Cerita Siswa Keracunan MBG di Bandung Barat: Mual-Tangan Kram Tak Bisa Bergerak

Salah satu siswa korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Cipongkor Kabupaten Bandung Barat hari ini mengalami kram tangan hingga tidak bisa bergerak usai menyantap hidangan MBG. Peristiwa ini dialami Ikhsan (17), siswa SMK Karya Perjuangan.
Ikhsan mengatakan, sekitar 15 menit usai menyantap MBG, dia merasakan tubuh lemas, mual, pusing, hingga kram tangan dan tidak bisa digerakkan.
"Tadi yang pertama tuh, badan lemas, terus banyak keringat dingin yang keluar, sama mual, pusing nggak jelas. Pas lama-kelamaan, udah kayak tangan tuh udah mau kram. Pas baru datang ke sini langsung kayak nggak bisa digerakin tangan tuh," ucap Ikhsan di Kantor Kecamatan Cipongkor, Rabu (24/9).
Kasus keracunan di Cipongkor hari ini merupakan keracunan jilid 2. Jilid 1 terjadi pada Senin (22/9) bahkan dinyatakan sebagai KLB oleh Bupati Jeje Govinda.
Ikhsan menjelaskan, menu MBG yang dikonsumsinya berisi ayam tepung, tahu, sambal, stroberi, dan sayuran. Ia menyebut tidak ada yang aneh dari lauk yang dihidangkan, namun ia menemukan belatung pada stroberinya.
"Kalau dari ayam aman, soalnya saya perhatiin mulu kalau mau dimakan, dilihat-lihat dulu. Cuma stroberinya aja yang kayaknya ada belatungnya," kata Ikhsan.
Keracunan Jilid 1
Keracunan massal MBG di KBB jilid 1 terjadi pada Senin (22/9) yang menyebabkan 411 siswa dilarikan ke puskesmas dan rumah sakit. Status KLB ditetapkan.
Kasus keracunan jilid 2 hari ini berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) โ dapur penyedia MBG โ berbeda dari yang pertama.
Kepala Puskesmas Cipongkor, Yuyun Sarihotimah, mengatakan kasus keracunan pertama berasal paket makanan produksi SPPG Yayasan Rajib Putra Barokah dengan nama Dapur Makmur Jaya di Kampung Cipari, Desa Cijambu, Cipongkor.
Sedang keracunan jilid 2 makanan disuplai dari dapur MBG di Kampung Pasirsaji, Desa Sarinagen, Cipongkor.
"Untuk kasus baru ini berasal dari dapur berbeda. Karena dapur MBG ini (kasus hari ini) masih beroperasi," kata Yuyun, Rabu (24/9).
