Crowdo Sediakan Sistem Teknologi untuk Verifikasi Kelayakan Pinjaman

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Fintech. (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Fintech. (Foto: Thinkstock)

Lembaga penyedia pinjaman baik perbankan maupun startup fintech bidang P2P Lending (peer-to-peer lending), tentu harus menjalankan prinsip kehati-hatian terhadap kelayakan calon penerima pinjaman. Sebabnya, selama ini banyak lembaga penyedia pinjaman mengalami risiko kerugian akibat kredit macet.

Crowdo, salah satu operator fintech dari Singapura menawarkan kemudahan bagi para investor yang ingin memberikan layanan pinjaman. Salah satunya dengan sistem teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence).

Selain itu, ada juga mesin pembelajaran (machine learning) untuk menilai kelayakan pinjaman yang dilakukan oleh startup maupun pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

"Kami menggunakan artificial intelligence dan machine learning untuk credit scoring. Artinya, kami menggunakan berbagai data finansial dan data lainnya untuk menilai apakah pelaku UMKM layak diberikan pinjaman," kata CEO dan Founder Crowdo, Leo Shimada, di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Selasa (29/8).

Leo melanjutkan, kebanyakan investor saat ini dalam menilai kelayakan kredit si calon peminjam berdasarkan kepemilikan properti. Namun, kenyataannya pelaku bisnis seperti pengusaha UMKM kebanyakan tidak memiliki properti yang cukup banyak.

"Oleh karenanya, data dan portofolio bisnis mereka akan diinput dan dinilai oleh kecerdasan buatan milik kita, apakah layak atau tidak," katanya.

Menurut Leo kelayakan kredit dengan teknologi artificial intelligence dan machine learning itulah yang membuat proses menjadi cepat. Rata-rata penilaian kelayakan pinjaman hanya membutuhkan waktu 2 minggu. Sementara pada lembaga keuangan lain setidaknya membutuhkan waktu 2-3 bulan hingga pinjaman disetujui.

Selain teknologi buatan yang terdapat di dalam webiste Crowdo tersebut, Leo mengatakan Crowdo juga menyediakan aplikasi yang memudahkan peminjam maupun investor mengakses layanan fintech secara peer to peer to business (P2B) lending.

"Kami ingin lebih mobile sehingga memudahkan peminjam dan juga proses investasi bisa on-the-go di manapun investor berada, baik di dalam maupun luar negeri. Bagi investor, kapan pun dia ingin berinvestasi bisa dilakukan secara mobile melalui aplikasi," ujarnya.

Layanan Crowdo saat ini sudah tersedia di Indonesia, Malaysia, dan Singapura dengan lebih dari 3.500 peminjam yang mayoritas berasal dari Indonesia. Dengan bantuan artificial intelligence pula, peminjam di Crowdo berhasil mengembalikan dana investor dengan keuntungan lebih dari 21 persen per tahunnya.