Cerita Pujo, Gowes 560 KM Demi Mudik ke Yogya

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Eko Pujonarko pemudik Jakarta-Sleman menggunakan sepeda. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Eko Pujonarko pemudik Jakarta-Sleman menggunakan sepeda. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Eko Pujonarko (42) tampaknya memang terlahir sebagai pria yang gila tantangan. Sejak SMP, dirinya yang saat itu tinggal di Purworejo, Jawa Tengah, sudah rutin mendaki gunung di Indonesia. Hobi itu berlanjut hingga SMA. Selain naik gunung, bersepeda merupakan hobi Pujo yang lain.

Namun, dalam benak Pujo, ada cita-cita yang belum dia tuntaskan, yaitu touring jauh dengan sepeda. Baru di tahun 2019 ini lah cita-citanya terwujud. Ia mengayuh sepeda sejauh 550 KM dari Jakarta Selatan menuju Sleman, DI Yogyakarta.

Ditemui di rumahnya di Condongcatur, Kecamatan Depok, Sleman, Pujo menceritakan perjalanannya. Ia berangkat dari Jakarta pada Rabu (29/5) sekitar 14.30 WIB dan tiba di rumahnya pada Minggu (2/6) dini hari.

“Total perjalanan lima hari, Rabu sampai Minggu 84 jam. Total duduk di atas sepeda 38 jam. Pengalaman touring jauh pertama di atas 200 kilometer,” kata Pujo, Senin (3/6).

Eko Pujonarko pemudik Jakarta-Sleman menggunakan sepeda menunjukan foto perjalanannya. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Keinginan untuk gowes jarak jauh sebenarnya telah tertanam sejak dirinya bertugas di Surabaya, Jawa Timur. Namun lantaran belum ada kesempatan, niatnya diurungkan.

Baru setelah beberapa tahun pindah ke Jakarta, niatan itu muncul kembali. Gowes sekaligus mudik menemui anak istri di rumah.

“Ini kebetulan liburnya panjang. Jadi enggak ada pikiran pekerjaan,” katanya.

Terbiasa pulang menggunakan pesawat atau kereta api, kali ini Pujo pulang dengan bermodal sepeda dan tas bawaan seberat 20 Kg. Tak ada persiapan khusus, hanya cek sepeda dan persiapan fisik secukupnya saja.

“Kalau sepeda tidak ada persiapan khusus, cuma saya ganti ban aja. Persiapan hanya service rutin bongkar plus pasang ulang dan ganti ban persiapan biasa saja,” ujarnya.

Eko Pujonarko pemudik Jakarta-Sleman menggunakan sepeda. Foto: Dok. Eko Pujonarko

Pujo sebenarnya tergabung dalam Gowes Moedik 2019. Namun ia memilih untuk solo rider.

Awalnya, dia dan rombongannya akan memilih jalur utara lewat jalur Cirebon yang lebih menantang. Namun rekan-rekannya yang akan melewati jalur itu terbilang senior dalam gowes. Khawatir tak bisa mengimbangi, dia pun memutuskan lewat jalur tengah.

“Saya awalnya mau lewat jalun utara Ungaran, Semarang, penasaran sama tanjakan Alas Roban dan Gombel. Di Posko Cirebon yang ke utara, para pebalap-pebalap,” ujarnya.

Meski lewat jalur tengah, Pujo tetap bertemu dengan pegowes lain yang mayoritas memang masih pemula. Dia bertemu pegowes lain bernama Edik yang juga mudik ke Kulon Progo, DI Yogyakarta.

Melewati jalur tengah bukan tanpa tantangan bagi Pujo dan rekannya di perjalanan. Dia harus melewati tanjakan di Bumi Ayu, Brebes, dengan elevasi tertinggi 3.139 meter.

Rekannya yang masih muda dapat langsung tancap gas melibas tanjakan. Namun, Pujo lebih memilih mengatur ritme napas meski kecepatannya hanya 3 Km/jam. Cara tersebut juga untuk menyiasati faktor usia.

“Yang terpenting itu kaki jangan sampai turun,” ujarnya.

Eko Pujonarko pemudik Jakarta-Sleman menggunakan sepeda. Foto: Dok. Eko Pujonarko

Perjalanan Pujo terbilang lancar tanpa kendala. Sepedanya pun aman tak rusak di jalan. Justru ketika hampir tiba di tujuan, Pujo mengalami sedikit insiden. Kalinya terkilir saat hendak menapak di jalan berkerikil di sekitar Sedayu, Bantul.

“Di Sedayu, sempat keseleo kakinya. Tanjakan Sedayu ketemu angkringan teman sedikit ngantuk terus berhenti. Naik tanjakan saya mau berhenti ada kerikil malah kena (terkilir),” ujarnya.

Eko Pujonarko pemudik Jakarta-Sleman menggunakan sepeda. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan

Berhari-hari di jalan, tak membuat Pujo lalai dalam beribadah. Dia mengaku hanya sekali batal berpuasa lantaran telat bangun sahur.

“Di Buntu bangun jam 5. Mikir puasa atau enggak. Karena enggak sahur, kita putusin enggak puasa. Siang pun saya genjot,” ujarnya.

Setelah cita-citanya gowes jarak jauh terlaksana, Pujo mengaku tetap akan mengulanginya pada Lebaran tahun yang akan datang. Mudik dengan mengayuh sepeda.