Cerita RT Pengok Yogya soal Sampah Numpuk: Warung Soto Tutup, Anak Kos Pindah
ยทwaktu baca 3 menit

Tumpukan sampah di Depo Pengok, Kelurahan Demangan, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, tak hanya bikin bau namun juga mengganggu ekonomi warga. Karena sampah yang menumpuk, warung soto terpaksa tutup setelah ditinggal pelanggan yang terganggu dengan bau sampah.
"Warung soto itu malah sekarang itu kontrak baru 3 bulan tutup nggak berani buka lagi karena lalat banyak sekali," kata Ketua RT 34, Demangan, Agus Irianto, di Yogyakarta, Jumat (17/5).
Agus mengatakan para warga yang punya usaha kos-kosan di sekitar sana pun harus gigit jari. Sampah yang baunya menyebar membuat penghuninya pindah.
"Banyak yang pindah (indekos)," katanya.
Penumpukan sampah ini terjadi karena pembuangan sampah ke depo dengan pengangkutan di DLH tak seimbang. Hal ini diperparah dengan adanya penggerobak sampah yang diduga dari luar wilayah Demangan.
Maka dari itu, pada hari ini warga pun menggelar aksi ke DLH Kota Yogyakarta yang lokasinya juga berada di kampung mereka.
"Baru kali ini ke DLH. Posisinya penumpukannya sudah luar biasa. Jadi pembuangannya tidak berimbang antara pembuangan dari masyarakat dengan pengambilan dari DLH nggak berimbang," jelasnya.
Radius Bau 1 Kilometer
Diberitakan sebelumnya, Senen Prabowo, perwakilan warga saat aksi menjelaskan bau sampah busuk dari Depo Pengok bahkan mencapai radius hingga 1 kilometer.
"Wah jauh itu, ya sekitar 1 kiloan radiusnya, bau semua. Apalagi kalau pas anginnya kenceng," jelas Senen.
Senen menyebut, warga setempat sempat berdialog dengan DLH. Bahkan menjelang Lebaran 2024, sampah sudah bersih. Namun tak lama tumpukan sampah kembali muncul hingga meluap ke jalanan.
Dia menjelaskan warga hanya diberi waktu satu jam membuang sampah di depo di pagi hari. Tetapi para penggerobak kerap membuang pada malam harinya.
"Itu penggerobak curi-curi malam hari mereka membuang seenaknya," katanya.
Warga pun menuntut agar depo di lingkungannya dirapikan dan tak menumpuk seperti itu.
Kata Pj Wali Kota
Pj Wali Kota Yogyakarta, Singgih Raharjo, angkat bicara soal demo warga Kampung Pengok, Kelurahan Demangan, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta di Kantor DLH Kota Yogyakarta, Jumat (17/5). Mereka menggelar Aksi Pengok Kudu Resik lantaran sampah di Depo Pengok terus menerus menumpuk dan membuat mereka terganggu.
"Kemarin sudah kita lakukan pembersihan yang di luar pagar dan sekarang memang menyisakan yang di dalam," kata Singgih di Kepatihan Pemda DIY, Jumat (17/5).
Singgih menjelaskan saat ini sedang dalam masa transisi desentralisasi sampah di kabupaten kota setelah Pemda DIY resmi menutup permanen Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan di Kabupaten Bantul sejak awal Mei.
"Ini memang masa transisi ya. Pada saat kemudian Piyungan sudah tutup mulai Mei kemudian kita nyiapkan ada tiga TPS3R itu," katanya.
Saat ini sudah ada dua TPS3R yang beroperasi yakni di Nitikan dan Kranon.
"Ini masa transisi tentu kami akan betul-betul untuk mengelola sampah dengan pengolahan sendiri maupun dengan kemitraan," tegasnya.
