Cerita Tim SAR Flying Camp Tunggui Jenazah Pendaki Brasil di Gunung Rinjani
·waktu baca 2 menit

Anggota SAR Unit Lombok Timur, Syamsul Padhli, menceritakan momen flying camp saat evakuasi jenazah Juliana De Souza Pereira Marins (27 tahun), pendaki asal Brasil di Gunung Rinjani.
Syamsul bersama petugas SAR lainnya berhasil menemukan korban pada Selasa (24/6) sore di tebing kedalaman sekitar 600 meter. Dengan kondisi tebing yang terjal serta cuaca yang tidak mendukung, mereka sepakat mengevakuasi jenazah keesokan harinya.
Mereka lalu memutuskan bermalam menunggui korban pada hari itu dengan mencari area flying camp untuk mengamankan diri.
"Setelah itu kita buat anchor amankan diri. Setelah sudah aman, makan malam terus istirahat. Korban kita biarkan, paginya baru kita sentuh, kita packing (memasukkan korban ke kantong jenazah). Jaraknya kita 3 meter dengan jenazah. Pagi baru kita sentuh," kata Syamsul kepada kumparan, Kamis (26/6).
Bebatuan Lepas di Tebing
Ia mengungkapkan sempat muncul perasaan takut ketika bermalam dengan posisi flying camp. Sebab, banyak bebatuan lepas di tebing tersebut.
"Kalau posisinya kayak begitu ya tumben itu, karena banyak longsoran batu, posisinya kita agak miring terus batuan-batuan lepas gitu," ungkapnya.
"Untungnya ada pengaman karena melorot kita. Bangun-bangun melorot, pindah lagi begitu posisi kita. Iya (ngeri) itu tempat ngecampnya," lanjutnya.
Selain itu, ia juga merasa sedih saat pertama kalinya melihat kondisi jenazah.
"Kalau takut enggak karena sudah biasa kita bersama mayat dengan jenazah. Kita sedih saja karena kondisinya (korban) begitu. Tadinya kalau dia tidak bergerak masih bisa kita selamatkan lah," ujarnya.
Kemudian, keesokan harinya, Syamsul dan petugas lain mulai mengevakuasi dengan memasukkan korban ke kantong jenazah kemudian dibawa dengan tandu dan dikaitkan ke tali yang telah dirangkai.
"Kita tarik bertiga dulu, kan kita berempat, satu mendampingi korban kalau ada tempatnya nyangkut, yang tiga narik. Setelah mentok di dinding baru naik kita rescuer tiga orang naik yang satu mendampingi korban. Baru kita tarik ber enam dari atas," katanya.
