Closing Statement: Saling Puji Dua Sahabat Jokowi - Prabowo Usai Debat

Closing statement debat keempat Pilpres 2019 diwarnai momen kemesraan dan saling memuji antara capres 01 Joko Widodo dan capres 02 Prabowo Subianto. Debat yang awalnya tegang menjadi adem.
Awalnya, Jokowi melontarkan pujian dan kemesraan terkait persahabatannya dengan Prabowo yang tak akan pernah putus, meski keduanya bersaing. Jokowi mengibaratkan persahabatannya dengan rantai sepeda yang tak mudah putus.
"Pak Prabowo, saya ini senang naik sepeda. Saya senang naik sepeda dan sering ketika naik sepeda rantainya putus tapi percayalah pada saya Pak Prabowo, bahwa rantai persahabatan kita, saya dan Pak Prabowo tidak akan pernah putus," ungkap Jokowi.
"Juga tali persahabatan Pak Ma'ruf Amin dengan Pak Prabowo dan Sandiaga Uno yakinlah insyaallah tidak akan pernah putus tali persahabatan silaturahmi di antara kita," imbuhnya.
Jokowi seakan ingin debat meninggalkan kesan yang baik bagi rakyat Indonesia. Jokowi berharap perdebatan dirinya dan Prabowo menghasilkan solusi terbaik bagi masyarakat.
"Namun kita jangan pernah lupa bahwa yang terpenting bukanlah tentang debat, melainkan tentang masa depan dan kesejahteraan rakyat kita Indonesia. Juga tentang memahami dan menyayangi rakyat, negara, dan bangsa ini. Juga tentang bagaimana mendengarkan dan mencarikan solusi bagi persoalan-persoalan di negeri ini," jelasnya.
Mendengar ungkapan persahabatan Jokowi, Prabowo terlihat cukup senang. Namun menurutnya, dalam debat wajar jika muncul adanya perbedaan pendapat. Meskipun dalam hati terdalam Prabowo juga mengaku Jokowi adalah sahabatnya.
"Jadi memang karena ini debat Pak, ya kan. Audiens kalau melihat kita terlalu bersahabat, mereka enggak. Jadi ini sulitnya memang ya gimana ya, saya juga bersahabat dengan beliau (Jokowi), ya gimana, kalau kita berbeda kita berbeda tentang kenegaraan, kan begitu. Jadi inilah demokrasi yang kita inginkan, debat," terangnya.
Prabowo pun meminta maaf kepada Jokowi jika selama ini bersuara agak keras dan banyak mengkritik pemerintahan. Menurutnya, logat kerasnya ini karena ia merupakan orang Banyumas dan Minahasa. Berbeda dengan Jokowi yang terkenal santun karena merupakan orang Solo.
"Kadang-kadang, maaf Pak kalau suara saya keras. Saya ini setengah (orang) Banyumas setengah Minahasa Pak. Bapak kan (orang) Solo, halus, ya ini kalau Banyumas ini Bataknya orang Jawa. Ini closing statement kok pakai begini hehehe," kata Ketum Gerindra itu.
Meski memiliki pandangan politik yang berbeda, Prabowo menunjukkan bahwa ia akan tetap bersahabat dan menjalin persaudaraan dengan tokoh-tokoh pendukung Jokowi. Prabowo menegaskan ia berdebat dengan Jokowi hanya demi rakyat Indonesia.
"Tapi saya juga yakinkan bapak kita tetap bersahabat, tokoh-tokoh semua sahabat saya, Bu Mega, Mbak Yenny, semua sahabat-sahabat saya, Mas Pram, jadi kita pun tidak akan putus persaudaraan kita, kita berjuang untuk rakyat bersama-sama biarlah rakyat yang menentukan yang terbaik untuk bangsa kita," terangnya.
Selain itu, Prabowo mengaku sangat menghormati Jokowi. Namun, ia hanya tak suka dengan budaya 'Asal Bapak Senang' (ABS) yang berkembang di pemerintahan Jokowi. Budaya ini, kata Prabowo, telah ada sejak presiden-presiden terdahulu.
"Jadi bagaimana gitu. Pokoknya percaya pak, saya juga demikian, saya hormat dengan bapak. Saya baik dengan bapak ya kita berbeda pak. Tapi maaf Pak hati-hati Pak, yang ABS sama Bapak itu lho," jelasnya.
"Saya ini kenal banyak presiden, Pak Harto, Pak Habibi, dan sudah lama jadi orang Indonesia terlalu banyak pak ABS. 'Bagus pak, bagus pak, bagus pak'," pungkasnya.
Usai debat pun, Jokowi dan Prabowo terlihat saling berpelukan. Lagu Kemesraan turut mengiringi penutupan debat keempat ini.
