Curhat Sopir Bajaj: Perawatan Mahal hingga Petugas Dishub Tak Toleran

Pemprov DKI mewajibkan semua bajaj oranye yang beroperasi di Ibu Kota beralih menjadi bajaj biru sejak 2016 lalu. Bajaj oranye menggunakan bahan bakar bensin, sementara bajaj biru menggunakan bahan bakar gas (BBG).
Meski kebijakan itu dibuat dengan alasan bajaj dengan BBG lebih ramah lingkungan, beberapa supir bajaj justru tak berbahagia. Salah satu sopir bajaj yang kumparan temui di kawasan Kampung Duri, Jakbar, bernama Bambang (40), mengaku merugi dengan peralihan itu, sebab perawatan bajaj biru membutuhkan uang yang tak sedikit.
"Rp 100 ribu turun (bongkar) mesin sudah fit kalau (perawatan) bajaj oranye. Kalau bajaj biru harus nyiapkan uang jutaan rupiah, tidak sesuai dengan onderdil (yang ada) sekarang," ujar Bambang di pangkalan bajaj di Jalan Makmur, Kampung Duri, Jakarta Barat, Sabtu (10/3).

Apalagi Bambang mengaku penghasilannya saat menjadi sopir bajaj merah lebih banyak. "Penghasilannya juga enakan bajaj oranye, Rp 200 ribu bisa per hari. Bajaj biru Rp 100 ribu saja sudah susah," imbuh dia.
Tak hanya mengeluhkan soal kerugian dan penghasilan yang serba kekurangan, Bambang juga menyayangkan sikap petugas Dinas Perhubungan DKI yang menurutnya tak kenal toleransi dalam menindak sopir bajaj.
"Bajaj di tangkap-tangkapin melulu sama Dishub. KIR (Kartu Hasil Uji Kendaraan Berkala ) mati sedikit saja sudah di kandangin bajaj kita, itu masalahnya," ucap Bambang.
"Kalau KIR mati sehari, harus ada toleransi untuk bajaj, karena nyari duitnya sudah susah, tapi Dishub ini alasannya aturan dan aturan, gitu doang," lanjutnya.

Terlepas dari kontroversi peralihan bajaj oranye ke biru dan penangkapan bajaj-bajaj oleh petugas Dishub, menurut Bambang keberadaan transportasi online saat ini juga semakin memperketat persaingan para sopir bajaj dalam mengais rezeki.
"Bajaj biru sangat sulit menghasilkan uang, ada saingan ojek online. Saat ini bajaj di Jakarta ada sekitar 10 ribu dari dulu yang saya tahu 15 ribu, terus ditangkap. Supir bajaj masih 10 ribu di bagi ke 5 wilayah," ungkap Bambang.
Senada, Agus (52), yang merupakan pemilik bengkel bajaj juga tak setuju dengan kebijakan peralihan bajaj tersebut. Menurut Agus yang sudah jadi pekerja bengkel sejak puluhan tahun lalu, bajaj oranye tak kalah kualitasnya dengan bajaj biru.
"Malah bajaj biru saya meraba-raba (kesulitan) benerinnya juga. Kalau bajaj oranye, ibarat kata sambil mata merem juga bisa," ucap Agus.
