Cerita Romo Syafi'i: Layani Jemaah Haji dari Wakarom hingga Jadi Wamenag
·waktu baca 2 menit

Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i menyambangi jemaah haji di Asrama Haji Pondok Gede. Di sana, Romo Syafi'i sempat berbincang dengan jemaah haji.
Dalam sambutannya, Romo Syafi'i terkenang saat pertama kali berhaji pada 1995 di usia 36 tahun. Saat itu, dia langsung diminta melayani jemaah lainnya, sebagai Wakil Kepala Rombongan di Medan.
“Saya menangis tersedu-sedu ketika pertama kali melihat Ka’bah. Saya terus menangis sampai di Arafah dan Muzdalifah,” kata Romo Syafi'i kepada wartawan Rabu (14/5).
Sebagai Wakarom, politikus Gerindra itu melayani puluhan jemaah yang sebagian besar sudah lanjut usia. Ia tak duduk diam atau memberi perintah. Ia ikut memanggul koper, memastikan semua jemaah naik ke bus di Jeddah, hingga tiba di Makkah dalam kondisi selamat.
Bahkan di tengah suhu ekstrem nyaris 50 derajat Celsius, ia tetap bertugas meski tubuhnya tak kuat hingga mengalami mimisan. “Saya niatkan diri saya untuk melayani. Itu saja,” kata dia.
Barangkali karena ketulusan itulah, perjalanan hidup Romo Syafi’i tak berhenti di satu kali haji. Ia diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali ke Tanah Suci berkali-kali—dalam berbagai peran dan kapasitas.
Pengalaman spiritual yang ia rasakan selama berhaji menumbuhkan sebuah keyakinan yang kini menjadi filosofi hidup dan pelayanannya: bahwa tidak ada satu pun ucapan, tindakan, atau niat manusia yang luput dari pengawasan Allah.
Kini, Romo Syafi'i diamanahi oleh Presiden Prabowo sebagai Wamenag. Salah satu tugasnya memastikan penyelenggaraan dan pelayanan jemaah haji berjalan baik.
Dalam tugas barunya itu, prinsip itu juga masih dipegangnya. Ia mengaku kerap dianggap terlalu vokal, terlalu berani. Tapi, menurutnya, itu bukan soal keberanian.
“Saya hanya tak bisa menyembunyikan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan,” ujar dia.
Tak lupa, Romo Syafi'i juga berpesan kepada petugas haji yang bertugas di embarkasi maupun mendampingi jemaah sebagai petugas kloter maupun daerah.
“Melayani tamu Allah yang merindu. Lalu kita bantu mereka melepas kerinduan itu untuk bertemu dengan-Nya. Tak semua orang mendapat kesempatan ini,” tutur dia.
“Semoga dengan keikhlasan yang Bapak-Ibu tanamkan, Allah akan membalasnya dengan apa yang selama ini menjadi impian kita," ucap Romo Syafi'i.
