Cerita Saksi Kebakaran Bukit Duri: 4 Anak yang Tewas Numpuk di Satu Titik
·waktu baca 2 menit

Kebakaran melanda permukiman padat penduduk di Jalan Kutilang, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (19/7) pagi. Empat anak termasuk satu balita, dilaporkan menjadi korban dalam peristiwa nahas ini.
“Ada empat. Satu bayi. Tiga masih SD-an,” kata Henri, warga sekitar saat di wawancara di lokasi kebarakan, Sabtu (19/7)
Henri menyebut api bermula dari sebuah kamar di rumah semi permanen yang terbakar.
“Saya enggak tahu awal pastinya gimana, saat itu asap udah ke atas. Terus, saya coba masuk ke dalam,” ujar Henri saat ditemui di lokasi kejadian.
Henri menceritakan saat itu melihat orang tua korban berusaha menyelamatkan diri dengan cara meloncat ke luar rumah. Api belum terlalu besar saat pertama kali muncul, namun asap sudah memenuhi ruangan.
“Saya melihat ibu-ibunya, orang tua-orang tuanya loncat dari dalam gitu, dia loncat. Makanya saya bilang, sebenarnya itu masih baru asap aja, belum terlalu besar apinya, belum terlalu merembet. Cuma titiknya dari kamar, itu aja yang saya lihat,” ucap dia.
Bangunan dari Triplek dan Papan
Menurut Henri, rumah yang terbakar merupakan bangunan yang terbuat dari triplek dan papan.
“Kalau bangunannya enggak layak, ya. Itu dari triplek semua,” katanya.
Api diduga berasal dari kamar di lantai bawah. Henri mengaku tidak mengetahui penyebab pasti, namun dia melihat titik awal api di bagian tersebut.
“Kalau untuk penyebabnya, saya nggak tahu. Cuma saya menemukan intinya di bawah, di kamar bawah. Api yang saya lihat. Awalnya. Tetapi sudah asapnya terlalu banyak,” ungkapnya.
4 Anak yang Tewas Bertumpuk di Satu Titik
Henri meyampaikan, seluruh korban ditemukan di satu titik oleh petugas pemadam kebakaran dan langsung dilarikan ke RSCM.
“Di satu rumah. Dan pihak pemadam nemuin di satu titik. numpuk di situ (lantai 2) semua. Di bawah ke Cipto, RSCM,” lanjutnya.
Henri menduga, kepanikan orang tua membuat mereka tidak sempat menyelamatkan anak-anak mereka.
“Ya, mungkin orang tuanya saja loncat dari itu, jadi tidak keburu karena sudah panik. Kita pun kalau buat merobos itu api sudah besar, sudah telat,” ujarnya.
Sarono, komandan piket Damkar yang bertugas membenarkan hal tersebut.
"Pada dasarnya kita menemukannya (4 anak tewas) di lantai 2. Ada kemungkinan dia untuk menyelamatkan diri terlambat, gitu," kata dia.
