China Kewalahan Kembali Hadapi Lonjakan COVID-19 karena Kasus dari Luar Negeri
·waktu baca 2 menit

Komisi Kesehatan Nasional China atau NHC mengungkapkan, wabah COVID-19 di China kini berkembang pesat. Penularan COVID-19 melonjak akibat kasus dari luar negeri terutama di daerah perbatasan timur laut.
Dikutip dari Reuters, Minggu (31/10), seorang pejabat NHC mengatakan ada 377 kasus COVID-19 di dalam negeri dengan gejala dalam rentang 17-29 Oktober.
"Dalam 14 hari terakhir, 14 wilayah provinsi telah melaporkan kasus baru yang ditularkan secara lokal atau pembawa tanpa gejala," kata juru bicara NHC Mi Feng.
"Wabah masih berkembang pesat, dan situasi pengendalian virus parah dan rumit," tambah dia.
Misalnya, di Kota Heihe di timur laut yang terletak di dekat Sungai Amur China atau perbatasan dengan Rusia, melaporkan 26 kasus lokal pada 29 Oktober.
"Lonjakan wabah ini telah membuktikan kelemahan pikiran di antara beberapa otoritas lokal," kata pejabat NHC lainnya Wu Liangyou.
Akibat lonjakan COVID-19, China kini memperketat akses di pelabuhan masuk. Testing juga semakin digencarkan.
"Kami harus memperkuat skrining tes orang-orang dengan risiko infeksi tinggi dan meningkatkan pemantauan potensi peningkatan, karena virus masih menyebar," kata Wu.
Sejauh ini, hasil dari sequencing menunjukkan klaster di Heihe tidak terkait lonjakan di daerah barat laut China. Melihat fakta ini, mengindikasikan ada sumber virus baru dari luar negeri.
Sementara di kota-kota besar, para pejabat telah berjanji akan memperketat pembatasan dalam setiap kegiatan internasional demi meminimalkan risiko kasus impor.
China juga akan mempercepat vaksinasi terhadap anak berusia tiga hingga 11 tahun pada akhir Desember. Namun mereka yang memiliki risiko tinggi tidak ada menerima vaksin.
China telah memvaksinasi sekitar 75,8 persen dari 1,4 miliar penduduknya. Mereka juga memberikan suntikan booster kepada orang dewasa yang memenuhi syarat.
