China Hentikan Operasi SAR di Tibet, Banjir Susulan Mengancam

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 1 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Seorang lansia yang selamat dievakuasi ke tempat yang lebih aman menggunakan alat berat setelah banjir bandang dan tanah longsor di Trishuli, distrik Nuwakot, Nepal, 26 Agustus 2026. Foto: REUTERS/Navesh Chitrakar
zoom-in-whitePerbesar
Seorang lansia yang selamat dievakuasi ke tempat yang lebih aman menggunakan alat berat setelah banjir bandang dan tanah longsor di Trishuli, distrik Nuwakot, Nepal, 26 Agustus 2026. Foto: REUTERS/Navesh Chitrakar

China menghentikan operasi pencarian dan penyelamatan pada Jumat (28/8), setelah longsor dan banjir bandang menerjang wilayah perbatasan Tibet (wilayah otonom China) dan Nepal. Langkah ini diambil menyusul munculnya ancaman banjir baru.

Penghentian operasi dilakukan meski ratusan orang diduga masih terperangkap di bawah material longsor di kawasan bencana.

Menurut laporan kantor berita pemerintah China, CCTV, banjir dan longsor telah menciptakan danau baru. Danau tersebut berpotensi jebol dan memicu banjir bandang ke sejumlah wilayah di hilir.

"Jadi, seluruh tim penyelamat telah diperintahkan untuk bersiaga di tempat dan menunggu instruksi lebih lanjut," ujar keterangan otoritas darurat China seperti dikutip dari AFP.

instagram embed

Otoritas China mengatakan tim penyelamat sebenarnya telah menjangkau lokasi yang paling terdampak longsor. Namun, seluruh tim di kawasan tersebut kini diminta mundur sejauh satu kilometer karena meningkatnya risiko bencana susulan.

Menurut laporan Pemerintah China, banjir dan longsor tersebut telah menyebabkan 472 orang tewas di perbatasan Tibet-Nepal. Sementara itu, lebih dari 1.400 orang dilaporkan masih hilang.

Peta bencana banjir bandang di Nepal yang berbatasan dengan Tibet (wilayah otonom China), Agustus 2026. Foto: Google Maps