Cerita PKU Muhammadiyah Yogya Rawat Pasien Corona: Cari Oksigen hingga Denpasar

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penjualan tabung oksigen di sejumlah apotek di Kabupaten Cianjur Jawa Barat meningkat hingga 200 persen. Foto: Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Penjualan tabung oksigen di sejumlah apotek di Kabupaten Cianjur Jawa Barat meningkat hingga 200 persen. Foto: Dok. Istimewa

Melonjaknya kasus corona membuat kebutuhan oksigen di rumah sakit yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ikut melonjak. Pasokan yang minim dari distributor membuat rumah sakit bergerak sendiri hingga keluar kota.

Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta Mohammad Komarudin menjelaskan pada minggu lalu pasokan oksigen begitu menipis.

"Beberapa waktu lalu kita ketar ketir dengan pasokan oksigen, bahkan Sabtu, Minggu sampai Senin kemarin (minggu lalu) itu patokan hitungan jam," ujar Komarudin saat zoom dengan wartawan, Senin (28/6).

Karena persediaan yang mengkhawatirkan itu, pihaknya kemudian mencari oksigen ke sejumlah tempat lain. Bahkan hingga ke Denpasar, Bali.

"Kita ngangsu (mengangkut), ke mana pun yang penting dapat. Kami mendatangkan ada suplier baru, tidak hanya PT Samator. PT Samator terbatas harus berbagi dengan berbagai rumah sakit," ujarnya.

Petugas mendorong tabung oksigen saat menyiapkan ruangan perawatan pada Tower 8 Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet Pademangan, Jakarta, Selasa (15/6). Foto: M Risyal Hidayat/ANTARA FOTO

"Kita datangkan dari Surabaya bahkan Denpasar. Satu truk dari Denpasar 202 tabung dari Denpasar dan konsentrat dari Surabaya. Ini untuk mem-backup," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama RSUP Dr Sardjito Rukmono Siswishanto mengatakan bahwa pihaknya punya 4.500 galon untuk liquid dan 34 tabung oksigen. Belakangan pemakaiannya pun melonjak drastis.

"Biasanya rata-rata keadaan normal cuma 5 tabung per hari. Sekarang naik kebutuhannya itu yang liquid. Normal 5 hari sekali sekarang tiap hari harus ngisi," ujar Rukmono.

Senada, Direktur Utama RS Panti Rapih Triputro Nugroho menjelaskan lonjakan pemakaian oksigen terjadi mulai 22 Juni lalu. Saat ini dua hari sekali tabung-tabung oksigen di sana harus diisi padahal sebelumnya cukup seminggu sekali atau dua kali.

"Kita punya backup tabung 207 tabung ukurannya 6 meter kubik, 22 tabung untuk ukuran kecil. Ini backup kita kalau terjadi suplai oksigen yang tidak terpenuhi. Masih aman untuk selasa besok," ujarnya.

Sejumlah agen oksigen di Yogyakarta kehabisan stok oksigen. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Sebelumnya, Direktur Operasional PT Samator Gas Industri dan Aneka Gas Industri (GAI) Budi Susanto menyebut oksigen kebutuhan Jateng-DIY mencapai 164 ribu kubik pe hari.

"Melihat kebutuhan oksigen di Jateng dan DIY memang tadi benar peningkatan sampai 3 kali lipat," kata Budi saat Zoom bersama wartawan Kepatihan Pemda DIY, Jumat (25/6).

Budi menjelaskan pabrik PT Samator yang berada do Kendal hanya mampu produksi sekitar 50 ribu meter kubik per hari. Lantaran kebutuhan tinggi mereka harus menambah pasokan dari Jabar dan Jatim. Sementara sebelum pandemi kebutuhan oksigen Jateng-DIY hanya berkisar 70 ribu meter kubik per hari.

"Karena posisi kami di Kendal dengan produksi 50 ribu meter kubik per hari. Konsumsi Jateng termasuk DIY itu sudah mencapai 164 ribu per hari satuannya meter kubik. Silinder biasa baja (yang digunakan di rumah sakit) itu hanya 7 meter kubik. Bayangkan ada berapa silinder, ada berapa ribu liquid yang harus kita suplai," jelasnya.