan," jelas dia.

"Misalnya suster saya mau baca, mau bicara dengan anak saya, boleh kita sediakan waktunya," sambungnya.

Ilustrasi lansia, kakek dan nenek. Foto: Shutterstock

Sebab, menurut dia, apabila pasien lansia merasa kesepian, fungsi organnya pun jadi ikut terganggu. Ketika mereka semangat, otomatis peluang sembuhnya lebih besar.

"Jadi rasa kesepian juga bisa menurunkan fungsi organ lainnya. Kalau dia semangat pasti fungsinya, semangat dia untuk sembuh ada," tuturnya.

Sementara itu, menurut Staf Medis Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM dr. C. H. Soejono, peran keluarga pasien lansia juga sangat penting. Memotivasi dan mengembalikan mood mereka.

"Jangan lupa rajin menelepon kalau bisa. Kalau jadwal berkunjung datangnya berkunjung sesuai dengan situasi yang diizinkan, bisa berbicara lewat kaca atau lewat layar TV. Penggunaan teknologi komunikasi dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menjalin tali silaturahmi supaya nggak putus," kata dr Soejono.

Ia menjelaskan, pasien COVID-19 itu lebih sensitif sehingga kebutuhannya justru meningkat. Oleh karena itu keluarga harus lebih sigap dan responsif.

"Biasanya mengeluh aduh kita nggak bisa pelukan. Pihak keluarga ekspresikan rasa kerinduan sudah cukup bagi orang tua. Oh dia enggak ditinggal sendirian. Ekspresi seperti itu tetap dibutuhkan," tutup dia.