Cerita Warga Evakuasi 1.000 Jenazah Korban Tsunami Aceh 16 Tahun Silam

Kemukiman Krueng Raya, Aceh Besar, menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak terparah akibat gempa dan tsunami Aceh. Amukan bencana alam 16 tahun lalu, meluluhlantakkan seluruh desa.
Lindu Minggu pagi 24 Desember 2004 mengejutkan seluruh warga Desa. Mereka berlari berhamburan keluar rumah. Disusul suara dentuman yang terdengar begitu keras.
“Waktu gempa terjadi masyarakat bertanya-tanya karena saat gempa terdengar suara dentuman mirip suara tembakan senjata di arah selatan. Kami kira siapa orang yang masih berperang di tengah kondisi seperti ini. Karena saat itu Aceh masih konflik,” ujar Kepala Desa (Geuchik) Gampong Meunasah Mon, Sofyan JH.
Tak lama kemudian air laut perlahan mulai menghampiri desa. Masyarakat mulai panik, lantunan ayat Al Quran tak henti diucapkan. Hingga akhirnya gelombang besar mengempaskan seisi desa.
Sofyan JH menceritakan, detik-detik sebelum gelombang menelan desa air laut sempat naik beberapa kali atau secara bergelombang ke desa mereka. Kemukiman Krueng Raya terdiri dari 8 desa, air laut baru benar-benar menghabiskan desa, usai gelombang pertama surut yang kemudian disusul gelombang kedua menyebabkan kerusakan cukup parah.
Tak dapat terelakkan hantaman ombak menghancurkan seluruh bangunan di Kemukiman Krueng Raya. Hanya Masjid Miftahul Jannah bisa berdiri tegak hingga saat ini.
“Landasan iman kepada Allah membuat masyarakat tetap kuat hingga bisa bangkit. Jika dulu duduk, kemudian berdiri, sekarang masyarakat sudah bisa berlari,” kenangnya.
Menurut Sofyan, sebelum tsunami masyarakat Kemukiman Krueng Raya berjumlah sekitar 17.000 orang. Namun, pasca bencana besar itu 2.500 orang meninggal dan hilang.
Kini jumlah masyarakat yang dominannya bekerja sebagai nelayan sekitar 16.200 orang. Jika sebelum tsunami rata-rata rumah masyarakat terbuat dari kayu, sekarang lebih layak karena terbuat dari beton bantuan pascatsunami.
Warga Kemukiman Krueng Raya dikenal sangat kental menerapkan ajaran Islam. Bahkan, pascagempa dan tsunami 16 tahun silam, mereka mengevakuasi sebanyak 1.000 jenazah dan melaksanakan seluruh Fardu kifayah.
Penggalian kubur awalnya digali secara manual sebelum menggunakan bantuan alat berat. Pada saat itu masyarakat dari Lamteuba dan Montasik, Aceh Besar, ikut membantu dalam proses evakuasi dan fardu kifayah terhadap jenazah korban tsunami.
“Alhamdulillah, dari musyawarah dengan orang tua, teungku-teungku selamat dari tsunami memutuskan melaksanakan Fardu kifayah terhadap korban meninggal. Kita laksanakan prosesnya terhadap 1.000 jenazah selama sebulan. Ketika itu kondisi kami memungkinkan melaksanakannya,” kenang Sofyan.
Setelah 16 tahun tsunami Aceh berlalu, Sofyan berharap kondisi pendidikan, keagamaan, dan ekonomi masyarakat Aceh ke depannya semakin baik.
Layanan Pengobatan Gratis
Dalam rangka momen peringatan 16 tahun tsunami Aceh, Sabtu (26/12), masyarakat Krueng Raya mendapatkan layanan kesehatan gratis dari Aksi Cepat Tanggap (ACT).
Kegiatan itu dilaksanakan ACT Aceh bersama puluhan relawan baik dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI), BKM Masjid Miftahul Jannah, DJP KPP Pratama Banda Aceh, dan Himpunan Mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).
Lebih 100 pasien ikut berobat mulai dari kalangan dewasa, lansia, dan anak-anak terlihat begitu antusias mendapatkan pengobatan dari relawan medis dokter, perawat, dan apoteker, serta mendapatkan obat gratis. Di antara mereka banyak mengalami darah tinggi dan asam urat. Sementara dari kalangan anak-anak batuk pilek.
Selain layanan kesehatan, ada beberapa kegiatan lainnya seperti penyaluran paket pendidikan kepada anak yatim, operasi makan gratis, penyaluran paket pangan, meuseuraya (gotong royong), dan penyaluran barang layak pakai.
Kepala Cabang ACT Aceh, Lisdayanti menuturkan, bencana gempa dan tsunami 16 tahun sudah berlalu. Kita harus memetik hikmah dengan siap siaga terhadap bencana, meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dan pentingnya persatuan agar bisa bangkit usai ditimpa musibah.
“Aksi kemanusiaan hari ini kita laksanakan sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat. Alhamdulillah, pascatsunami ACT bisa terlibat membantu mengevakuasi korban meninggal maupun membantu korban selamat,” kata Lisdayanti dalam keterangannya.
Ia menuturkan, melalui momentum peringatan gempa dan tsunami Aceh mudah-mudahan kita semakin tabah, sabar, bertambah kuat keimanan, dan semakin erat persatuan memajukan Aceh. Korban meninggal semoga mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah.
“Bukan saatnya lagi memikirkan diri sendiri. Kita bangkit bersama memajukan Aceh. Mari ambil peran,” imbuhnya.
