Cerita Sigit yang Memilih Bertahan Tak Mau Digusur Proyek MRT

Sudah hampir 29 tahun usaha furniture milik Sigit berdiri di Jalan Raya Fatmawati, Jakarta Selatan. Namun pembangunan MRT yang berlangsung sejak tahun 2013, membuat bisnisnya menurun hingga 60 persen.
Kondisi ini membuatnya terpaksa harus melakukan efisiensi dengan melakukan pengurangan pegawai toko.
"Turun penghasilan ya pastilah. Sekarang mau nggak belanja ke Fatmawati kalau nggak ada perlunya? Kalau ada di tempat lain, mau ke Fatmawati nggak?," kata Sigit saat ditemui di Toko Megah Sari, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (21/10).
Selama ini, Sigit dan beberapa warga Fatmawati sudah meminta untuk Pemprov membangun subway, bukan elevated seperti MRT yang saat ini sedang dibangun. Karena menurutnya, pembangunan MRT bisa menimbulkan masalah sosial.

"Kami kan warga Fatmawati lama-lama semua. Sejak dulu dicanangkan (pembangunan elevated), padahal kami sudah mengimbau minta subway. Karena apa? kami tidak mementingkan egosentris," ujar Sigit.
"Yang paling krusial, kalau elevated dibangun dibarengi pertambahan penduduk yang meningkat kan tidak bisa ditambah jalurnya. Di sini kan sentra ekonomi Jakarta, ini nanti akan hancur," lanjutnya.
Ia pun menuturkan alasan mengapa ia menggugat Pemprov DKI ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sigit dan lima orang lainnya menggugat cara Pemprov yang menentukan harga Rp 33 juta/m2 yang tidak sesuai dengan UU Nomor 2 Tahun 2012.

"Kami sudah menggugat perkara nomor 133 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan putusannya kami dimenangkan. Akan diterima Rp 60 juta per-meter. Tiba-tiba Pemda melakukan kasasi sampai sekarang. Kalau pemda tidak kasasi, kami mendapat bayaran, kelar kan," kata Sigit.
Sigit mengakui sudah menghubungi MAPPI (Masyarakat Profesi Penilai Indonesia), sebuah asosiasi yang paham dengan appraisal, untuk meminta penjelasan lebih lanjut mengenai perkiraan harga ganti rugi secara jelas dan baku.
"Harusnya (penentuan appraisal) ditanyakan ke warga door to door. Anda punya bisnis apa disurvei, mulai dari nilai ekonomisnya, pre-construction, during construction dan after construction. Yang paling kacau selama masa konstruksi, terutama yang dekat dengan stasiun. Kami kan jadi susah. Tiang dimana-mana, jadi kumuh," kata Sigit.
Sigit pun berpesan agar proyek pembangunan MRT ini diawasi dengan baik oleh Pemprov sampai tahap pembangunannya selesai. Ia berharap tidak terjadi lagi masalah-masalah sosial dan ekonomi yang mengakibatkan warga terdampak pembangunan MRT di sepanjang Jalan Fatmawati.
