Cerita TKA Siswa SMA di Denpasar: Soal-soalnya Agak Susah, Harus Rutin Latihan
·waktu baca 3 menit

Suasana sepi dan tenang menyelimuti SMAN 7 Kota Denpasar, Jalan Kamboja, Provinsi Bali, Selasa (4/11). Tak terdengar suara riuh para pelajar, baik di lapangan maupun di ruang kelas.
Hal ini karena seluruh siswa kelas XII sedang mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA).
Komang Dharma Prya Gunaksara (17), siswa kelas XII A, mengaku soal-soal TKA cukup sulit. Ia terpaksa membaca secara perlahan dan berkali-kali untuk memahami soal serta berusaha menjawabnya dengan baik.
“Kesannya sama TKA itu, ternyata soal-soalnya agak susah. Soalnya benar-benar harus dibaca sampai dua-tiga kali,” katanya di sela-sela mengikuti TKA.
Dharma sudah beberapa kali mengikuti ujian di tempat bimbingan belajar untuk mempersiapkan ujian kelulusan dan masuk perguruan tinggi. Menurutnya, soal-soal dalam TKA lebih sulit dibandingkan soal Ujian Nasional (UN).
Jenis soal dalam TKA sebagian besar dirancang untuk menguji kemampuan berpikir kritis dengan konsep numerik, logika, dan spasial. Sementara soal UN lebih mudah dipahami walau tetap memiliki unsur logika dan spasial.
“Yang sulit itu misalnya matematika, karena pilihannya ada ganda kompleks (jawaban benar bisa lebih dari satu). Jadi harus dicoba satu-satu pilihannya, ini benar atau ini salah,” sambungnya.
Dharma mengaku gugup saat mengerjakan soal matematika. Dalam waktu 50 menit, ia harus menjawab 25 soal. Ia berharap pemerintah bisa menambah waktu menjadi sekitar 60-70 menit agar siswa memiliki cukup waktu untuk berpikir dan menjawab.
Sementara itu, siswa kelas XII B, David Hanaka (17), memberikan sejumlah tips agar bisa menjawab soal dengan baik, yakni rajin mempelajari soal latihan atau kisi-kisi saat simulasi. Menurutnya, banyak soal ujian yang mirip dengan soal latihan.
“Tipsnya ya rajin pelajari soal yang sudah keluar waktu simulasi, terus kisi-kisi yang dikasih itu dibaca dan dipelajari, karena menurut saya yang di kisi-kisi itu banyak tipe-tipe yang keluar,” ujarnya.
Baik Dharma maupun David bersyukur TKA tidak menjadi syarat kelulusan sekolah. Bagi mereka, TKA bisa menjadi bentuk latihan untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.
Dharma memilih kimia dan biologi sebagai mata pelajaran pilihan untuk persiapan mendaftar jurusan Medicine di Institut Pertanian Bogor (IPB), sedangkan David memilih PKN dan sejarah untuk jurusan Ilmu Hukum.
Di tempat yang sama, Kepala Sekolah SMAN 7 Denpasar, Cokorda Gede Anom Wiratmaja, mengatakan ada 495 siswa yang mengikuti TKA selama empat hari, yakni mulai 4 sampai 6 November 2025.
Sekolah membagi pelaksanaan TKA menjadi dua gelombang karena keterbatasan komputer dan laptop. Setiap gelombang dibagi menjadi tiga sesi, dimulai pukul 07.00 WITA hingga 17.00 WITA.
Meski tidak wajib, seluruh siswa memilih tetap mengikuti TKA untuk mengantisipasi persyaratan masuk universitas. Pihak sekolah telah melakukan sosialisasi dan bimbingan sejak awal tahun ajaran baru 2025/2026.
“Dari sekolah, kami menyampaikan ke anak-anak sesuai arahan menteri bahwa ini tidak wajib. Tapi kan kita nggak tahu nanti kalau mereka membutuhkan ini. Kita kasih pengertian saja. Yang jelas, ini tidak menentukan kelulusan, tapi untuk mengukur sejauh mana pencapaian pembelajaran mereka selama hampir tiga tahun,” ujarnya.
“Jadi ya seperti itu kami sampaikan, ternyata anak-anak semuanya ikut,” katanya.
