Cerita Sihab yang Patah Kaki Tertimpa Tembok Masjid saat Hendak Salat

Suara rintihan kesakitan terdengar di salah satu sudut ruangan Rumah Sakit Wirabuana, Palu, Sulawesi Tengah. Anak laki-laki dengan kaki kanan diperban itu memanggil-manggil ibunya yang sejenak beranjak dari sebelah tempatnya dirawat.
Namanya Sihab. Dia adalah satu dari ribuan korban luka yang masih menjalani perawatan di Palu. Bocah 13 tahun itu mengalami patah tulang saat hendak salat magrib di Masjid Angkatan Laut, Kelurahan Kalise, yang tak jauh dari rumahnya.
“Sudah mau salat maghrib dia ke sana (masjid), akhirnya sudah ada di dalam masjid ada gempa disuruh keluar. Pas disuruh keluar justru pagar yang di masjid roboh menimpa kakinya,” kata Wahyuni, Ibu dari Sihab, Jumat, (5/10).

Dengan wajah yang ditutup masker sambil mengipasi Sihab, Wahyuni mengungkapkan anaknya sudah terbiasa salat magrib berjemaah di masjid. Saat Sihab tertimba bangunan, Wahyuni sedang tidak berada di masjid. Ia bahkan tidak mengetahui di mana dan bagaimana keadaan Sihab sampai Sabtu, (29/9).
“Saya justru pukul 0900 Wita pagi baru ketemu ini anak. Semalaman tidak ada yang ketemu-ketemu kami ternyata, cari ke sana ke sini di pengungsian tak ada,” ujar Wahyuni.
“Pas saya putar-putar nyari anak saya di pengungsian akhirnya sudah ketemu,” tambahnya.
Mengetahui anaknya terluka, Wahyuni langsung membawanya ke RS Wirabuana. Namun kondisi pelayanan RS yang belum maksimal karena dampak bencana membuat Sihab hanya ditangani sementara sebagai langkah pencegahan.
“Sementara dipasangi kayu supaya tidak bengkok. Terus dibungkus darurat begitu pas satu hari kemudian baru dipasang lagi juga kayu untuk sementara lagi. Digantikan perbannya sekalian ganti perbannya. Terus baru hari Rabu baru dipasang digip sementara bawanya terus baru hari ini lagi dioperasi,” terang Wahyuni.

Wahyuni dalam hati tidak ingin anaknya dioperasi. Namun setelah konsultasi dengan dokter diketahui kaki anaknya patah. Sehingga ia hanya mengikuti saran yang terbaik dari dokter yaitu dioperasi.
“Jadi kalau enggak dioperasi bisa-bisa anaknya kakinya pendek sebelah. Jadi terpaksa ya ikut dokter saja bilang harus dioperasi dipasang pen dulu. 2, 3 bulan begitu baru dilepas lagi,” tutur Wahyuni.
