China Akui Kesulitan Deteksi Kasus Infeksi COVID-19 Usai Pelonggaran Pembatasan

14 Desember 2022 12:50 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Seorang pekerja medis dengan APD mengumpulkan swab dari seorang warga untuk pengujian COVID-19, di Shanghai, China, Kamis (13/10/2022). Foto: Aly Song/REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Seorang pekerja medis dengan APD mengumpulkan swab dari seorang warga untuk pengujian COVID-19, di Shanghai, China, Kamis (13/10/2022). Foto: Aly Song/REUTERS
ADVERTISEMENT
China mengaku kesulitan melacak jumlah kasus penularan COVID-19 yang sesungguhnya usai pembatasan yang semula sangat ketat, kini dilonggarkan.
ADVERTISEMENT
Hal ini disusul oleh kewajiban untuk melakukan tes antigen harian massal bagi penduduk yang sudah tidak lagi diberlakukan.
Informasi tersebut disampaikan oleh Komisi Kesehatan Nasional China (National Health Commission/NHC) dalam sebuah pernyataan, Rabu (14/12).
Pihaknya menjelaskan, jumlah infeksi yang dilaporkan secara resmi telah menurun secara drastis dari rekor tertinggi yang terjadi pada November lalu.
Pernyataan NHC muncul setelah Wakil Perdana Menteri Sun Chunlan mengatakan, penularan virus corona di ibu kota Beijing sudah berkembang pesat — tanpa terdeteksi secara resmi.
Apa yang disampaikan oleh Sun selaras dengan pemandangan banyaknya ditemukan antrean mengular di sekitar apotek dan rumah sakit di berbagai distrik yang hendak memeriksakan diri.
Orang-orang mengantre untuk membeli obat demam dan pilek saat petugas pengiriman mengambil pesanan di apotek, di Beijing, China, Selasa (6/12/2022). Foto: Tingshu Wang/REUTERS
Di Beijing, penduduk yang semula bergembira karena kebijakan lockdown sudah dicabut kini mengeluh, lantaran kesulitan memperoleh obat pereda demam dan flu. Apotek-apotek kekurangan stok parasetamol, ibuprofen, dan alat tes antigen.
ADVERTISEMENT
Selama seminggu terakhir, situs web Baidu juga melaporkan lonjakan permintaan obat penurun demam telah meningkat sebanyak 430 persen.
Meski demikian, otoritas China bertekad untuk terus melanjutkan pelonggaran itu, disusul oleh sektor pariwisata setempat yang sehari sebelumnya mengatakan akan tetap mengizinkan para turis masuk dan keluar dari ibu kota.
Di saat bersamaan, China menghadapi lonjakan kasus infeksi tanpa dilengkapi dengan infrastruktur medis yang memadai untuk mengelolanya.
Jutaan kelompok rentan seperti lansia masih belum sepenuhnya divaksin serta rumah sakit yang kekurangan dana tidak memiliki kapasitas untuk menampung banyaknya pasien terinfeksi.
Petugas jasa pengiriman mengambil pesanan obat di sebuah apotek, di Beijing, China, Selasa (6/12/2022). Foto: Thomas Peter/REUTERS
Beberapa warga yang mengeluhkan gejala virus corona memilih untuk melakukan karantina mandiri di rumahnya masing-masing dibandingkan di fasilitas karantina terpusat yang disediakan pemerintah.
ADVERTISEMENT
Mereka yang memiliki gejala dan melakukan karantina mandiri pun membagikan pengalaman pribadinya di media sosial terkait apa saja hal yang dilakukan agar bisa pulih.
“Ketika suhu tubuh saya melewati 37,2 derajat, saya mulai menambahkan gula dan garam ke dalam air lemon saya,” tulis salah seorang warganet di media sosial lokal Xiaohongshu.
Beberapa di antara warganet juga memamerkan hasil tes negatif mereka setelah menjalani karantina mandiri. “Saya telah dibangkitkan!!!” tulis pemilik akun lain dalam keterangan foto yang menunjukkan deretan lima tes antigen positif dan satu negatif.

Tanggapan WHO

Situasi penanganan COVID-19 di China pun menjadi sorotan internasional, salah satunya adalah Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).
Pihaknya mendukung kebijakan pemerintah Partai Komunis China yang akhirnya menghentikan program ketat nol-Covid yang telah membuat frustrasi warganya.
ADVERTISEMENT
Tetapi, WHO juga menggarisbawahi masa sulit yang harus dihadapi pemerintah Beijing dalam masa transisi dari kebijakan protokol kesehatan ketat menuju hidup yang berdampingan dengan virus corona.
“Selalu sangat sulit bagi negara mana pun yang keluar dari situasi di mana Anda memiliki kontrol yang sangat ketat,” kata juru bicara WHO, Margaret Harris, seperti dikutip dari Reuters.
Pemandangan unit perumahan selama penguncian virus corona COVID-19 di distrik Jing'an Shanghai, China, Kamis (21/4/2022). Foto: Hector Retamal/AFP
“Kami selalu mengatakan sebelumnya: jangan mengkarantina diri terlalu mudah dan terlalu cepat karena sangat, sangat sulit untuk keluar,” tutur dia.
WHO menjelaskan, China kini mempunyai tantangan untuk memastikan populasinya agar divaksinasi dengan tepat.
Mereka juga harus mempersiapkan rumah sakit untuk mengantisipasi potensi peningkatan kasus COVID-19. “Ada banyak hal yang harus Anda lakukan di tingkat masyarakat, di tingkat rumah sakit, di tingkat nasional untuk mempertahankan transisi itu,” jelas Harris.
ADVERTISEMENT
Hingga saat ini, tingkat vaksinasi di China masih tergolong rendah dibandingkan banyak negara yang sudah menganggap virus corona sebagai endemi.
Hal itu didorong oleh kebijakan nol-Covid pemerintah sebelumnya yang lebih memilih untuk menerapkan lockdown wilayah dan karantina terpusat daripada menggencarkan program vaksinasi bagi penduduknya.