Cerita Rahmat yang Dua Kali Selamat dari Tsunami

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga melintasi jalanan yang rusak akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR), di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
zoom-in-whitePerbesar
Warga melintasi jalanan yang rusak akibat gempa 7,4 pada skala richter (SR), di kawasan Kampung Petobo, Palu, Sulawesi Tengah. (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)

Tragedi gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, menyimpan luka mendalam. Gempa berkekuatan 7,4 magnitudo itu merenggut ribuan nyawa manusia, pada Jumat (28/9) lalu.

Rahmat Saiful Bahri, warga Kota Banda Aceh menjadi korban dan salah seorang saksi hidup yang berhasil menyelamatkan diri setelah bertahan di tengah bencana itu. Rahmat juga merupakan korban selamat tsunami Aceh pada 2004 silam.

Rahmat kembali menginjak kakinya di Tanah Rencong pada Rabu (3/10) pagi. Ia mendarat menggunakan maskapai Garuda Indonesia, di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM), Aceh Besar. Dia disambut oleh keluarga dan rombongan kemudian di bawa ke kantor Wali Kota Banda Aceh.

Ucapan selamat dan rasa syukur mengalir dari seluruh pegawai. Rahmat hadir masih mengenakan kaos terakhir yang dipakainya. Ia kemudian diberi tepung tawar sebagai tanda syukur atas keselamatan di ruang kerja Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman.

Rahmat mengisahkan, dirinya berhasil selamat setelah melarikan diri dan bertahan hidup selama satu hari dua malam di permukiman warga kawasan Gunung Silae, Palu.

Rahmat Saiful Bahri, warga Aceh yang selamat dari bencana sulteng. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rahmat Saiful Bahri, warga Aceh yang selamat dari bencana sulteng. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Rahmat merupakan Kepala Sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Banda Aceh, ia berangkat ke Kota Palu pada Kamis (27/9) untuk mengikuti workshop Tradisi Nomoni Palu, yang diadakan pada Jumat (28/9).

Dari Banda Aceh, Rahmat berangkat pukul 10.00 WIB pagi menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Tiba di Jakarta siang dan berangkat ke Palu pukul 18.00 WIB dan tiba pukul 22.00 WIB. Saat pertama tiba, Rahmat tidur di Hotel Gajah Mada dan keesokannya baru chek-in di Swiss-Bellhotel yang disediakan panitia.

Saat sedang registrasi peserta, tiba-tiba sekitar pukul 15.00 WIB Rahmat merasakan gempa dengan kekuatan tidak terlalu besar. Setelah itu, Rahmat naik ke lantai 3 membawa barang perlengkapannya.

“Sempat merebahkan badan sebentar. Kemudian saya turun ke bawah berkumpul dengan peserta lainnya di lobi hotel. Karena pukul 18.00 WIB, seluruh peserta harus bersiap-siap akan mengikuti acara Nomoni Palu,” ujarnya.

Seorang warga Aceh selamat dari Gempa dan Aceh. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Seorang warga Aceh selamat dari Gempa dan Aceh. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Rahmat bergegas kembali ke kamar hotel untuk mandi. Pada saat sedang mandi, gempa ke dua kalinya berkekuatan 7,4 magnitudo kembali mengguncang hotel mereka, hanya dengan pakaian seadanya Rahmat kemudian langsung lari ke lantai lima.

“Gempa terus-menerus dan air sudah besar. Setelah bertahan setengah jam di atas atap hotel setelah tsunami, baru pihak manajer mengimbau kami untuk turun. Air di lobi hotel waktu itu selutut orang dewasa. Semuanya hancur berkas administrasi kami hilang, sementara di depan hotel tanahnya sudah amblas, ceritanya.

Bencana dahsyat itu terjadi sekitar sepuluh menit. Namun setelah air surut, Rahmat kembali turun ke lantai bawah. Saat itu, dia melihat kaca hotel hancur dan lantai satu jebol. Kakinya pun terluka akibat terkena pecahan kaca.

Usai peristiwa gempa dan tsunami terjadi, kemudian pihak hotel menggunakan bus mengevakuasi seluruh warga dan penghuni hotel ke Gunung Silae.

“Di sana bertahan, makanan dibantu warga. Kebetulan salah seorang anak di sana bekerja di hotel tempat kami menginap. Ketika lari saya hanya membawa baju dan celana seadanya barang-barang tinggal di hotel. Ketika gempa saya langsung ingat ke Aceh,” tambahnya.

Rahmat Saiful Bahri, warga Aceh yang selamat dari bencana sulteng. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Rahmat Saiful Bahri, warga Aceh yang selamat dari bencana sulteng. (Foto: Zuhri Noviandi/kumparan)

Setelah bertahan di pemukiman warga Silae, kemudian Rahmat kembali ke hotel mengambil barang. Dari hotel, Rahmat bersama warga lainnya kemudian menuju Bandara Mutiara SIS Al-Jufri. Di sana ia bertahan selama empat hari lantaran tidak ada keberangkatan.

Ketika di Bandara suasana tak seperti yang ia bayangkan, masyarakat berkumpul ramai, tak ada makanan dan warga semua ingin ke luar dari kota Palu.

“Kami antre di bandara untuk bisa naik ke pesawat Hercules yang ada di sana. Tapi sudah empat hari empat malam saya tidak berhasil naik pesawat karena banyaknya penduduk berbondong-bondong ingin ke luar dari Palu,” keluhnya.

warga menunggu kedatangan pesawat di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
warga menunggu kedatangan pesawat di Bandar Udara Mutiara SIS Al-Jufrie, Palu. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Rahmat masih mengantongi tiket untuk pulang dari Palu ke Jakarta dan Banda Aceh. Pada (2/10) kemarin ia melaporkan ke kantor Garuda Indonesia. Namun keberangkatan dari Palu harus ke Makassar terlebih dahulu. Dari sana baru di berangkatkan ke Jakarta.

“Saya sudah nangis, tidak ada sama siapa mengadu. Saya memohon untuk dipulangkan. Akhirnya tiket saya di acc,” keluhnya.

Meski demikian, lantaran banyaknya lalu lintas keberangkatan dari Makassar ke Jakarta. Rahmat terpaksa kembali menunggu antrean hingga dirinya mendapatkan jadwal keberangkatan pada sore hari. Setiba di Jakarta kemudian pihak Garuda Indonesia menyediakan penginapan.

“Pagi tadi baru saya berangkat dari Jakarta ke Aceh. Alhamdulillah saya bisa selamat dan kembali berkumpul dengan keluarga,” jelasnya.

Masjid di daerah Teunom, Banda Aceh yang masih berdiri setelah gempa dan tsunami Aceh. (Foto: AFP/CHOO YOUN-KONG)
zoom-in-whitePerbesar
Masjid di daerah Teunom, Banda Aceh yang masih berdiri setelah gempa dan tsunami Aceh. (Foto: AFP/CHOO YOUN-KONG)

Rahmat sudah 2 kali menjadi saksi hidup dan menjadi korban tsunami. Saat Aceh diadang tsunami 2004 silam, ia juga menjadi korban namun berhasil menyelamatkan diri setelah lari bersama keluarga ke musala Desa Jeulingke, Banda Aceh.

“Dua kali melawan maut. Dulu juga ketika tsunami di Aceh. Waktu itu saya tinggal di Jeulingke. Bahkan sempat berenang dalam air kemudian selamat di dalam Musalla," kisah Rahmat.