Cerita Suporter Arema 2 Jam Terjebak di Stadion Kanjuruan: Penuh Gas Air Mata

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
6
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana kerusuhan dipertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022. Foto: Putri/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Suasana kerusuhan dipertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022. Foto: Putri/AFP

Tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang memakan ratusan korban jiwa. Kerusuhan yang terjadi pada Sabtu (1/10) masih membekas di benak salah satu suporter Arema FC, Arief S (61).

Ia merupakan salah satu suporter yang selamat dari peristiwa kelam semalam. Menurutnya, pertandingan dengan skor 2-3 untuk kekalahan Singo Edan, sebutan Arema FC, membuat beberapa penonton turun ke lapangan.

"Usai pertandingan pemain Arema FC masih di lapangan untuk meminta maaf kepada penonton, setelah itu penonton Arema beberapa masuk dengan official, akhirnya bersalaman. Tapi, teman-teman dari tribun menyusul mengungkapkan kekecewaan karena pemain mainnya kurang greget," ujar Arief kepada kumparan, Minggu (2/10).

Arief menyebut, kerusuhan belum meledak saat penonton mulai turun. Tak lama, beberapa botol minum dilempar dan bertebaran di pintu masuk ruang ganti bersamaan dengan petugas kepolisian yang membawa para pemain masuk ke dalam.

Bentrok kemudian terjadi antara polisi dan suporter. Arief menduga, polisi kewalahan dan memilih untuk melakukan kekerasan dengan memukuli suporter.

"Akhirnya banyak penonton ramai kacau dengan polisi dan tentara. Itu karena dipentungi ya Allah. Sebetulnya polisi nggak boleh sekeras itu, lah, itu menyalahi SOP, harusnya di 'halo' aja banyak tentara dan aparat, karena dikasari temennya ya akhirnya penonton lainnya (ikut)," tuturnya.

"Tapi dari penglihatan saya, suporter tidak memukul para pemain. Intinya, pemainnya mau dikritik saja karena mainnya kurang bagus," imbuhnya.

Suasana kerusuhan dipertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022. Foto: Putri/AFP

Setelah menyaksikan kerusuhan antara polisi dengan suporter, tak lama aparat keamanan menembakkan gas air mata ke dalam lapangan agar para suporter kembali masuk ke tribun.

Namun, imbuh Arief, tribun penonton pun menjadi sasaran penembakan gas air mata oleh kepolisian sehingga kerusuhan semakin membesar.

"Nggak tahunya di tribun penonton semua ditembaki (gas air mata). Saya ditembaki, itu jaraknya kurang lebih 15 meter, nggak cuma sekali, berkali-kali. Di tribun kan orang nggak anarkis cuma lihat saja kenapa ditembaki," ungkap Arief.

"Begitu ditembak itu perih sekali, itu otomatis bahaya begitu ditembak meledak seperti petasan. Akhirnya ya pada mengumpat polisi semua. Untuk apa kami ditembaki, itu salah. Malah kacau akhirnya, ramai diserang, terus orang-orang lompat itu, marah betul," imbuhnya.

Akibatnya, Arief dan ribuan penonton lainnya terjebak di dalam stadion sembari menahan pedihnya gas air mata. Tak sedikit orang tua, perempuan hingga anak-anak yang ikut terjebak.

Arief juga melihat sejumlah perempuan dan ibu dengan anaknya yang mencoba menyelamatkan diri namun justru berakhir terinjak-injak.

"Saya 2 jam terjebak di stadion itu. Di tribun ada ibu bawa anak juga, anak kecil banyak perempuan. Banyak yang pingsan, itu salah polisi, apa tembak gas air mata malah jadi kacau. Polisi kalau disalahkan nggak mau, saya bisa ngomong itu salah itu. Saya lihat betul, alami betul," terangnya.

"Kalau menghalau, ya, dihalau supaya nggak di lapangan, itu aja sebetulnya, nah karena di tribun ditembaki berkali-kali itu, ya, kacau," imbuhnya.

Tak ada evakuasi sigap dari panitia dan aparat

Sejumlah suporter menggendong korban terluka di stadion Kanjuruhan pada kerusuhan dipertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Malang, Jawa Timur pada 1 Oktober 2022. Foto: AFP

Arief menyebut, selama 2 jam terjebak ia dan ribuan suporter lainnya tidak berdaya menahan gas air mata. Sebagian memilih bertahan di tempat mereka masing-masing, namun tak sedikit juga yang berhamburan karena berusaha menyelamatkan diri.

Namun, menurut Arief, pintu keluar justru tidak segera dibuka, kepolisian dianggap tidak segera melakukan proses evakuasi.

"Selama dua jam itu pintu keluarnya malah masih disekat-sekat. Banyak yang panik, kan pintunya kecil. Polisi nggak segera melakukan evakuasi. Harusnya pintunya dibuka total, ini berarti kurang mengantisipasi," ungkapnya.

"Orang-orang panik juga ditembaki, kan, ya, pusing mau keluar nggak mampu, ya, diinjak-diinjak," tambah Arief.

Setelah dua jam terjebak itu, Arief dan suporter lainnya akhirnya berhasil keluar dari stadion. Ia menyaksikan ada dua mobil yang dibakar dan kerusakan lainnya di sekitar stadion.

Sebuah mobil polisi terbalik akibat kericuhan usai pertandingan BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jatim, Minggu (2/10/2022). Foto: ANTARA FOTO/H Prabowo

Ia pun berharap kejadian nahas tersebut tidak terulang dan berpesan agar aparat keamanan bisa bertugas sesuai dengan SOP.

Dalam aturan FIFA Stadium Safety and Security Regulations, penggunaan gas air mata memang dilarang. Aturan tersebut tertulis pada pasal 19 b), 'No firearms or "crowd control gas" shall be carried or used' atau 'Tidak ada senjata api atau 'gas pengendali massa' yang boleh dibawa atau digunakan'.

"Saya mengimbau pihak berwajib, kalau menangani sesuatu permasalahan tolong jangan bertindak brutal. Penanganan itu bisa dikendalikan, kalau dikasari, ya, bisa lebih kasar. Kan polisi sebagai pengayom masyarakat. Kalian harus bertanggung jawab, terutama kepada keluarga yang meninggal," tandasnya.