CFD Tetap Ramai Saat Abu Anak Krakatau Masuk Jakarta, Warga Diminta Pakai Masker

Sejumlah warga tetap berolahraga di kawasan Car Free Day (CFD) atau Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) Bundaran HI, Jakarta Pusat, di tengah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mulai masuk ke wilayah Jakarta pada Minggu (6/9).
Pantauan kumparan di lokasi, sejumlah warga terlihat menggunakan masker saat beraktivitas di kawasan CFD. Namun, warga yang tidak menggunakan masker masih lebih dominan.
Pos Polisi di kawasan Bundaran HI juga mengimbau peserta CFD untuk menggunakan masker demi menjaga kesehatan.
“Disarankan atau diimbau kepada warga, peserta CFD, untuk kesehatan kiranya menggunakan masker,” demikian imbauan yang disampaikan melalui pengeras suara.
“Sekali lagi, sehubungan dengan erupsinya Gunung Anak Krakatau yang menimbulkan vulkanik, demi kesehatan Bapak/Ibu sekalian diimbau dan disarankan untuk menggunakan masker,” lanjutnya.
Salah satu warga, Prawita, yang datang dari Sawangan, Depok, mengaku memilih tetap berolahraga di CFD bersama anak dan suaminya, Agung. Mereka menggunakan masker setelah melihat surat edaran dari media sosial terkait penggunaan masker dan kacamata saat beraktivitas di luar rumah.
Prawita mengatakan, abu vulkanik sudah terlihat cukup tebal di kawasan rumahnya sekitar pukul 04.30 WIB. Abu tersebut terlihat menempel di kendaraan dan teras rumah.
“Tadi sih sekitar jam 04.30 sudah kelihatan banget ya. Maksudnya ada di atas motor sama di atas mobil itu debunya bukan partikel debu yang seperti biasa, tapi memang abu vulkanik yang tebal,” kata Prawita saat berbincang dengan kumparan.
Menurutnya, tekstur abu yang menempel di kendaraan juga berbeda dari debu biasa karena terasa seperti berpasir. Untuk membersihkannya, ia bahkan perlu menggunakan air agar abu tidak sekadar terlap dengan kain.
Meski begitu, kondisi di kawasan Bundaran HI menurutnya belum menimbulkan rasa perih atau sesak. Ia menduga kondisi tersebut dipengaruhi angin yang tidak terlalu kencang.
Agung mengatakan, dirinya dan keluarga tetap datang ke CFD karena sebelumnya sudah memiliki rencana untuk berolahraga. Namun, penggunaan masker dilakukan sebagai langkah untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
“Dan kan juga untuk mengurangi risiko juga kan. Tadi kan karena sudah janji pengin olahraga di sini, juga kan untuk mengurangi risiko ya pakai masker,” ujar Agung.
Prawita yang memang rutin berolahraga di CFD mengatakan akan mempertimbangkan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila pemerintah mengeluarkan imbauan untuk membatasi aktivitas.
“Tergantung info yang kita dapat dari sosmed atau surat edaran yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kalau misalkan memang disarankan untuk tidak beraktivitas banyak di luar, kemungkinan kita hold untuk kita stay di rumah,” katanya.
Hal serupa disampaikan Dev, warga Salemba, yang tetap datang ke CFD karena olahraga outdoor setiap Minggu sudah menjadi rutinitasnya. Ia mengaku sudah mengetahui informasi mengenai abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang menyebar ke Jakarta.
Dev mengatakan, kondisi di rumahnya sudah terlihat berbeda saat hendak berangkat. Teras rumahnya tampak berdebu dan terdapat kondisi seperti kabut, meski bukan kabut.
“Kalau terasa, tadi teras rumah tuh sudah berdebu gitu. Maksudnya kita nginjak teras rumah, terus kayak ada kabut tapi bukan kabut,” ujar Dev.
Di kawasan CFD, Dev belum merasakan perih pada mata atau gangguan berarti. Namun, ia mempertimbangkan untuk mengubah waktu olahraga menjadi lebih pagi agar aktivitas outdoor selesai sebelum kondisi udara semakin berisiko.
“Ini tadi juga aku bilang, ‘Wah, ini enakan nih dari setelah salat Subuh kita langsung keluar.’ Ini sudah terlalu siang,” katanya.
Ia memperkirakan ke depan akan memulai olahraga sekitar pukul 05.30 WIB dan menyelesaikannya sebelum pukul 08.00 WIB.
Sementara itu, Yusran, warga yang tinggal di Cempaka Putih, juga memilih tetap jogging di tengah kondisi tersebut. Ia mengaku mulai merasakan sedikit gangguan pada penglihatan dan pernapasan.
“Sudah ada sedikit rasa-rasa yang bahwasanya abu vulkanik itu sudah sampai di Jakarta. Iya, kayak penglihatan gitu, pernapasan agak sedikit berat,” kata Yusran.
Meski khawatir, Yusran mengatakan dirinya tetap berolahraga selama belum ada instruksi pemerintah untuk menghentikan aktivitas di luar rumah.
“Kekhawatiran itu ada, cuma kalau pemerintah belum ada instruksi untuk kita tetap di rumah, itu masih bisa kan untuk tetap olahraga,” ujarnya.
Warga lainnya, Doni Setiawan, mengaku mulai merasakan perbedaan udara saat berada di perjalanan menuju kawasan CFD. Ia merasakan hidungnya agak sesak dan udara terasa lebih berat dibandingkan biasanya.
“Hidung udah mulai sih, kayak di hidung tuh agak-agak sesak gitu ya. Agak beda lah sama udara pagi biasanya,” kata Doni.
Doni mengatakan dirinya tetap datang ke CFD karena olahraga setiap Minggu pagi sudah menjadi rutinitas. Namun, ia memilih menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan abu vulkanik.
“Paling ya kita harus menjaga diri kita sendiri sih ya. Pakai masker atau apa gitu,” ujarnya.
Ke depan, Doni mempertimbangkan untuk mengurangi aktivitas olahraga di luar rumah dan memilih berolahraga di lingkungan sekitar rumah selama kondisi abu vulkanik masih berlangsung.
Abu Vulkanik Mulai Masuk Jakarta
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis perkembangan terbaru terkait sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9).
Berdasarkan citra satelit, sebaran abu vulkanik telah memasuki sebagian wilayah Jakarta. Dalam unggahan Instagram BMKG Wilayah 2, per pukul 04.00 WIB terdapat dua kategori sebaran abu berdasarkan ketinggiannya.
Kategori pertama ada pada ketinggian 20 ribu kaki yang bergerak ke arah timur laut dan selatan. "Mencakup sebagian DK Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta perairan sekitarnya," demikian keterangan tersebut.
Kemudian, kategori kedua ada pada ketinggian 50 ribu kaki dengan sebaran abu ke arah barat daya dan barat laut. "Mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu-Lampung-Banten," tulisnya.
