Cerita Volunteer Asian Games: Dekat dengan Impian Meski Dapat Makian

Tekun, cekatan, ramah, selalu tersenyum, dan wajah yang tak mengenal lelah, merupakan syarat wajib yang harus dimiliki para volunteer Asian Games 2018.
Jika Anda sempat menonton langsung gelaran Asian Games 2018, mungkin Anda tidak asing dengan sosok yang memenuhi syarat-syarat tersebut di sekitar venue Asian Games 2018. Mereka biasanya berbaju oranye, kuning, atau biru, berjaket putih, dengan celana berwarna cokelat, dan sebagian dari mereka mengenakan topi biru tua.

Ya, mereka adalah relawan yang direkrut Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) untuk memudahkan dan memperlancar penyelenggaraan Asian Games 2018 yang ditugaskan sebagai Liaison Officer (LO), Protocol Assistant, NOC Assistant, hingga Work Force.
Tidak bisa dipungkiri, keberhasilan penyelenggaraan Asian Games 2018 juga berada di tangan 15.000 orang yang mengorbankan tenaga dan waktunya untuk menyukseskan Asian Games yang digelar kedua kalinya ini di Indonesia.
Tapi apakah menjadi volunteer Asian Games merupakan pekerjaan yang mudah? Tentu tidak!

Para relawan Asian Games mempunyai beban yang berat. Selain ditugaskan INASGOC untuk membantu para atlet dan tamu undangan, mereka juga ditempati di barisan paling depan untuk menghadapi para penonton yang mengeluhkan berbagai macam fasilitas yang disediakan, mulai dari kedatangan bus di Senayan yang tidak sesuai jadwal hingga masalah tiket yang paling disorot selama penyelenggaraan Asian Games 2018.
Berstatus Relawan, Tidak Mengharapkan Honor

Meski tidak mengharapkan honor dan banyak mendapatkan dampratan, hampir tidak ada raut wajah para volunteer yang terlihat lelah atau marah menghadapi keluhan dan makian para penonton. Sebab tujuan mereka menjadi volunteer bukanlah mencari pundi-pundi rupiah, melainkan merasakan kesempatan yang mungkin hanya akan datang sekali dalam seumur hidup.
Tak sedikit juga yang ingin menjadi volunteer untuk alasan lain, seperti ingin lebih dekat dengan impian mereka. Hal inilah yang dirasakan Putri Ramadhan, salah satu volunteer Asian Games 2018 yang bertugas sebagai Volunteer Sports Department Wanita asal Jambi ini mengaku beruntung menjadi relawan Asian Games 2018 karena ia bisa dekat dengan lintasan lari. Maklum, mimpinya untuk menjadi atlet lari sudah sirna karena cedera yang dialaminya.
"Sejak kecil saya bermimpi untuk menjadi atlet lari, tapi karena suatu keadaan membuat saya tidak bisa mencapai mimpi tersebut. Menjadi volunteer Asian Games 2018 membuat saya dekat dengan impian saya, dekat dengan lintasan lari," kata Putri Ramadhan yang berbagi kisahnya lewat tayangan YouTube #CeritaRelawan.
Tak hanya Putri, Abdullah Haryanto pun senang mendapat kesempatan menjadi volunteer Asian Games 2018. Pria kelahiran 1993 asal Sulawesi Tengah ini mengaku memiliki impian untuk bisa menjadi bagian penting dari Indonesia, tanah kelahirannya yang sudah memberikannya banyak ilmu. Kecintaannya terhadap Indonesia menggiring Abdullah terbang ke Jakarta untuk menyukseskan Asian Games 2018.
Putri dan Abdullah merupakan segelintir dari banyaknya sukarelawan yang patut diapresiasi karena mendukung suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018 secara sukarela, tanpa melihat imbalan yang diberikan. Tanpa kehadiran para volunteer, Asian Games 2018 mungkin tidak akan berjalan dengan lancar.
Story ini merupakan bentuk kerja sama dengan Asian Games 2018.
