Charta Politika: Duet Ganjar-Prabowo Menjanjikan Menang, Bisa Kalahkan Anies
ยทwaktu baca 4 menit

Skenario duet Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto sebagai capres dan cawapres di Pilpres 2024 belakangan menarik perhatian publik. Isu itu bergulir setelah keduanya akrab saat menghadiri agenda Panen Raya bersama Presiden Jokowi di Kebumen, Jawa Tengah.
Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya mengatakan, skema Ganjar-Prabowo memang punya modal besar untuk menang satu putaran. Ini dilihat dari segi elektabilitas maupun kekuatan kursi parlemen yang dimiliki PDIP dan Gerindra.
"Kalau dibaca dari sisi elektoral, memang dua ini kan survei tertinggi, jadi tentu menjanjikan untuk menang. Bukan hanya dengan elektabilitas, tapi dengan mesin politik. Ganjar PDIP, Prabowo Gerindra. Ketika duet mesin partai ini gabung akan lahirkan kekuatan besar," kata Yunarto kepada kumparan, Rabu (15/3).
"Keduanya dianggap sudah dapat restu Jokowi. Kita lihat dengan endorse Jokowi ke Ganjar, ke Prabowo. Mereka punya kesamaan posisi politik untuk kerja sama, dibanding Ganjar-Anies atau Prabowo-Anies, beda. Jadi dari elektoral, menjanjikan untuk menang, koalisi, sangat mungkin dengan kekuatan besar," imbuh dia.
Yunarto memandang saat ini, kans Ganjar untuk menjadi capres diwakili Prabowo memang lebih besar dibandingkan sebaliknya. Sebab itu, jika Prabowo legowo, maka duet keduanya bisa terwujud.
"Kondisi kekinian dan modal, tentu Ganjar [yang bisa capres]. Dengan catatan apabila sudah didukung resmi PDIP, [dia] lebih punya bargain. Karena dalam kondisi sekarang, elektabilitas tinggi, dan PDIP kursi lebih besar," jelas dia.
"Yang menentukan seseorang legowo secara politik itu adalah ketika menyadari modalnya lebih kecil dibandingkan pihak lain yang diajak nego. PDIP bargain lebih kuat kalau bicara kursi parlemen. Tapi ada variabel lain yang bisa pengaruh, yaitu elektabilitas. Nah, detik ini Ganjar juga lebih kuat dibanding Anies, di survei Indikator, Charta, SMRC, Kompas," imbuh dia.
Meski demikian, Yunarto meyakini Prabowo akan fokus menaikkan elektabilitas hingga proses tawar-menawar berakhir. Sehingga Prabowo bisa saja punya peluang maju capres yang lebih besar dari Ganjar.
Apalagi, ia mengingatkan hingga saat ini PDIP belum resmi mencapreskan Ganjar.
"Pendaftaran KPU masih nanti, jadi saya baca Pak Prabowo sedang genjot elektabilitas dan punya target lampaui Ganjar. Karena ketika lampaui mungkin terbuka peluang tawar menawar untuk jadikan dirinya nomor satu," ujar Yunarto.
"Itu kenapa Prabowo terlihat kencang konsolidasi Gerindra. Beliau turun ke daerah, di pemerintah lebih masif. Beliau berusaha meningkatkan elektoral, beberapa bulan kemudian nego capres cawapres. Kalau elektabilitas tinggi, bargaining capres kan lebih terbuka. Kalau sekarang harus diakui peluang Ganjar capres lebih besar. Catatan juga lho, Ganjar belum dicalonkan PDIP," ungkap dia.
Ganjar-Prabowo Bisa Kalahkan Anies: Diusung PDIP, Gerindra, PKB, dan KIB
Yunarto memandang Anies Baswedan yang saat ini akan diusung NasDem, PKS, dan Demokrat bisa kalah telak apabila berhadapan dengan Ganjar-Prabowo. Menurutnya Ganjar-Prabowo lebih mungkin menang dari Anies, siapa pun wakil eks Gubernur DKI Jakarta itu.
"Peluangnya besar, keduanya (Ganjar-Prabowo) selalu ada di 3 besar elektabilitas. Dan dua orang ini bisa jadi komplementer satu sama lain, karena mereka punya segmen beda. Mas Ganjar di dukung pemilih Jokowi, Pak Prabowo walaupun saat ini loyalis Jokowi, tapi cenderung di survei pemilihnya investasi dari pemilih dua pemilu kemarin yang tidak pilih Jokowi," papar Yunarto.
"Dan di atas kertas [kekuatan partai], [kans] untuk kalahkan Anies dengan siapa pun besar. Pak Prabowo kuat basis Islam, investasi dua pemilu kemarin," jelas dia.
Soal pengusung, Yunarto menilai koalisi PDIP, Gerindra, PKB, serta Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang dibentuk Golkar, PAN, dan PPP mungkin mengusung Ganjar-Prabowo. Meski ia mengakui tidak mudah bagi Golkar untuk sepakat soal koalisi ini.
"Pastinya PDIP dan Gerindra. [Lalu] misalnya beri urutan, saya melihat PAN dan PPP cenderung partai yang tidak punya halangan untuk kompromi dan menerima dua sosok ini. Karena ada kecenderungan dua partai ini nggak pernah posisikan Ketum jadi capres-cawapres," kata dia.
"Lalu PKB besar karena sudah punya komunikasi dengan Gerindra. Tugas Gerindra dan Prabowo untuk bisa melobi PKB. Terakhir, kemungkinan besar walaupun sulit, Golkar. Sulit karena keputusan Munas, Airlangga capres. Mereka harus Munaslub untuk dukung capres di luar Airlangga," tandas dia.
