China Akan Pamerkan Senjata Baru di Parade Militer Victory Day, Apa Saja?

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah prajurit tentara mengikuti latihan menjelang parade militer dalam memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua di Beijing, China, Rabu (20/8/2025). Foto: Pedro Pardo/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah prajurit tentara mengikuti latihan menjelang parade militer dalam memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia Kedua di Beijing, China, Rabu (20/8/2025). Foto: Pedro Pardo/AFP

China akan memamerkan sejumlah senjata baru dalam parade militer Victory Day yang akan berlangsung pada Rabu (3/9) di Tiananmen Square. Senjata baru yang akan dipamerkan itu akan jadi unjuk kekuatan yang dipandang sebagai tantangan bagi dominasi militer Amerika Serikat (AS).

Ahli militer telah menganalisis foto-foto dan video-video di media sosial dari sejumlah latihan terbaru. Dari foto dan video di media sosial menunjukkan sejumlah senjata seperti rudal antikapal, drone bawah air mukhtahir hingga sistem antirudal.

Meski para pejabat tetap merahasiakan daftar alutsista yang akan dipamerkan di hadapan Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin dan pemimpin negara lainnya, banyak penggemar militer yang telah melihat sistem militer baru yang signifikan, termasuk yang dikabarkan sebagai senjata laser raksasa.

Dikutip dari AFP, Senin (1/9), militer mengatakan alutsista yang dipamerkan merupakan produksi dalam negeri dan aktif bertugas.

Apa saja yang akan dipamerkan di parade militer pada Rabu nanti? Berikut daftarnya:

1. Rudal 'Elang' antikapal

Ada 4 rudal antikapal yang terlihat dalam unggahan di media sosial, yaitu YJ-15, YJ-17, YJ-19, dan YJ-20. YJ merupakan singkatan dari Ying Ji, yang dalam bahasa Mandarin berarti serangan elang.

Rudal ini dapat diluncurkan dari kapal atau pesawat dan dirancang untuk menimbulkan kerusakan signifikan pada kapal-kapal besar. Model YJ-17, YJ-19, dan YJ-20 bersifat hipersonik, yang berarti dapat terbang setidaknya 5 kali dengan kecepatan suara.

"China harus mengembangkan kemampuan antikapal dan antikapal induk yang kuat untuk mencegah AS menimbulkan ancaman serius terhadap keamanan nasional Tiongkok," kata mantan instruktur militer China, Song Zhongping.

2. Drone bawah air

Meski China masih tertinggal dari AS dalam hal kekuatan angkatan laut permukaan, Naval News melaporkan China memiliki program kendaraan bawah air nirawak ekstra besar (XLUUV) terbesar di dunia.

Salah satu yang terlihat berlabel AJX002 dengan panjang hingga 18-20 meter.

3. Perisai antirudal

Sejumlah analis China menggambarkan perisai antirudal HQ-29 sebagai pemburu satelit yang mampu mencegat rudal di ketinggian 500 kilometer di luar atmosfer bumi, serta satelit di orbit rendah.

4. Laser

Harian South China Morning Post melaporkan ada sebuah kendaraan persegi panjang besar berwarna kamuflase yang dilapisi terpal kemungkinan merupakan sistem pertahanan yang mampu menembak jatuh rudal dan drone menggunakan laser berkekuatan tinggi.

Pengguna X dengan nama Zhao Da Shuai menyebut kendaraan itu adalah sistem pertahanan udara laser terkuat di dunia.

X post embed

5. Senjata nuklir

Rudal balistik antarbenua yang mampu membawa hulu ledak nuklir diperkirakan akan ditampilkan secara mencolok dalam parade tersebut. Diperkirakan senjata nuklir seperti perangkat keras lainnya akan ditampilkan selama parade.

Senjata nuklir itu disebut akan membantu menyeimbangkan kekuatan militer antara China dan AS.

6. Kendaraan lapis baja baru

Kendaraan generasi baru telah terlihat dalam beberapa hari terakhir, terutama sebuah tank baru yang ukurannya sedikit lebih kecil dari tank tempur utama Tipe 99A.

Jika tank ini dipamerkan pada parade militer nanti, maka alutsista China disebut mengalami peningkatan yang signifikan dengan militer-milter negara maju lainnya.

"Namun, kami tidak akan dapat menilai kemampuan sebenarnya dari semua senjata dan peralatan dalam situasi seremonial (dan non-operasional) ini," kata profesor ahli militer China di Nanyang Technological University Singapura, James Char.