China Siap Dorong Perdamaian antara Rusia dan Ukraina
·waktu baca 3 menit

China menyatakan keprihatinannya atas konflik antara Rusia dan Ukraina yang sudah hampir satu tahun berlangsung. Konflik ini disebut semakin memburuk dan tidak terkendali ke mana arahnya.
Hal itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri China yang baru, Qin Gang, dalam sebuah konferensi pers di Kota Beijing, pada Selasa (21/2). “Sudah hampir setahun sejak krisis di Ukraina meningkat secara menyeluruh,” kata Qin.
“China sangat prihatin karena konflik ini semakin meningkat dan bahkan semakin tidak terkendali,” sambung dia.
“Negara-negara yang berkepentingan harus berhenti menyiram minyak tanah ke dalam api sesegera mungkin [dan] berhenti mengalihkan kesalahan kepada China,” kecam Qin.
Sejak operasi militer khusus Rusia dimulai satu tahun lalu, Beijing tetap berusaha menyikapi konflik antara dua negara tetangga itu secara netral.
Pihaknya telah berulang kali menyatakan kekhawatiran atas pertumpahan darah di Ukraina seraya mempertahankan hubungan baik dengan mitra strategisnya, Moskow.
Namun, China sejauh ini belum berpartisipasi secara langsung dalam penyelenggaraan dialog damai antara Rusia dan Ukraina.
Siap Dorong Perdamaian
Hingga akhirnya, baru-baru ini saja pemerintah Beijing menawarkan agar dapat ikut andil dalam penyelesaian krisis politik di Ukraina.
“Beijing akan menawarkan kebijaksanaan China untuk penyelesaian politik krisis Ukraina, dan bekerja dengan komunitas internasional untuk mempromosikan dialog dan konsultasi, mengatasi kekhawatiran semua pihak dan mencari keamanan bersama,” jelas Qin.
Dikutip dari AFP, China telah berjanji untuk mempublikasikan sebuah proposal perdamaian yang bertujuan untuk menemukan solusi politis agar perang dapat segera berakhir.
Proposal ini akan dipublikasikan menjelang peringatan satu tahun operasi militer khusus Rusia di Ukraina yang jatuh pada 24 Februari pekan ini.
Secara terpisah, eks Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, dalam konferensi pers usai digelarnya Munich Security Conference (MSC) pada Sabtu (18/2) akhir pekan lalu, turut buka suara soal konflik Rusia dan Ukraina.
Diplomat itu mengatakan, China menentang segala serangan yang ditujukan terhadap seluruh Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang ada di Ukraina, menentang penggunaan senjata biokimia, serta mengaku bersedia untuk bekerja sama dengan semua pihak agar konflik dapat berakhir.
Salah satu bentuk komitmen China untuk mendorong terwujudnya perdamaian antara Rusia dan Ukraina yaitu mengunjungi Moskow.
Wang dijadwalkan akan melakukan pemberhentian terakhir di Negeri Beruang Merah, sebagai bagian dari lawatannya ke negara Eropa lain yaitu Prancis, Italia, Hungaria, dan Jerman.
TASS melansir, bersamaan dengan kunjungannya ke Rusia Wang kemungkinan akan bertemu secara langsung dengan Presiden Vladimir Putin. Keduanya hendak membicarakan upaya damai menyangkut pertumpahan darah di Ukraina.
Namun, kunjungan tingkat tinggi Wang ke Rusia tidak disambut baik oleh Barat. Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menuding bahwa kunjungan Wang bisa saja mendorong China untuk memasok persenjataan ke Rusia guna melawan Ukraina.
Beijing kemudian menepis pernyataan Blinken tak lama setelahnya, pada Senin (20/2).
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, mengatakan bahwa justru AS yang telah menyebarkan informasi palsu.
“[Ini ulah] Amerika Serikat dan bukan China yang tanpa henti mengirimkan senjata ke medan perang,” kecam Wang.
