Cerita Wedding Organizer: Gara-gara Corona, Banyak yang Nunda Resepsi Nikah

Virus corona yang mewabahi Indonesia membuat wedding organizer memutar otak untuk tetap bertahan. Banyak jadwal klien mereka terganggu, bahkan ada yang terpaksa menunda resepsi pernikahan untuk menghindari keramaian.
Seperti cerita yang dibagikan Ita, wedding planner dari Blend Wedding Organizer. Ita mengaku ada kliennya yang legawa untuk menunda resepsi karena tak mau mengambil risiko penularan yang kian meluas.
Apalagi Jakarta menjadi lokasi tertinggi penularan corona. Dari 369 kasus positif, 224 pasien berada di Jakarta. Disusul Jawa Barat dengan 41 penderita.
"Kebetulan per hari ini, Jumat, ada satu pasang klienku yang menunda dikarenakan wabah corona. Tapi untuk resepsinya saja. Untuk akad nikah di Depok, Insyaallah tetap berjalan dengan beberapa persyaratan yang cukup ketat dan pendampingan dari ahli medis," ujar Ita kepada kumparan.
Selain menunda, ada pula klien Ita yang meminta resepsinya dijadwalkan ulang hingga corona mereda. Seharusnya, kedua pasangan itu menikah di bulan April dan Juni di Jakarta.
"Saat ini, kedua pasangan tersebut langsung re-schedule acara hingga suasana kembali kondusif," tutur Ita.
Ita memastikan pihaknya akan mengutamakan kesehatan dan keselamatan klien jika pernikahan tetap ingin digelar sesuai jadwal. Yakni, dengan pengecekan suhu tubuh sebelum memasuki area resepsi, hingga menggunakan masker dan hand sanitizer di beberapa titik.
"Seperti area buku tamu dan di dalam lokasi acara. Di dekat pengantin kami sediakan juga. Tapi tidak di tangga naik pelaminan, karena tamu memberi ucapan selamat dari jarak min kurang lebih 1 meter," tuturnya.
Ita juga membuat aturan bagi para tamu untuk tidak melakukan kontak fisik. Bahkan sampai urusan makanan pun diganti menjadi nasi boks dibanding prasmanan yang lebih berisiko.
"Tidak ada kontak fisik seperti jabat tangan, berpelukan dan cium pipi. Jarak bangku tamu kurang lebih 1 meter antara setiap bangku. Makanan berupa nasi boks, untuk mencegah alat makan di meja prasmanan disentuh oleh banyak orang," ungkap Ita.
"Tidak diperkenankan meminta tolong orang lain mengambil foto dengan handphone pribadi. Tidak ada tamu undangan lainnya. Hanya keluarga inti yang tidak lebih dari 20 orang maksimal," sebutnya untuk akad nikah.
Permintaan acara pernikahan menurun
Virus corona yang menyebabkan COVID-19 tentunya membuat permintaan acara nikah menjadi sepi. Ita bercerita, ada banyak klien yang sedari awal sudah deal, akhirnya ditunda sementara.
"Karena rata-rata khawatir, ya, dengan kondisi saat ini," tuturnya.
Meski begitu, Ita sudah memikirkan nasib karyawannya. Dia memastikan karyawan saat ini tetap fokus untuk mengatur jadwal pernikahan yang sudah fixed berjalan.
"Saat ini kami juga working from home untuk koordinasi. Crew lainnya kebetulan sifatnya freelance. Jadi Insyaallah enggak ada masalah.
Cerita rias pengantin
Tak hanya Wedding Organizer, nasib serupa juga dialami Dian, Owner Sanggar Rias Pengantin Anisa Ayu. Dian mengaku banyak calon pengantin yang menunda resepsi sampai akhir lebaran Idul Fitri, atau sekitar bulan Juni.
"Kebanyakan yang mundur acara resepsinya saja. Tapi mereka tetap melangsungkan pernikahan 'akad nikah dulu' di tanggal yang mereka sudah pilih, tapi secara sederhananya, hanya akad nikah di rumah dengan keluarga inti, jadi enggak terlalu banyak orang," ucap Dian.
Meski begitu, ada juga pasangan yang tetap melanjutkan resepsi tanpa jadwal ulang. Mereka yang terpaksa melakukan itu lantaran telanjur menyebar undangan.
"Kalau yang pindah jadwal tadi belum sempat sebar undangan, jadi masih bisa untuk mundur ke bulan Juni," ucapnya.
"Saya sempat kasihan sama beberapa calon pengantin, pasti pusing, pasti bingung, tapi keadaannya yang tidak memungkinkan, sedangkan persiapan sudah matang sekali. Mereka sudah menyiapkan undangan, suvenirnya dan sudah fitting, prewedding, tapi harus menunda semua demi keamanan bersama," tambah Dian.
Padahal, Dian mengaku sudah memberikan tips agar kliennya tidak perlu khawatir akan corona jika menjaga kebersihan. Namun, mereka tetap ragu, terlebih tak dapat izin dari kepolisian.
"Tidak dapat izin dari kepolisian buat acara keramaian, karena ada yang acaranya ada dangdut besar, jadi akan ada keramaian, jadi calon pengantin tersebut lebih baik mundur karena tidak mau ambil risiko," tutur Dian.
Ada lagi kliennya yang belum ada rencana mengubah jadwal resepsi. Namun, meski mereka sudah menyiapkan hand sanitizer, calon pengantin tetap ragu apakah akan tetap menggelar resepsi di tengah wabah.
"Itu yang di daerah Jakarta Timur. Karena kebanyakan acara saya itu acara rumahan yang pakai tenda dan sampai malam," ujar Dian.
Kendati di tengah wabah, Dian bersyukur pendapatannya tidak menurun, dan tidak ada kliennya yang membatalkan janji, melainkan hanya menunda acara.
Ita justru prihatin dengan pegawai dan asisten riasnya yang tidak mendapat pemasukan jika panggilan rias sepi. Untungnya, mereka masih bisa dipekerjakan di sanggar.
"Tapi kalau perias tetap bisa bantu saya di sanggar, karena ada beberapa calon pengantin yang dirias untuk prewedding buat acara bulan Juni ( setelah lebaran). Tapi saya jaga kebersihan sanggar dengan menyemprot alkohol dan disinfektan, apalagi membersihkan semua alat make up yang setelah dipakai atau dipegang-pegang," ucapnya.
"Semoga corona cepat hilang," tutupnya.
