Cerita Warga Muara Angke Tetap Kebanjiran meski Cuaca Terik: Ini Mah Biasa

Genangan air setinggi mata kaki menggenang di Jalan Dermaga Ujung II Blok Empang Muara Angke, Pluit, Penjaringan, Jakarta Utara, Senin (2/6) siang. Padahal matahari tengah panas-panasnya, ditambah tak ada tanda hujan. Namun air tetap menggenang, keluar dari got-got kecil di sekitar jalan. Sebuah pemandangan yang biasa buat mereka.
Jalanan yang basah itu menurut warga sekitar merupakan sisa dari banjir rob yang menjadi langganan di kawasan itu. Terutama bagi warga-warga di RT 10 dan 5.
“Kalau cuma segini mah enggak dianggap banjir. Ini mah biasa,” kata Mina, warga RT 10 yang rumahnya berada beberapa meter dari jalan.
Mereka bahkan tak lagi kaget bila air laut naik ke permukaan, khususnya saat bulan terang—periode tanggal 1 hingga 15 setiap bulan.
“Batasnya kadang lima hari, kalau Bulan terang aja sih. Kalau tempat di sini mah harus hati-hati aja,” tambah Mina sambil tersenyum pahit.
Namun saat rob datang lebih besar dari biasanya, air bisa masuk rumah, merusak perabot.
“Itu freezer sampe berapa kali saya servis,” katanya soal kerugian yang tak sedikit.
Warga masih mengingat banjir rob besar terakhirnya, Desember 2024, menjelang tahun baru. Debit air naik sampai sepinggang orang dewasa, menenggelamkan jalan dan merembes ke rumah-rumah.
Wiwi (45), warga RT 10 yang telah tinggal di kawasan itu sejak 2009, mengaku rob sebenarnya tidak terjadi setiap hari, tapi intensitasnya meningkat. Ia menyaksikan transformasi lingkungan di sekitarnya.
“Tahun 2009 mending enggak seperti sekarang, karena 2009 belum ada bangunan. Masih alami [rumah] panggung-panggung. Semenjak jadi pemukiman dicor kayak gini,” tuturnya.
Perubahan fisik wilayah juga dirasakan Sabna (29), warga yang tinggal di RT 10 sejak 2006. Ia mengatakan rob semakin sering sejak kawasan belakang rumahnya yang dulu laut, kini sudah berubah menjadi area pemukiman dan di lautnya ada reklamasi.
Ia menyebut rumah-rumah di belakang tempat tinggalnya kabarnya akan digusur demi pembangunan tanggul, penghalang rob yang merayap ke daratan.
Dahulu, katanya, belakang rumah dia adalah empang yang kemudian dibatasi tanggul. Namun kini sudah berubah menjadi pemukiman warga usai tanggul dijebol.
Jejak tanggul lama yang dijebol itu masih bisa dilihat sampai sekarang.
Darsinah (65), warga RT 5 lain tinggal sekitar 5 meter dari jejak tanggul lama. Ia membenarkan cerita itu dan menunjukkan sisa tanggul tua yang katanya berasal dari era Presiden Soeharto.
Dari rumahnya, laut berjarak sekitar 100–200 meter. Banyak kapal nelayan bersandar di sana. Dulunya, ia bilang, rumahnya berdiri di atas empang yang diuruk.
“Dulu ini empang, setelah itu laut,” ucapnya.
Meski kawasan itu berkembang tanpa banyak perencanaan infrastruktur, rumah-rumah di sana kini memajang plakat resmi RT dan RW. Bukti bahwa mereka adalah bagian dari warga yang diakui.
Kondisi serupa juga diingat Hajah Juna (60), warga RT 5 yang kenal persis wilayah itu sejak 1977. Menurutnya, daerah yang dulu dipenuhi alang-alang itu berubah drastis sejak era Gubernur Fauzi Bowo.
“Alang-alang sama kita aja masih tinggian alang-alang,” katanya mengenang masa lalu.
Ia ingat tinggi tanggul zaman dulu yang memisahkan empang dan laut: dua meter. Kini, tak ada lagi tanggul seperti itu. Yang tersisa hanya banjir rob yang datang dan pergi sesuka hati di area yang padat penduduk dan kumuh.
Ketika ditanya soal harapan kepada pemerintah, Hajah Juna sedikit tertegun, lalu menjawab dengan nada getir.
“Ah, enggak tahu mau diapain. Rakyat kecil mah tinggal nurutin aja," tutupnya.
