Cerita Warga Menyusuri Banjir Kanal Barat: Melihat Sisi Lain Ibu Kota Jakarta
ยทwaktu baca 4 menit

Di tengah gemuruh Ibu Kota, di antara gedung kaca dan hiruk-pikuk Jalan Sudirman, ada sebidang sunyi yang sering luput dari perhatian: aliran Banjir Kanal Barat yang mengalir pelan di sisi Stasiun BNI City. Dari titik inilah, tiap dua minggu sekali, sebuah cerita baru bermula.
Kegiatan susur sungai itu digagas Yayasan Khatulistiwa Respon Tim sejak empat tahun lalu. Tujuannya sederhana, mengajak masyarakat mengenal sungai Jakarta dari jarak sedekat-dekatnya. Tidak hanya melihat, tapi juga menyentuh, mencium, dan memahami.
Agenda mereka adalah susur sungai dan edukasi sungai. Semuanya gratis, tanpa pungutan apa pun.
Pengunjung boleh berdonasi lewat rekening resmi yayasan. Pengumuman jadwal biasanya muncul di Instagram @responseteam.id, tempat warga menunggu kapan perahu kembali diturunkan.
Calon peserta cukup datang ke Jakarta Creative Zone Riverview by jxb di sebelah Stasiun BNI City. Relawan sudah menyiapkan helm dan pelampung, seolah kota yang keras ini tiba-tiba punya ruang kecil yang lembut.
Satu perahu karet memuat enam hingga delapan orang. Ketika tali dilepaskan, perahu bergerak perlahan, membelah air yang memantulkan bayangan gedung pencakar langit.
Kapten kapal mempersilakan siapa pun bertanya tentang apa saja: arus, pintu air, sampah, atau kisah-kisah kecil yang cuma ia yang tahu.
Bagi sebagian warga, pengalaman ini terasa benar-benar baru. Termasuk Fiqri Abdi, 24 tahun, seorang karyawan swasta yang akhirnya bisa menuntaskan rasa penasarannya.
"Sebelumnya pernah diadain ya minggu sebelumnya pas ada kegiatan sama Sobat Air Jakarta ya. Nah taunya di situ. Waktu itu pengen ikut tapi belum ada kesempatan. Terus ada share baru dari Instagramnya edukasi sungai. Nah taunya dari situ sih infonya," kata Fiqri saat ditemui kumparan, Minggu (16/11).
Ia hanya ingin melihat Jakarta dari sisi yang tidak pernah ia lihat selama ini.
"Karena pengen tau juga sih seperti apa kondisi sungai di Jakarta. Terus kan kita kan cuma bisa liatnya dari jalan ya. Nah ini kan mungkin bisa diliat juga secara langsung bagaimana ternyata kondisi sungai di Jakarta. Dan sudah tercemar banget sama sampah-sampah di sini," ucapnya.
Bagi Fiqri, pengalaman itu membuka ruang baru untuk memikirkan hubungan warga dengan lingkungan mereka.
"Ya harapannya mungkin kegiatan-kegiatan kayak gini tuh lebih banyak ya. Supaya masyarakat tuh lebih teredukasi lagi terkait bagaimana kayak lebih peduli pada sungai. Membuang sampah pada tempatnya. Dan juga mungkin lebih menjaga sungainya kayak gitu. Tidak cuma dengan membuang sampah tapi juga kayak tidak membuang kaya air cucian langsung ke sungai. Kayak gitu-gitulah yang bisa mencemari sungainya," jelas dia.
Ia menyebut kegiatan ini berbeda dari edukasi lingkungan biasanya.
"Ya sebuah aktivitas yang baru juga sih bagi saya. Maksudnya baru pertama kali liat ada edukasi yang memang langsung ke sungainya. Biasanya kan mungkin edukasi tuh banyak kita denger kayak workshop-workshop aja di ruangan. Ini kita benar-benar bisa langsung liat kondisi realnya kayak gitu. Jadi lebih realistis lah dilihatnya," tambahnya.
Sementara itu, Ade Kocil, pendiri Yayasan Khatulistiwa Respon Tim, menyimpan mimpi yang lebih besar: sungai kembali hidup sebagai jalur transportasi.
"Kita ngadain kegiatan edukasi sungai ini dengan harapan sungainya ke depan bisa jauh lebih baik dan bisa dimanfaatkan untuk masyarakat. Salah satunya dengan diaktifkan kembali transportasi air dengan menggunakan perahu karet atau kapal yang lebih kecil dibanding yang dahulu," kata Ade.
Dalam bayangannya, sungai bukan lagi sekadar saluran air, tetapi sarana mobilitas yang efisien.
"Kita bisa bayangin kalau kapal-kapal ini kaya jadi angkot di jalan raya banyak tapi memang aktif bulak-balik nganterin masyarakat yang mau berangkat kerja atau pulang kerja. Karena terkoneksi dengan stasiun kereta api Manggarai, Sudirman, termasuk dengan LRT dan MRT. Kayaknya cukup efektif jika dimanfaatkan kembali oleh Pemda," ujarnya.
Di tengah gedung dan jalan yang tak pernah tidur, Banjir Kanal Barat membuka kesempatan untuk melihat kota dari permukaan airnya, mengingatkan bahwa Jakarta bukan cuma tentang kemacetan, tetapi juga tentang ruang-ruang yang masih ingin didengar.
