Cerita Warga saat Lahar Dingin Menerjang: Suara Gemuruh, Disangka Gunung Meletus

Material banjir lahar dingin Gunung Marapi di Sumatera Barat (Sumbar) berangsur mulai dibersihkan. Sejumlah alat berat dikerahkan di lokasi bencana.
Warga yang terdampak hanya bisa pasrah melihat kondisi rumah dan tempat usaha mereka luluh lantak diterjang bongkahan batu besar, kayu hingga lumpur. Terparah, bencana menerjang dua kabupaten yakni Tanah Datar dan Agam.
Data sementara 37 orang tewas, 17 orang lainnya masih dicari. Tim gabungan melanjutkan proses pencarian para korban.
Banjir lahar dingin ini menerjang begitu cepat di tengah gelapnya malam. Ditambah, kondisi ketika itu hujan lebat.
Mardizal, warga Koto Tuo, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, tak menyangka banjir lahar dingin separah ini. Namun ia masih bersyukur, istri dan anaknya selamat.
"Sudah kayak gini kondisinya (keadaan rumah). Anak sama istri, alhamdulillah kondisinya selamat," kata Mardizal, Senin (13/5).
Ia bercerita ketika detik-detik banjir lahar dingin menerjang. Saat itu sempat terdengar gemuruh begitu kencang. Awalnya dia mengira suara itu berasal dari erupsi Gunung Marapi.
"Dengar suara gemuruh, awalnya suara Marapi. Terus lari lewat pintu belakang. Banjir langsung besar. Itu jam setengah 10 malam," ujarnya.
Hal yang sama juga diutarakan warga lain, Mus (40). Rumahnya rusak cukup parah. Bahkan, satu unit mobilnya nyaris nyangkut di atap rumah.
"Warung, sepeda motor, mobil, habis semuanya," ucapnya.
Minta Doa Masyarakat Indonesia
Korban selamat lainnya, Linda Wati, meminta masyarakat Indonesia mendoakan seluruh korban bencana. Ia berharap, banjir lahar dingin ini tidak terjadi kembali.
"Doakan kami, mudah-mudahan ini yang terakhir. Jangan terulang lagi. Kami minta doa, biar selamat," pintanya.
Ia mengakui cukup histeris saat detik-detik banjir lahar dingin menerjang kampung halamannya di Nagari (Desa) Bukik Batabuah, Kabupaten Agam. Jeritan minta tolong, kata dia, terdengar keras.
"Jeritan korban itu, Ya Allah Ya Robbi. Minta tolong, minta tolong semua," katanya di posko pengungsian.
Linda menyebutkan terjangan banjir lahar dingin begitu cepat. Bahkan menurutnya, ini yang terparah dari bencana sebelumnya.
"Proses banjir lahar dinginnya begitu cepat. Lebih parah dari sebelumnya," pungkasnya.
