China Tawarkan Reunifikasi Damai dengan Taiwan

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kolase foto: Bendera China dan Taiwan. Foto: AFP
zoom-in-whitePerbesar
Kolase foto: Bendera China dan Taiwan. Foto: AFP

China pada Rabu (10/8) mengutarakan keinginan atas terwujudnya perdamaian, dan merilis buku putih yang berisi solusi atas penyelesaian konflik dengan Taiwan.

Dalam buku putih itu, China menetapkan klaimnya atas Taiwan berdasarkan sejarah, hukum internasional, dan aspirasi rakyat China. Buku putih itu mencakup sebagian besar soal reunifikasi antara kedua negara sebagai solusi terbaik.

“Beijing menginginkan reunifikasi damai dengan Taiwan, tetapi kekuatan asing yang mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok (China) dan mendorong pemisahan diri dalam Taiwan dapat membuat hal ini mustahil,” bunyi isi buku putih itu, seperti dikutip dari Russia Today.

Beijing melihat reunifikasi damai di bawah pengaturan ‘satu negara, dua sistem’ seperti yang dianut oleh Hong Kong saat ini sebagai solusi terbaik. Sebab, pengaturan pemerintahan ini dapat memungkinkan Taipei mempertahankan kebijakan dalam negerinya.

“Kami akan berupaya dengan ketulusan terbesar dan mengerahkan upaya terbaik kami untuk mencapai reunifikasi damai. Tetapi kami tidak akan meninggalkan penggunaan kekuatan, dan kami memiliki pilihan untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan,” sambung isi dokumen tersebut.

Menurut buku putih itu, kontingensi seperti pengerahan kekuatan militer tetap diperlukan. Hal ini bertujuan untuk menghadang campur tangan eksternal dan semua aktivitas separatisme.

Presiden China Xi Jinping terlihat di layar raksasa saat ia menyampaikan pidato di acara peringatan 100 tahun berdirinya Partai Komunis China, di Lapangan Tiananmen di Beijing, China, Kamis (7/1). Foto: Carlos Garcia Rawlins/REUTERS

Namun digarisbawahi bahwa serangan itu tidak menargetkan sesama penduduk etnis China di Taiwan.

Beijing menegaskan, pihaknya akan menggunakan kekuatan militer hanya sebagai pilihan terakhir dan jika ada pihak lain yang melewati batas.

Dalam ini, Beijing menyalahkan kekuatan anti-China yang ada di Amerika Serikat (AS).

“Mereka berupaya untuk menghasut kelompok-kelompok di dalam Taiwan untuk menimbulkan masalah dan menggunakan Taiwan sebagai pion melawan Tiongkok,” ungkapnya.

“Jika dibiarkan, (upaya ini) akan terus meningkatkan ketegangan di seberang selat, semakin mengganggu hubungan China-AS, dan sangat merusak kepentingan AS sendiri,” tegas isi dari buku putih itu.

Pernyataan di dalam buku putih itu mengeklaim, pemerintahan Taiwan di bawah Partai Progresif telah mengadopsi sikap separatis dan berkolusi dengan kekuatan eksternal.

Sikap itu dinilai bersifat provokatif dan dirancang untuk memecah belah negara.

Buku putih dari Beijing diterbitkan seminggu usai kedatangan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taipei.

Kunjungan Pelosi menuai konflik tajam antara Beijing dan Washington serta mendorong diluncurkannya latihan militer di sekitar wilayah Taiwan.