Cerita Tentang Putri Keraton Yogya yang Hobi Naik Becak

Sosok putri Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, kini sedang menjadi pembicaraan media sosial. Video candid dirinya tengah menaiki becak di kawasan Malioboro beredar luas.
Salah satunya diunggah akun Instagram @jogjaistimewa. Banyak warganet yang kemudian berkomentar dan mengagumi sisi sederhana GKR Bendara.
Saat ditanya perihal tersebut, GKR Bendara mengaku tidak mengetahui siapa orang yang mengambil video dirinya. Dia juga tak menyangka video tersebut menjadi viral, sebab selama ini memang cukup sering naik becak untuk beraktivitas.
“Sebisa mungkin saya menghindari Malioboro, karena memang terlalu penuh, tapi kebetulan itu ada rapat di DPRD pas Selasa Wage. Nah karena tidak ada kendaraan, adanya cuma becak gitu jadi hanya kebetulan saja, kok jadinya viral saya juga bingung,” ujar GKR Bendara ditemui di kompleks DPRD DIY, Kota Yogyakarta, Kamis (5/9).
Melalui akun Instagramnya @gkrbendara, putri bungsu Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X itu juga sering membagi cerita kesehariannya, termasuk naik becak. Uniknya, tak jarang tukang becak yang ditemui tak mengetahui GKR Bendara merupakan putri keraton.
“Saya berangkat dari rumah ke Malioboro juga naik becak, kalau yang dari rumah ke Malioboro tahu (bahwa putri keraton), karena sudah biasa di situ. Tapi kalau yang dari Malioboro pulang ke rumah enggak tahu,” ujarnya.
Bendara mengatakan becak masih relevan jadi transportasi di perkotaan. Dia mencontohkan, becak jauh lebih nyaman untuk perjalanan jarak dekat dibanding mengendarai kendaraan pribadi.
“Sering sih (naik becak) kalau memang dekat saja lebih baik pakai becak, apalagi kalau di kawasan kota kan parkir susah. Jadi kalau mau ke Wijilan, ada pojokan ada gorengan itu, (ke sana) pakai becak aja lebih mudah lebih gampang,” ungkap GKR Bendara.
Kepada generasi muda, dia berpesan agar tidak malu terhadap sejarah dan tradisinya. Anak muda harus bangga dengan bahasa Jawa, serta transportasi tradisional seperti becak dan andong.
“Yang pasti tidak boleh malu terhadap sejarahnya tradisinya. Itu tidak boleh malu bahkan kita harusnya bangga dengan bahasa Jawa, dengan naik becak, naik andong. Itu bukan masalah zaman dahulu atau bagaimana, tapi yang perlu kita uri-uri (melestarikan),” pungkasnya.
