Cerita Warga di Jaktim Sulap Sampah Rumah Tangga Jadi Kompos lewat Biopori Jumbo
·waktu baca 4 menit

Deretan tong berlubang tampak tertanam di dalam tanah di tengah permukiman RW 014 Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur (Jaktim). Di balik lubang-lubang itu, warga sedang mencoba mengubah cara mereka mengelola sampah rumah tangga.
Bukan sekadar biopori biasa, warga menyebutnya sebagai “biopori jumbo”. Tong-tong besar yang telah dilubangi pada bagian samping ditanam ke dalam tanah, lalu diisi sampah organik dari rumah warga, mulai dari sisa dapur hingga limbah rumah tangga sehari-hari. Satu tong digunakan untuk dua rumah.
Di kawasan yang dihuni sekitar 1.500 warga itu, biopori jumbo mulai tersebar di sejumlah titik. Warga berharap sampah organik tidak lagi berakhir di tempat pembuangan akhir, melainkan kembali menjadi kompos yang bermanfaat bagi lingkungan mereka sendiri.
Inisiatif tersebut mendapat perhatian Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung yang meninjau langsung lokasi pada Minggu (7/6). Menurut Pramono, metode yang dilakukan warga RW 014 dapat menjadi contoh penanganan sampah berbasis lingkungan di Jakarta.
“Kami mengapresiasi apa yang dilakukan oleh RW 014 dengan jumlah 6 RT ya, yang melakukan inisiasi untuk mengelola metode biopori jumbo untuk sampahnya. Mereka sebenarnya sudah melakukan sebelum Ingub Nomor 5 Tahun 2026 dikeluarkan,” kata Pramono.
Ia menjelaskan metode tersebut dinilai efektif membantu penguraian sampah organik di tingkat rumah tangga.
“Tapi dengan apa yang dilakukan pada hari ini dalam proses penyempurnaan, biopori itu rata-rata 3 bulan ya bisa (terurai) dan kalau ini bisa berjalan dengan baik, ini bisa menjadi role model percontohan untuk penanganan sampah yang ada di Jakarta,” ujarnya.
Pramono mengatakan Pemprov DKI saat ini tengah serius membangun sistem penanganan sampah dari berbagai sisi, mulai dari pengolahan di tingkat lingkungan hingga pengelolaan di Bantar Gebang dan RDF Rorotan.
“Saya sengaja ingin menunjukkan bahwa penanganan sampah bagi Pemerintah DKI Jakarta tidak dilakukan setengah hati. Kami secara sungguh-sungguh melakukan itu karena apa yang menjadi arahan Pemerintah Pusat bagi Pemerintah Jakarta pasti kita jalankan sepenuhnya, termasuk penanganan nantinya untuk Bantar Gebang, kemudian juga untuk Rorotan, dan juga penanganan di lapangan,” kata dia.
“Bahkan saya sudah menyetujui secara prinsip untuk Ciangir yang ada di Provinsi Banten digunakan untuk menampung kompos yang ada. Kalau itu bisa dilakukan secara menyeluruh, maka kurang lebih 9.000 ton sampah yang ada di Jakarta insyaallah akan tertangani,” lanjutnya.
Ia juga menyebut Jakarta Timur menjadi salah satu wilayah yang aktif menghadirkan berbagai inisiatif lingkungan.
“Jadi ini inisiatif warga. Kebetulan warga Jakarta Timur ini termasuk yang paling baik dalam menghadirkan inisiatif lingkungan. Yang pertama biopori jumbo ini. Yang kedua adalah pada waktu itu saya meresmikan untuk biogas,” ujar Pramono.
“Dan juga aktivitas lainnya untuk lingkungan, termasuk Jakarta Timur yang perlu diberikan apresiasi. Saya sengaja menyampaikan ini mudah-mudahan Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, iri sama Jakarta Timur,” tambahnya.
Menurut dia, keberadaan Instruksi Gubernur (Ingub) Nomor 5 Tahun 2026 membuat gerakan warga kini memiliki payung hukum yang lebih kuat.
“Dan secara khusus untuk menyangkut biopori di Jakarta Timur ini dengan adanya Ingub menjadi ada payung hukum yang lebih sempurna. Maka kenapa kemudian bioporinya jumbo, satu biopori itu untuk dua rumah,” katanya.
Sementara itu, Ketua RW 014 Kelurahan Pondok Kelapa, Teuku Husaini, mengatakan pemilahan sampah sebenarnya sudah dilakukan warga sejak tiga tahun terakhir. Namun setelah adanya Ingub, pengelolaan sampah dilakukan lebih serius melalui pembangunan biopori jumbo.
“Sebelum ada Ingub Nomor 5 Tahun 2026, kita sudah milah sampah dari tiga tahun yang lalu. Untuk milah ya. Memang belum sempurna, ya. Tapi kita sudah coba mulai. Dengan adanya Ingub ini kita lebih serius lagi, sampai bikin biopori, biopori jumbo,” kata Teuku.
Menurutnya, seluruh sampah organik rumah tangga nantinya akan dimasukkan ke dalam tong-tong yang tertanam di tanah tersebut.
“Jadi kita harap nanti sampah organik, sampah dapur, sampah rumah tangga itu bisa masuk ke dalam itu, jadi nol sampah kita. Dan saya punya rencana juga, jangan sampai nanti ada tong sampah lagi di sini. Mau saya hilangin tong sampah,” ujar Teuku.
“Semua dalam tanah. Itu untuk SOD, sampah dapur organik namanya,” tambahnya.
Sementara untuk sampah anorganik seperti botol plastik dan kardus, warga sudah memiliki sistem bank sampah dan pengepul sendiri.
“Kalau sampah anorganik seperti botol Aqua, kardus, itu punya nilai jual. Itu enggak ada masalah,” ungkap Teuku.
“Udah ada bank sampah dan udah ada pengepulnya. Itu enggak mungkin diangkut ke Bantar Gebang. Bantar Gebang hanya sekarang residu saja. Jadi kita mengharap nanti nol, enggak ada sampah, jadi semua itu ada nilainya,” lanjut dia.
Kompos hasil penguraian sampah organik nantinya akan kembali digunakan untuk ruang hijau di lingkungan RW.
“Yang organik kita kembalikan ke taman, ini kan PTU nih. Ini ada PTU ada empat titik kita. Jadi begitu dua bulan atau lebih kurang, nanti komposnya kita ambil, kita masukkan ke tanaman taman kita,” kata Teuku.
Saat ini, RW 014 tengah membangun 130 titik biopori jumbo. Jumlah tersebut rencananya akan terus ditambah.
“Rencananya sekarang yang kita lakukan 130. Nanti rencananya saya nambah lagi sekitar 200 lah,” pungkasnya.
