Corona di Kudus Naik 30 Kali Lipat dalam Sepekan, Kasus Aktif di Atas Nasional

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Warga mengikuti rapid test antigen gratis di Alun-alun simpang tujuh, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (29/5).  Foto: Yusuf Nugroho/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Warga mengikuti rapid test antigen gratis di Alun-alun simpang tujuh, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (29/5). Foto: Yusuf Nugroho/ANTARA FOTO

Kasus corona di Kudus, Jawa Tengah, dilaporkan naik 30 lipat dalam sepekan. Hal ini menjadikan rata-rata kasus aktif COVID-19 di Kudus lebih tinggi dari rata-rata nasional.

"Kudus mengalami kenaikan kasus positif secara signifikan dalam satu minggu, yaitu naik lebih dari 30 kali lipat dari 26 kasus menjadi 929 kasus. Hal ini menjadikan kasus aktif di Kudus menjadi 1.280 kasus atau 21,48 persen dari total kasus positifnya. Ini adalah angka yang cukup besar bila dibandingkan dengan kasus aktif nasional yang hanya 5,47 persen," kata Juru Bicara Penanganan Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito, dalam siaran pers virtual di YouTube BNPB, Jumat (4/6).

Adapun tempat tidur di RS rujukan COVID-19 di Kudus hampir terisi 100 persen. Hal ini tentu harus segera diatasi.

"Adanya kenaikan kasus positif ini menyebabkan keterisian tempat tidur ruang isolasi dan ruang ICU di RS rujukan COVID-19 mengalami kenaikan tajam. Bahkan pada 1 Juni, lebih dari 90 persen dari seluruh tempat tidur terisi. Ini adalah kondisi yang sangat memprihatinkan," imbuh dia.

Wiku mengatakan ia telah ikut mendampingi Kasatgas Penanganan COVID-19 Ganip Warsito beserta jajaran pimpinan BNPB lainnya memantau langsung penanganan pandemi di Kudus, Rabu (3/6). Dari pantauan ini, ditemukan sejumlah faktor yang menyebabkan lonjakan kasus di Kudus.

"Dari kunjungan tersebut, didapatkan keadaan ini terjadi sebagai dampak dari adanya kegiatan wisata religi, berupa ziarah serta tradisi kupatan yang dilakukan warga Kudus 7 hari pasca Lebaran. Hal ini memicu kerumunan dan meningkatkan penularan di tengah masyarakat," papar Wiku.

"Kemudian diperparah dengan banyaknya tenaga kesehatan di sana yang saat ini tengah menderita COVID-19 sebanyak 189 (data terbaru 358) orang. Ini karena rumah sakit belum menerapkan secara tegas dan disiplin zonasi merah, kuning, dan hijau, triase pasien COVID-19 dan non COVID, serta keluarga pasien. Contohnya, masih ada pasien COVID-19 di RS didampingi oleh keluarganya yang keluar masuk wilayah RS tanpa skrining," lanjutnya.

Prof Wiku Adisasmito. Foto: BNPB

Oleh sebab itu, Wiku menyampaikan beberapa upaya penanganan dan perbaikan telah di arahkan Ganip Warsito. Ratusan TNI pun diterjunkan untuk memastikan PPKM mikro berjalan lebih disiplin.

"Ketua Satgas menginstruksikan kepada Pemda Kudus untuk segera melakukan konversi tempat tidur lainnya menjadi tempat tidur untuk pelayanan pasien COVID-19. Pasien dengan gejala sedang berat diprioritaskan untuk dirawat di rumah sakit, dan untuk pasien gejala ringan diimbau untuk melakukan isolasi mandiri di kediaman masing-masing apabila memungkinkan, atau dirujuk ke Semarang," terang dia.

"Selain itu, sebanyak 450 personel TNI diturunkan untuk memantau pelaksanaan empat fungsi PPKM mikro di tingkat desa/kelurahan di Kudus. Satgas meminta agar pemerintah daerah dan Satgas di kabupaten Kudus membatasi mobilisasi maksimal agar penularan tidak semakin meluas, dengan senantiasa memantau kondisi zonasi masing-masing daerah," tambah dia.

Wiku meminta masyarakat belajar dari lonjakan kasus di Kudus untuk tak melakukan tradisi yang dapat memicu penularan COVID-19 tinggi. Pemerintah daerah juga diimbau untuk mengawasi masyarakat terkait ini lebih ketat.

"Apa yang terjadi di Kudus ini dapat menjadi pembelajaran bagi daerah-daerah lainnya. Mohon agar Satgas daerah dapat mengantisipasi tradisi dan budaya di wilayahnya masing-masing. Sehingga dapat segera menentukan penanganan dan kebijakan terbaik yang bisa dilakukan, agar kasus tidak meningkat tajam seperti yang terjadi di Kudus ini," pesannya.

embed from external kumparan

Selain itu, dia berharap pemerintah daerah dapat langsung melakukan koordinasi dengan pemerintah pusat apabila mengalami kesulitan terkait penanganan medis, mengingat tingkat keterisian tempat tidur di RS yang sangat tinggi. Maupun melakukan koordinasi dengan kabupaten kota di sekitarnya untuk merujuk pasien yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

"Ingatlah bahwa manajemen penanganan pasien yang baik akan meningkatkan angka kesembuhan dan menurunkan angka kematian. Satgas juga meminta kepada seluruh gubernur di seluruh provinsi di Indonesia untuk dapat juga memantau kondisi perkembangan COVID-19 di wilayah kabupaten atau kotanya. Dengan demikian, kasus yang terjadi di tingkat kabupaten kota dapat lebih cepat diantisipasi dan segera ditangani dengan baik," tegas Wiku.

Di samping penanganan, Wiku mengatakan Whole Genome Sequencing telah dilakukan bagi sejumlah sampel kasus positif COVID-19 di Kudus. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi kalau memang ada varian baru yang menyebabkan penularan di Kudus pesat.

"Saat ini pencegahan penularan dan penanganan kasus yang sedang menjadi fokus. Tetapi WGS sedang dilakukan dan menunggu hasil, dan akan diumumkan saat hasilnya telah keluar," pungkas dia.