Christchurch yang Hampir Jadi Kota Mati Setelah Gempa Besar 2011 Lalu

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sebuah bangunan menghancurkan mobil yang sedang berada di jalan akibat gempa di Selandia Baru (2/22/2011). (Foto: AFP/Logan Mcmillan)
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah bangunan menghancurkan mobil yang sedang berada di jalan akibat gempa di Selandia Baru (2/22/2011). (Foto: AFP/Logan Mcmillan)

22 Febuari 2011 menjadi hari kelam bagi warga Christchurch, Selandia Baru. Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang kota tersebut mengubah total situasi dan kondisi daerah itu.

Sebanyak 185 orang tewas akibat gempa. Sementara kerusakan besar terjadi hampir di seluruh sudut kota.

Selang sehari setelah gempa, puluhan ribu orang dari 350 ribu warga kota memilih untuk meninggalkan kota. Dari data pemerintah kota, sepekan pertama sejak gempa sebanyak 32 ribu warga yang angkat kaki.

Warga selamat setelah kejadian bencana gempa di Selandia Baru (2/22/2011). (Foto: AFP/Logan Mcmillan)
zoom-in-whitePerbesar
Warga selamat setelah kejadian bencana gempa di Selandia Baru (2/22/2011). (Foto: AFP/Logan Mcmillan)

"Selama beberapa hari dalam sepekan terakhir setelah bencana, perharinya ada 8000 sampai 9000 orang yang meninggalkan kota," sebut CEO Bandar Udara Christchurch Jim Boult 2011 lalu seperti dikutip dari NZ Herald, Selasa (2/10).

Bukan tanpa alasan puluhan ribu warga berbondong-bondong meninggalkan Christchurch. Sepekan setelah gempa ada 361 gempa susulan yang dirasakan.

Delapan puluh persen saluran listrik di kota tersebut terputus. Jalan penghubung tak bisa digunakan dan rusak parah.

"Kami tidak bisa hidup di sini dengan guncangan yang hampir selalu terasa," sebut seorang warga Australia yang tinggal di Christchruch, Gloria Cotton.

Cotton dari 2011 lalu sudah tinggal di kota terpadat kedua di Selandia Baru itu selama 15 tahun. Ia mengaku sedih melihat tempat tinggalnya hancur berantakan karena gempa.

"Hati saya di sini dan saya patah hati ketika harus pergi, tapi saya sudah tak bisa lagi tinggal di sini," sambung dia.

Cerita menyedihkan lainnya disampaikan Susan Chuter. Ia kehilangan ibunya yang tewas tertimbun reruntuhan bangunan.

Di Christchurch ketika gempa mengguncang sejumlah bangunan bertingkat salah satunya milik stasiun televisi terkemuka, Canterbury Television rata dengan tanah.

Jalanan di Christchruch Selandia Baru rusak akibat gempa (22/2/2011). (Foto: AFP/Mason Woodwall)
zoom-in-whitePerbesar
Jalanan di Christchruch Selandia Baru rusak akibat gempa (22/2/2011). (Foto: AFP/Mason Woodwall)

"Kami tak bisa tinggal di sini yang setiap saat membuat kami teringat mengenai situasi buruk serta beberapa kehilangan yang kami alami," jelas Chuter.

Karena kondisi tersebut Christchurch seakan seperti kota mati. Demi merestorasi kota Christchruch Selandia Baru akhirnya membentuk badan Otoritas Perbaikan Gempa Bumi Canterbury (CERA).

Restorasi Bertahun-tahun

Sebuah rumah hancur akibat gempa di Christchruch, Selandia Baru (23/2/2011). (Foto: AFP/Marty Melville)
zoom-in-whitePerbesar
Sebuah rumah hancur akibat gempa di Christchruch, Selandia Baru (23/2/2011). (Foto: AFP/Marty Melville)

CERA yang resmi beroperasi pada Maret 2011, mempunyai kuasa mutlak dalam proses restorasi Christchurch. Selain, mengkoordinasikan proyek perbaikan, CERA diberi wewenang membatalkan regulasi yang dinilai dapat menghalangi upaya restorasi.

Badan ini bekerja selama lima tahun demi memperbaiki kondisi dan infrastruktur di Christchurch. Pada 2016 setelah Christchurch perlahan mulai kondusif badan tersebut resmi dibubarkan.

Pada awal 2018, pemerintah kota Christchurch mengeluarkan pernyataan mengejutkan terkait upaya restorasi. Mereka menyatakan, butuh waktu 20 tahun untuk memperbaiki total kondisi dari Christchurch.

Kondisi rumah-rumah warga yang hancur akibat gempa bumi di Petobo, Palu, Selasa (2/10/2018). (Foto: Soejono Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi rumah-rumah warga yang hancur akibat gempa bumi di Petobo, Palu, Selasa (2/10/2018). (Foto: Soejono Saragih/kumparan)

Mereka menyatakan, walau upaya restorasi CERA sudah selesai, ada beberapa pekerjaan rumah yang belum rampung, di antaranya adalah menyelesaikan proyek-proyek vital, memperbaiki kesehatan mental, mengurus klaim kerusakan bangunan akibat gempa, serta melanjutkan pemugaran rumah.

Dewan Kota Christchurch menyebut, restorasi itu memakan waktu sampai dua dekade dikarenakan proses perbaikan jalan yang paling menyita waktu.

Jalan di Christchurch yang mesti diperbaiki kondisinya bukan cuma di area dalam kota. Namun, di beberapa titik penghubung dengan kota-kota lainnya. Dewan kota menyatakan, dari 1985 kilometer jalan yang ada, 1000 kilometer rusak parah.

Kondisi di Petobo, Palu, yang hancur akibat gempa bumi. (Foto: Soejono Saragih/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi di Petobo, Palu, yang hancur akibat gempa bumi. (Foto: Soejono Saragih/kumparan)

Kondisi kerusakan di Christchurch tak jauh berbeda dengan situasi di wilayah Petobo di kota Palu. Yang jadi pembeda, Petobo tak cuma diguncang gempa namun pula terdampak tsunami, sementara di Christchurch wilayah ini hanya terkena gempa.

Namun, dampak kerusakannya di Petobo tidak kalah besar. BNPB menyebut ada setidaknya 744 rumah yang tenggelam akibat lumpur di Petobo. Saat gempa, tanah ini bergerak hebat menjadi lumpur dalam massa dan volume yang sangat besar akibat sedimen tanah di dalam tanah mencair.

Fenomena perumahan yang 'hilang' itu juga terjadi di Balaroa, Palu. Namun di lokasi ini bukan karena lumpur, tapi karena tanah bergerak naik turun hingga 5 meter. Pergerakan tanah membuat bangunan hancur tak tersisa.