Cuaca Ekstrem hingga Awal Januari 2023, Tertinggi saat Tahun Baru

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan cuaca ekstrem masih akan terjadi hari ini hingga 2 Januari 2023. Cuaca ekstrem dipicu oleh adanya dinamika atmosfer.
Dinamika itu misalnya, peningkatan aktivitas Monsun Asia yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan selatan.
Monsun Asia ini disertai dengan seruakan udara dingin yang berasal dari dataran tinggi Tibet di Asia dan adanya fenomena aliran lintas ekuator yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan secara lebih intensif.
Seruakan dingin di Asia disertai dengan arus lintas ekuatorial dapat berdampak tidak langsung pada peningkatan curah hujan dan membuat kecepatan angin meningkat.
"Ini yang sangat penting, kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator sesuai prediksi 21 Desember, kecepatan angin yang tinggi dapat mencapai 40 knot (74.08 kilometer per jam) itu sudah terjadi dan masih dapat terus terjadi," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers secara virtual, Selasa (27/12).
Normalnya kecepatan angin berada di kisaran 5 โ 12 knot.
Daerah yang Mengalami Cuaca Ekstrem
Wilayah yang berpotensi hujan lebat, sangat lebat hingga ekstrem terjadi di Banten, Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa TImur, Bali, NTB, dan NTT.
Hujan sedang hingga lebat di sebagain wilayah Aceh, Bengkulu, Sumbar, Lampung, Sulsel, Sulbar, Maluku Tenggara, Papua dan Papua Barat.
Dalam peta yang ditampilkan BMKG, terlihat sejumlah wilayah Indonesia yang berpotensi mengalami cuaca ekstrem di akhir dan awal tahun akibat dinamika atmosfer.
Tanggal 28 Desember cuaca ekstrem terlihat di Jateng, Jatim, Nusa Tenggara. Tanggal 29-30 meluas masuk ke Jawa Barat, sebagian Jateng, Jatim, Nusa Tenggara, dan Selatan Papua.
(Tanggal) 1 Januari hampir menutupi seluruh wilayah Indonesia, tertutup warna hijau tua pekat itu," kata Dwikorita.
Pada 4 Januari mulai berkurang, tapi masih menutupi wilayah Jabar, Sumatera, Banten, Jatim, Nusa Tenggara.
"(Tanggal) 5 hingga 10 Januari mulai mereda dan berkurang," katanya.
BMKG mengimbau pemerintah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi risiko terjadinya bencana hidrometeorologi.
