Cerita Siswa Hadapi TKA: 20 Kali Try Out, Fokus Agar Tak Salah 'Konyol'

Hari pertama Tes Kemampuan Akademik (TKA) di SMAN 81 Jakarta menyisakan pengalaman berbeda bagi para siswa kelas XII.
Berbagai cara mereka lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian, mulai dari mengikuti bimbingan belajar (bimbel), pendalaman materi di sekolah, hingga mengerjakan puluhan try out (TO).
Seperti halnya yang dilakukan Adirangga, siswa kelas XII-3 SMAN 81 Jakarta. Ketika ditemui kumparan, Adi mengatakan dirinya telah mempersiapkan TKA selama sekitar satu bulan.
Ia juga mendapat dukungan dari orang tuanya yang membantu mengatur jadwal belajar.
“Dari rumah, dari orang tua juga udah support karena mereka tahu anak-anaknya pasti punya cita-cita yang bagus. Makanya jadi sering banget dibikinin jadwal, di-schedule-in dari rumah,” kata Adi saat ditemui di SMAN 81 Jakarta, Cipinang Melayu, Jakarta Timur, Senin (26/10).
Selama persiapan itu, Adi bercerita telah mengerjakan sekitar 20 TO untuk setiap mata pelajaran (mapel) yang diujikan dalam TKA.
“Terakhir progres aku alhamdulillah selama persiapan aku udah mengerjakan kurang lebih 20 try out di setiap mapel,” ungkapnya.
Dia mengaku sempat memperkirakan soal TKA akan sulit dan berbeda dari materi yang dipelajarinya. Namun, setelah mengerjakan soal pada hari pertama, ia merasa usahanya selama persiapan cukup terbayarkan.
“Ternyata begitu masuk dan ketemu sama soal-soal yang memang asli harus dikerjain ya ternyata, bukan dengan maksud sombong ya, tapi maksudnya adalah alhamdulillah terbayarkan banget semua usaha aku untuk belajar,” tuturnya.
Pada hari pertama pelaksanaan TKA, Senin (26/10), siswa kelas XII SMAN 81 Jakarta mengikuti ujian mata pelajaran wajib Bahasa Indonesia.
Kendati merasa cukup siap, Adi menilai ujian tersebut tetap membutuhkan ketelitian dalam membaca soal.
Menurutnya, siswa terkadang merasa sudah mengetahui jawaban ketika membaca soal. Namun, setelah memeriksa kembali, bisa saja ditemukan pilihan jawaban lain yang lebih tepat.
“Kadang karena kita merasa kalau misalnya kita udah belajar, jadi ketika ngelihat soal tuh udah langsung tahu jawabannya. Tapi ternyata seiring dengan berjalannya tes, kita buka ulang lagi soalnya, kita cek lagi, ternyata ada jawaban yang belum benar, belum tepat,” kata Adi.
Soal Bahasa Indonesia Bikin Siswa Ragu
Pengalaman menghadapi soal yang mengecoh juga dirasakan Nasywan, siswa kelas XII-6 SMAN 81 Jakarta.
Nashwan menilai, tingkat kesulitan ujian Bahasa Indonesia berada di kisaran 5-6 dari skala 10. Karena menurut dia, sebagian besar soal masih bisa dikerjakan, tetapi ada satu soal yang membuatnya ragu.
“Dari tingkat 1 sampai 10 sih palingan 5 sampai 6 lah, nggak terlalu sulit, nggak terlalu gampang. Palingan cuma ada satu soal doang yang benar-benar membingungkan,” kata dia.
Nasywan menjelaskan, contoh soal tersebut meminta siswa menentukan paragraf yang paling tepat untuk menjelaskan latar belakang seorang tokoh dalam teks narasi.
Dia pun merasa menemukan beberapa pilihan jawaban yang terasa sama-sama benar.
“Dari yang saya lihat sih ada tiga yang bisa benar. Jadi saya kayak, mungkin keliru, mungkin nggak, saya pilih yang ini. Tapi saya ragu-ragu banget,” bebernya.
Untuk mempersiapkan TKA, Nasywan mengikuti bimbingan belajar di dekat rumahnya. Ia mengatakan, selama dua hingga tiga pekan, kegiatan belajarnya lebih banyak difokuskan pada latihan soal TKA.
“Jadi kita belajar full 2-3 minggu cuma TKA doang, nggak ada pelajaran yang biasa-biasa. Jadi kita cuma belajar tentang soal yang ada di Pusmendik (Pusat Asesmen Pendidikan),” tuturnya.
Ia kemudian menyebut Fisika menjadi mata pelajaran yang paling menantang dalam persiapannya. Nasywan mengatakan, terdapat 27 bab yang perlu dipelajari dari lima materi yang akan diujikan.
“Minimal kata guru Fisika saya, harus benar-benar master banget 10 bab dari 27, kalau mau nilai yang lumayan,” ujarnya.
Sementara dia sendiri mengaku baru menguasai sekitar enam hingga tujuh bab. Meski begitu, ia tetap berusaha mempersiapkan diri dan tidak ingin takut menghadapi gagal.
“Kita jangan takut gagal, kita harus beneran apa ya istilahnya harus beneran jalani aja. Harus berani mati berdiri daripada hidup bersujud lah,” tegas Nasywan.
Khawatir Salah Klik hingga Salah Isi Data
Sementara itu, Prabu, siswa kelas XII-6 SMAN 81 Jakarta, menerangkan soal Bahasa Indonesia juga membutuhkan ketelitian dan pemahaman terhadap isi bacaan.
Kata dia, soal yang meminta siswa memahami opini atau maksud penulis membuat peserta harus benar-benar memahami konteks teks.
“Bahasa Indonesia juga kan perlu ketelitian, perlu banyak baca. Apalagi kalau kita bertanya soal opini penulis atau maksud penulis, itu kita harus membayangkan, kita harus mempersepsikan diri kita sebagai penulis itu,” terang Prabu.
Dalam persiapan menghadapi TKA, Prabu sendiri mengikuti bimbel serta pendalaman materi yang disediakan sekolah.
Namun, hal yang paling dikhawatirkan Prabu bukan hanya tingkat kesulitan soal. Ia justru khawatir melakukan kesalahan kecil saat ujian, seperti salah memilih jawaban atau memasukkan data.
“Yang paling saya khawatirkan sendiri sebelum ujian TKA ini adalah bagaimana satu kesalahan konyol kecil, misal yang nggak fokus atau salah klik, itu bisa berdampak besar,” bebernya.
Prabu mengatakan, kekhawatiran itu sempat muncul sekitar 30 menit hingga satu jam sebelum ujian dimulai.
“Jadi itu yang kurang lebih sekitar 1 jam atau 30 menit sebelum TKA itu saya selalu memikirkan bagaimana akhirnya agar tidak melakukan blunder-blunder kecil yang konyol,” tuturnya.
Prabu sendiri berencana melanjutkan pendidikan ke FMIPA ITB. Ia mengaku akan lebih berfokus mempersiapkan diri untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) setelah TKA selesai.
Karena itu, Prabu juga memberikan tips kepada siswa lain yang akan melaksanakan TKA. Dia menyarankan siswa untuk mengenali pola belajar masing-masing.
“Kalau dari zero banget, dari dasar banget, adalah mengenali sebenernya tipe belajar Anda tuh seperti apa gitu ya.”
“Kalau saya kan misalnya tipe belajarnya lebih ke mengenali konsep terus diaplikasikan ke soal. Tapi kan ada juga yang tipenya dia lebih ke latihan soal terus-terusan kan. Dan juga mengenali kira-kira waktu efektif otak Anda itu tuh sekitar jam berapa atau waktu efektifnya kapanlah,” terang Prabu.
Selain itu, ia pun menyarankan siswa untuk mengatur waktu istirahat menjelang ujian.
“Ketika sudah mendekati hari TKA, sebisa mungkin jam belajarnya dipindahin ke agak siang. Jadi biar bisa tidur secepatnya, misal jam 9 atau jam 10,” tutup Prabu.
Merasa Soal Mirip dengan Materi Latihan
Berbeda dengan siswa yang merasa ragu terhadap sejumlah pilihan jawaban, Khaira, siswa kelas XII-3 SMAN 81 Jakarta, mengaku soal Bahasa Indonesia yang dikerjakannya cukup mirip dengan materi yang dipelajari selama persiapan.
Khaira mengatakan persiapannya sempat terasa mepet karena pada awal kelas XII, ia belum terlalu memperhatikan TKA. Namun, dia berusaha mengikuti bimbel dan pendalaman materi yang disediakan sekolah.
“Tapi karena kebetulan aku ikut bimbel Inten, jadi aku dapet PM (pendalaman materi) dari sana dan juga kebetulan sekolah kita ini sangat support untuk persiapan TKA-nya karena kita dapet pendalaman materi dari bimbel juga, dari Konstanta,” tutur Khaira.
Dia pun mengaku sempat khawatir soal TKA akan berbeda dari materi latihan, berdasarkan cerita siswa kelas XII tahun sebelumnya. Namun, kekhawatiran itu justru mendorongnya untuk belajar lebih giat.
“Ketakutan itu bikin aku lebih mau belajar lagi,” ujarnya.
Menurut Khaira, soal Bahasa Indonesia yang keluar pada hari pertama cukup mirip dengan materi yang dipelajarinya.
“Kalau dari aku pribadi itu, alhamdulillahnya ternyata tahun ini itu dari apa yang aku pelajarin dan juga pas soal yang tadi keluar itu menurut aku sih lumayan mirip ya,” ungkapnya.
Ia pun menyarankan peserta TKA gelombang berikutnya untuk tidak mengabaikan latihan soal Bahasa Indonesia. Karena menurut Khaira, latihan soal dapat membantu siswa membiasakan diri memahami bacaan dan mengenali pola pertanyaan.
“Menurut aku kalian lebih banyakin aja latihan soal. Banyak banget try out sekarang yang gratis segala macam itu, menurut aku kalian ikutin aja,” kata Khaira.
Khaira pun mengingatkan peserta TKA gelombang berikutnya agar tidak mengesampingkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan tetap memperbanyak latihan soal.
“Menurut aku kalian jangan kayak mengesampingkan latihan, apalagi kayak misalnya cuma Bahasa Indonesia. Tapi menurut aku itu perlu latihan sih karena pemahaman dari Bahasa Indonesia itu perlu dilatih dengan kita banyak latihan soal,” pungkas Khaira.
