Cerita Warga Terjebak Banjir Padang: Bertahan di Loteng 3 Jam Bersama 6 Anak

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tim SAR dari Brimob Polda Sumbar mengevakuasi warga saat banjir bandang menerjang kawasan Lumin Park di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (10/10/2026). Foto: Fitra Yogi/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Tim SAR dari Brimob Polda Sumbar mengevakuasi warga saat banjir bandang menerjang kawasan Lumin Park di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (10/10/2026). Foto: Fitra Yogi/ANTARA FOTO

Tangisan enam anak memecah kecemasan di loteng sebuah rumah di Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumbar.

Di antara mereka, ada seorang bayi berusia tiga bulan dan seorang anak berusia tiga tahun. Air bah telah merendam rumah, sementara pertolongan yang dinanti tak kunjung tiba.

Ranti Dahlena (26) dan Wiwi (27) hanya bisa bertahan di loteng rumah bersama anak-anak tersebut. Mereka harus menunggu selama kurang lebih tiga jam sebelum akhirnya berhasil dievakuasi oleh Tim SAR gabungan.

instagram embed

Banjir yang melanda wilayah itu pada Sabtu (10/10) datang begitu cepat. Kesempatan untuk menyelamatkan diri dan membawa barang-barang berharga dari dalam rumah pun nyaris tidak ada.

Wiwi menceritakan, air mulai naik sekitar pukul 14.00 WIB. Awalnya, ia hanya melihat tanda-tanda kenaikan air di bagian belakang rumah. Tak lama kemudian, seorang teman ayahnya menelepon untuk memperingatkan bahwa air bah datang.

Wiwi, warga terdampak banjir di Padang, Senin (12/10/2026). Foto: kumparan

Namun, peringatan itu datang ketika situasi sudah mendesak. Dalam hitungan menit, air semakin membesar hingga mereka tidak sempat keluar rumah.

“Tidak sampai lima menit air besar. Tidak sempat keluar rumah,” kata Wiwi kepada wartawan, Senin (12/10).

Di tengah situasi yang semakin berbahaya, mereka memilih naik ke bagian atas rumah untuk menghindari terjangan banjir. Loteng menjadi tempat berlindung bagi Ranti, Wiwi, dan enam anak yang bersama mereka.

Warga menyelamatkan barang-barangnya saat banjir bandang menerjang Kampung Apa di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (10/10/2026). Foto: Fitra Yogi/ANTARA FOTO

Bukan tanpa persiapan, Ranti dan Wiwi ternyata sudah memiliki pengalaman menghadapi banjir sebelumnya. Ranti mengatakan, mereka naik ke loteng menggunakan tangga yang telah disiapkan sejak banjir bandang pada November 2025 yang antara lain dipicu siklon Senyar.

Pengalaman itu membuat mereka mengantisipasi kemungkinan air kembali naik. Namun, derasnya air kali ini tetap membuat mereka terjebak. Tidak ada kesempatan untuk menyelamatkan barang-barang dari dalam rumah.

Di loteng, kecemasan semakin terasa ketika enam anak yang bersama mereka terus menangis. Kehadiran bayi berusia tiga bulan dan anak berusia tiga tahun menambah kekhawatiran selama mereka menunggu pertolongan.

“Menangis semua. Sudah trauma,” ujar Ranti.

Mereka harus bertahan di loteng sambil menunggu tim penyelamat datang. Dalam keadaan tersebut, keselamatan anak-anak menjadi hal yang paling utama.

Ranti mengatakan, mereka baru berhasil dievakuasi sekitar pukul 17.00 WIB oleh Tim SAR gabungan. Setelah sekitar tiga jam bertahan di tengah kepungan banjir, mereka akhirnya bisa keluar dari situasi berbahaya tersebut.

Ranti Dahlena, warga terdampak banjir di Padang, Senin (12/10/2026). Foto: kumparan

Banjir itu menyisakan kerugian materiil yang tak sedikit. Tidak ada barang berharga yang berhasil diselamatkan dari rumah. Namun, di tengah keadaan yang mendesak, Ranti mengatakan keselamatan anak-anak jauh lebih penting dari harta benda.

“Tidak ada barang yang bisa diselamatkan. Paling utama diselamatkan anak-anak,” tuturnya.