Cerita Yuli, Pedagang Pasar Barito yang Masih Berdagang di Ambang Relokasi
·waktu baca 3 menit

Matahari belum tinggi saat deretan kios di Pasar Hewan Barito, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulai menggeliat. Aroma pakan hewan dan suara kicau burung bersahut-sahutan di antara lalu lalang ramai kendaraan.
Di tengah riuh aktivitas, terselip kecemasan yang dirasakan para pedagang; kabar relokasi yang belum jelas arahnya.
Yuli (45), pedagang pakan dan hewan peliharaan, tampak duduk di depan kiosnya. Sejak 2004, ia dan suaminya menggantungkan hidup di Pasar Barito, Kebayoran Baru. Namun belakangan, isu relokasi ke Lenteng Agung membuatnya gamang.
“Sebenarnya sih agak khawatir ya cuma ya kita sih bersama-sama para pedagangnya, kita berjuang lah mas,” ucap Yulia saat ditemui kumparan di Pasar Barito, Senin (4/8).
“Kalau menurut saya, namanya relokasi itu kan harusnya sudah ada tempat ya, Mas ya,” tambahnya.
Ia mengaku sudah melakukan survei ke lokasi pengganti di Lenteng Agung. Yang ditemui bukan bangunan kios-kios, melainkan lahan kosong.
“Belum ada apa-apa, masih tanah kosong. Jadi itu namanya bukan relokasi,” ujarnya.
Yuli menyebut, hingga kini belum ada surat resmi dari pemerintah yang menyatakan tanggal pasti pemindahan, apalagi surat keputusan relokasi.
Ia mengaku informasi hanya datang secara lisan saat sosialisasi pada 18 Juli lalu. Keesokan harinya, Yuli dan beberapa pedagang langsung mengecek lokasi yang disebut-sebut akan jadi pasar baru.
“Pas kita lihat, ada tanah kosong, kita telepon lagi. Kata mereka, iya yang ada tulisan Palang Satpol PP,” ungkapnya.
Menurut Yuli, sebelum opsi relokasi ke Lenteng Agung muncul, sempat ada rencana memindahkan pedagang ke Pasar Jaya Mampang. Namun, setelah dicek, tempat itu dinilai kurang layak.
“Di Mampang itu kita ditaruh di lantai 3. Tangga aja nggak kuat. Barang kita berat-berat, makanan kucing 20 kilo, pasir. Kalau barang datang juga susah,” keluhnya.
Bersama pedagang lainnya, Yuli mengaku sudah mencoba memberi solusi alternatif kepada pemerintah.
“Kita sudah ngomong, kalau kios satu dua dihilangin buat akses jalan ke taman nggak apa-apa. Kan enak ya, ke taman bisa lihat hewan, ada kuliner, buah-buahan. Kalau sepi gimana?” ucapnya.
Ia juga menyinggung bahwa pasar tersebut baru saja direvitalisasi dua tahun lalu.
“Udah bagus-bagus, udah rapi. Kenapa harus dibongkar lagi?” keluhnya.
Di kios lain, Cipto—pedagang yang menjajakan hewan peliharaan—juga belum beranjak dari tempatnya. Ia masih membuka dagangan meski kabar relokasi makin ramai.
“Iya masih dagang, cuma suasana hati aja jadinya nggak tenang lah namanya berita-berita begitu kan,” ujarnya
“Alasannya, belum ada surat resminya dari Pemprov itu nggak ada. Suruh perginya juga nggak ada,” tambah Cipto.
Cipto mengaku sudah berdagang di Pasar Barito selama 20 tahun. Menurutnya, relokasi seharusnya disertai dengan perencanaan yang matang dan musyawarah bersama.
“Sebenernya sih khawatir. Kalau pindah ke tempat baru, nyari pelanggan lagi mungkin rada susah ya. Misalkan pemerintah mau bagusin taman, ya dirembuk aja sama pedagang. Pengennya bagaimana,” katanya.
Hingga saat ini, ia belum pernah diajak bicara secara langsung oleh pihak Pemkot atau Pemprov terkait nasib para pedagang.
“Nggak ada Perintahnya ya gitu aja, dikosongin gini-gini gitu” imbuhnya.
Kekhawatiran pedagang bukan sekadar soal lokasi, tapi juga nasib puluhan hewan peliharaan dan tumpukan stok dagangan yang tak bisa dipindah dalam semalam.
Di sisi lain, tidak adanya kejelasan dari pihak pemerintah membuat mereka menggantung tanpa arah.
Meski dihantui ketidakpastian, para pedagang Pasar Barito tetap memilih bertahan. Kios-kios masih dibuka, hewan-hewan masih dijaga, dan harapan masih digantungkan—setidaknya sampai ada kejelasan yang benar-benar resmi dari pemerintah.
