Culture Shock Jemaah Haji RI Tiba di Makkah: Cuaca Panas-Jarang Ada Tanaman

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jemaah haji Indonesia bersiap menaiki bus selawat seusai menunaikan umrah wajib di Masjidil Haram di terminal Syib Amir, Makkah, Arab Saudi, Minggu (11/5/2025).  Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Jemaah haji Indonesia bersiap menaiki bus selawat seusai menunaikan umrah wajib di Masjidil Haram di terminal Syib Amir, Makkah, Arab Saudi, Minggu (11/5/2025). Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO

Cuaca panas di Makkah menjadi salah satu culture shock bagi jemaah haji Indonesia. Jemaah dari Tanah Air yang saat ini berada Madinah secara bergiliran mulai menuju ke Makkah.

Cuaca panas di Makkah saat ini bisa mencapai 43 derajat celsius pada siang sampai sore hari.

“(Culture shock) yang pertama cuaca, terus mungkin (karena cuaca) itu akhirnya menyebabkan banyak hal,” kata Kepala Daker Makkah Ali Machzumi di Kantor Daker Makkah, Selasa (13/5).

Ali menyebut panasnya cuaca di Tanah Suci membuat jemaah bercanda ingin pulang lagi. Selain cuaca, kondisi sekeliling Makkah yang penuh bebatuan juga menjadi gegar budaya bagi jemaah haji. Ada tananam di sana, hanya saja tidak terlihat bertumpuk hijau-hijau seperti di Indonesia.

“Di sini enggak ada tanaman-tanaman sebagaimana di Indonesia hijau-hijau. Kalau di sini paling, jadi kanan kirinya ya bebatuan dan padang pasir. Mungkin di Tanah Air enggak situasi seperti itu,” ujar Ali.

Kepala Daker Makkah, Ali Machzumi. Foto: Moh Fajri/kumparan

Bahasa juga menjadi kendala. Ali mengatakan para jemaah haji saat masih di kota masing-masing menggunakan bahasa daerah. Sekarang mereka harus berbahasa Indonesia. Belum lagi dengan bahasa Arab yang asing di telinga mereka.

“Sehingga itu menjadi ya culture shock ternyata enggak paham bahasanya, bahasa Arab semuanya, orangnya besar-besar semua, pakai jubah semua. Jemaah kita kadang-kadang kecil-kecil, mereka besar-besar, desak-desakan ya kita kalah,” terang Ali.

Kondisi tersebut tak menyurutkan niat jemaah haji untuk beribadah, khususnya di Masjidil Haram. Selain itu, Ali mengungkapkan Arab Saudi menilai jemaah haji Indonesia paling ramah dan suka berbagi.

“Kita enggak mau menjelekkan negara lain tapi itu yang mereka (Arab Saudi) sampaikan bahwa jemaah Indonesia itu tertib, santun, sopan. Mereka juga akan merasa nyaman dan senang melayani jemaah haji kita,” tutur Ali.