Cerita Prabowo Kerap Kalah Main Tenis Usai Pensiun, Pernah Skor 6-0

Presiden Prabowo Subianto menceritakan pengalaman uniknya saat bermain tenis setelah pensiun dari militer. Prabowo mengaku kerap menang saat masih menjadi komandan, tetapi justru selalu kalah setelah pensiun.
Cerita itu disampaikan Prabowo dalam pidatonya pada acara pelepasan kontingen Asian Games 2026 di Istana Negara, Jakarta Pusat, Rabu (9/9).
Prabowo mengatakan dirinya dulu merasa hebat karena selalu memenangkan pertandingan tenis ketika masih menjadi komandan. Namun, kondisi itu berubah setelah dirinya pensiun.
"Tapi waktu saya jadi komandan, habis itu bener, kalau tenis saya menang terus. Saya menang terus waktu tenis waktu itu. Begitu saya pensiun, kaget saya. Saya kalah terus. Rupanya ini kalau di tentara itu anak buah nggak berani ngalahin komandan itu," kenang Prabowo.
Pada saat itu, Prabowo merasa hebat karena selalu menang. Namun, saat dirinya pensiun, ia selalu malah main tenis dengan skor yang cukup jauh.
"Saya merasa diri hebat waktu itu, tiap main sebagai waktu saya komandan itu menang terus. Begitu pensiun kalah terus. Habis itu teman-teman saya kan yang istilahnya pangkat ketinggalan, di situ saya diundang terus reuni main tenis saya dihabisin terus. Main tenis dapat 6-1, 6-1, 6-0, 6-1. Biar ini ya... tapi intinya kita semangat," terangnya.
Prabowo kemudian mengaitkan pengalamannya tersebut dengan penghargaan terhadap orang-orang yang berprestasi, termasuk para atlet yang berhasil meraih medali dalam ajang olahraga internasional.
Dia mengatakan telah mendapat laporan dari Menteri Pemuda dan Olahraga terkait besaran bonus bagi atlet peraih medali emas SEA Games. Namun, untuk Asian Games, Prabowo memastikan bonus yang diberikan lebih besar.
"Dan saya nggak lupa, saya diberi laporan oleh Pak Erick, Pak untuk SEA Games medali emas dapat 1 miliar ya. Tapi ini Asian Games, medali emas 3 miliar," kata dia.
Prabowo juga menyinggung kebiasaan di lingkungan militer yang menurutnya perlu diubah, yakni ketika kesalahan seseorang lebih mudah diingat dibandingkan kebaikannya.
"Kalau orang Indonesia kan ada pepatah, saya nggak tahu sekarang tapi dulu di tentara, kalau kita berbuat baik komandan suka lupa, kalau kita berbuat kesalahan komandan nggak lupa-lupa. Jadi kalau kesalahan diingat kalau kebaikan suka dilupa. Ini kita rubah, ya kan? Kita yang kebaikan kita hargai," ucap dia.
