Coba Hindari Blokade Israel, Kapal Pembawa Bantuan untuk Gaza Tinggalkan Siprus

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pekerja Palestina memindahkan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza dengan truk melalui perbatasan Kerem Shalom (Karm Abu Salem) di bagian selatan wilayah Palestina pada 17 Februari 2024, di Rafah di Jalur Gaza. Foto: Said Khatib/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Pekerja Palestina memindahkan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza dengan truk melalui perbatasan Kerem Shalom (Karm Abu Salem) di bagian selatan wilayah Palestina pada 17 Februari 2024, di Rafah di Jalur Gaza. Foto: Said Khatib/AFP

Sebuah kapal yang membawa hampir 200 ton makanan ke Gaza akhirnya bisa meninggalkan pelabuhan di Siprus, Selasa (12/3) pagi. Ini merupakan pilot project atau percontohan untuk membuka rute laut baru untuk menyalurkan bantuan kepada warga Palestina yang berada di ambang kelaparan.

Dikutip dari Reuters, kapal amal milik Open Arms itu terlihat berlayar keluar dari pelabuhan Larnaca di Siprus. Kapal itu membawa 200 ton tepung, beras, dan protein.

Misi kemanusiaan yang sebagian besar didanai oleh Uni Emirat Arab itu diselenggarakan badan amal World Central Kitchen (WCK). Sementara badan amal Spanyol, Proactiva Open Arms, yang menyediakan kapal tersebut.

"Tujuan kami adalah membangun jalan raya maritim yang dipenuhi kapal dan tongkang yang berisi jutaan makanan menuju Gaza," kata pendiri WCK, Jose Andres dan CEO Erin Gore, dalam sebuah pernyataan.

Badan amal tersebut bermaksud memberikan bantuan langsung ke Gaza. Bantuan ke Gaza sulit masuk setelah Israel melakukan serangan brutal tanpa pandang bulu pada 7 Oktober 2023.

Dengan kurangnya infrastruktur pelabuhan, WCK mengatakan pihaknya membuat dermaga pendaratan di Gaza dengan menggunakan material dari bangunan dan puing-puing yang hancur.

WCK juga mengungkapkan mempunyai 500 ton bantuan lagi yang dikumpulkan di Siprus, yang juga akan dikirim ke Gaza.

Perjalanan ke Gaza memakan waktu sekitar 15 jam. Namun karena muatan kapal yang berat, maka waktu perjalanan bisa lebih lama, mungkin hingga 2 hari.

Jika misi ini berhasil, maka akan secara efektif menandakan pelonggaran pertama blokade laut Israel yang diberlakukan Gaza pada tahun 2007, setelah Hamas menguasai wilayah kantong Palestina.

Gaza menghadapi krisis kemanusiaan yang semakin parah, sehingga komunitas internasional berupaya mencari rute alternatif untuk menyalurkan bantuan.

Siprus mengatakan, koridor maritimnya menawarkan solusi jalur cepat untuk menyalurkan bantuan jika diperlukan. Kargo akan menjalani pemeriksaan di Siprus oleh tim yang mencakup personel dari Israel, sehingga menghilangkan kebutuhan untuk pemeriksaan di titik pembongkaran terakhir untuk menghilangkan potensi penundaan pengiriman bantuan.