Cuitan Unik Warganet Peringati Hari Guru Nasional

Berbagai kalangan, mulai dari para pejabat hingga warganet, memperingati Hari Guru Nasional yang jatuh setiap 25 November. Namun, berbeda dengan pejabat yang cenderung serius dan programatik dalam menyambut hari peringatan ini, warganet dengan kreatifitas khasnya mempunyai cara sendiri.
Bukan warganet namanya kalau tidak kreatif! Melalui akun media sosial Twitter, warganet menyampaikan apresiasi dan pesan mereka tentang guru dalam hiasan humor maupun satire.
Misalnya, cuitan dari akun @dayatpiliang yang mengungkapkan usaha kerasnya dalam merangkai kata yang tepat untuk mengapresiasi guru. "Kutulis, kuhapus, kutulis lagi, kuhapus lagi". Lalu ia pun menutup rangkaian kata hasil jerih payahnya itu dengan pengakuan dirinya sebagai "murid yang nakal".
Sementara itu, akun @arfisulthani tampak mempunyai kesan tersendiri yang membekas tentang pengalaman menyenangkan dengan guru olahraga. Melalui cuitannya, ia menyampaikan, "Selamat hari guru. Terutama guru olahraga yang pemanasannya cuma 15 menit dan bebas mau olahraga apa setelahnya".
Cuitan ini pun telah mendapat 114 kali retweet dari warganet lainnya.
Cuitan itu sekilas tentu dimaksudkan untuk mengapresiasi guru olahraga, tetapi juga bukan tidak mungkin sebagai kritik dalam bentuk satire.
Nah, kalau cuitan dari akun @anto_winarno berikut ini tampak jelas merupakan sebuah satire. Ia menggambarkan perubahan nilai yang telah terjadi tentang kebiasaan guru dalam mendisiplinkan murid. Kalau "dulu, penggaris bisa bikin murid disiplin. Sekarang, penggaris bisa bikin guru masuk penjara."
Ada banyak cuitan dari warganet lainnya dalam mengapresiasi guru di Hari Guru Nasional ini. Bahkan, dari pantauan kumparan (kumparan.com), Sabtu (25/11), cuitan warganet tentang Hari Guru Nasional menjadi salah satu trending topic di Twitter.
Dalam masyarakat Indonesia, guru memang memiliki posisi yang istimewa sebagai "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa". Secara historis, Hari Guru Nasional ditetapkan berdasarkan hari lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) pada 25 November 1945.
PGRI sendiri memiliki akarnya sejak sebelum Indonesia merdeka. Pada 1912 didirikan Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) yang beranggotakan para kepala sekolah, guru desa, guru bantu dan pemilik sekolah yang bekerja di sekolah-sekolah yang ada di tanah air pada saat itu.
Kemudian, pada 1932 nama PGHB berubah menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI). Memasuki masa penjajahan Jepang, PGI dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Semua aktvitasnya diblokir. Seiring kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, PGI kembali menjadi organisasi aktif dan menggelar kongres pada 24-25 November 1945 di Surakarta.
Dari kongres itulah kemudian Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) lahir, tepatnya pada 25 November 1945.
