COVID-19 Jadi Endemik Dinilai Masih Hipotesa, Positivity Rate Tinggi

kumparanNEWSverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Petugas kesehatan bersiap menyuntikan vaksin COVID-19 kepada pedagang di Blok A Pasar Tanah Abang Jakarta, Kamis (25/2/2021).  Foto: WAHYU PUTRO A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Petugas kesehatan bersiap menyuntikan vaksin COVID-19 kepada pedagang di Blok A Pasar Tanah Abang Jakarta, Kamis (25/2/2021). Foto: WAHYU PUTRO A/ANTARA FOTO

COVID-19 disebut WHO akan berubah status dari pandemik menjadi endemik. Namun kapan itu terjadi, belum bisa dipastikan.

Terkait hal ini, Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi mengungkapkan, bahwa COVID-19 akan menjadi endemik atau wabah lokal masih hipotesa.

"Masih hipotesa masih dugaan. Kalau kita sekarang bicara endemik ya mungkin nanti kita belum confirm bahwa itu. Ada statement yang mengatakan bahwa COVID-19 ini akan seperti virus flu biasa dan itu bisa menyerang seperti halnya malaria di Papua ada HIV dan sebagainya," kata Adib dalam diskusi virtual, Senin (1/3).

Menurut Adib, saat ini COVID-19 masih ditemukan di mana-mana. Belum tahu juga kapan berakhirnya.

"Dan saya kira ini sekali lagi ini masih bentuk hipotesa bukan tidak mungkin ini bisa terjadi tapi kita bisa mengatakan sekarang karena masih dalam situasi yang global karena pandemi itu global," tuturnya.

"Kita belum melangkah ke sana seperti yang disampaikan tadi masih banyak hal yang tinggi, positif ratenya tinggi. Dan pernyataan itu oleh WHO kemarin masih berupa hipotesa," sambung dia.

Petugas lab menyiapkan sampel sebelum pengujian virus corona (COVID-19). Foto: Cooper Neill/REUTERS

Hal senada diungkapkan dr Eka Ginanjar selaku Ketua divisi Pedoman dan Protokol Tim Mitigasi IDI. Menurutnya, bisa juga COVID-19 akan berakhir tanpa harus menjadi endemik.

"Prediksi hipotesa yang mungkin bisa terjadi tapi mungkin juga tidak terjadi bisa juga pandemi selesai selesai semua. Tapi pandemik itu selesai bisa jadi endemik, endemik itu artinya wilayah tertentu yang memang masih seperti ini seperti malaria di Papua," jelasnya.

"Makanya kalau orang mau ke sana orang harus minum propolaxis itu endemik. Mungkin aja pandemi selesai ada endemik Mudah-mudahan enggak, seperti Flu Spanyol 100 tahun lalu begitu selesai herd immunity tercapai ya selesai ya," tutup dia.