Cerita Warga Panas Medan hingga 36 Derajat Celsius: Lemas, Jadi Banyak Minum
·waktu baca 2 menit

Warga Kota Medan beberapa hari ini merasakan siang hari lebih panas dari biasanya. Data BMKG mencatat, suhu udara Kota Medan kini mencapai 36,7 derajat Celsius. Padahal di bulan Juli, biasanya suhu rata-rata 32 derajat Celsius.
Para pekerja lapangan di Kota Medan mengeluhkan cuaca panas ekstrem ini. Seperti yang diceritakan oleh pekerja PDAM, Supriyadi.
“Cukup ekstrem, panas, anginnya pun cukup kencang,” ujar Supriyadi kepada kumparan, Senin (21/7).
Tak jarang para pekerja tersebut sering merasa lemas dan kelelahan saat bekerja, akibatnya ada yang lebih banyak minum air putih dari biasanya.
“Lemaslah karena kepanasan. Jadi lebih sering minum gitu. Kalau sampai pingsan sih, enggak. Cuman lemas aja,” ungkap kuli bangunan, Niki.
Meskipun tidak mendapatkan terlalu banyak kendala saat bekerja, warga Medan berharap cuaca dapat pulih dan kembali seperti biasanya demi kelancaran kegiatan mereka sehari-hari.
“Ya, harapannya ya cepatlah kembali pulih seperti biasanya. Enggak terlalu panas ya, enggak terlalu hujan ya, biasa-biasa aja,” ujar seorang satpam Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Supriyadi.
Penjelasan BMKG
Prakirawan Cuaca BMKG Wilayah I Medan Defri Mandoza mengatakan cuaca panas ini disebabkan oleh kondisi iklim Kota Medan yang dalam fase puncak kemarau.
“Cuaca panas di Kota Medan disebabkan kondisi iklim di Kota Medan dalam fase puncak musim kemarau, yang mana pertumbuhan awan sedikit dan durasi penyinaran matahari yang cukup tinggi, sehingga menyebabkan suhu tinggi atau panas di Kota Medan,” ucap Defri kepada kumparan.
Cuaca panas tersebut diperkirakan terjadi sampai bulan Agustus. Setelah itu panas mulai berkurang dengan peningkatan potensi curah hujan.
Mengingat suhu yang begitu ekstrem, BMKG kembali mengimbau masyarakat untuk mulai menjaga kesehatan dengan minum banyak air putih serta mengurangi kegiatan di luar pada siang hari.
“Diimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap suhu panas dan angin kencang di wilayah Sumatera Utara. Untuk itu masyarakat dapat mengurangi kegiatan di luar pada siang hari, memperbanyak minum air putih, dan waspada terhadap tingginya risiko kebakaran bangunan dan lahan,” ucap Defri.
