Curhat Tukang Becak di Malioboro: 27 Tahun Mengayuh Becak, Kali Ini Tersepi

26 Maret 2020 20:35
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Sebuah becak terparkir di tepi Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
ADVERTISEMENT
Pemandangan Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, berbeda dari hari biasa. Lalu lalang kendaraan tak lagi ramai. Pedestrian yang biasanya sesak wisatawan, kini sepi. Toko-toko tutup, tukang becak lebih banyak menganggur, sedang andong nyaris tak ada. Itu semua karena corona.
Pengunjung berfoto di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Di sudut pertigaan antara arah Jalan Malioboro dan Jalan Pasar Kembang sejumlah becak parkir berderet. Kursi penumpang tak diduduki wisatawan diganti sang empu yang memilih tidur siang di atasnya. Sadel kosong bagai tak bertuan.
ADVERTISEMENT
Pemandangan ini menurut Rubiyat (52) sudah mulai tampak sejak beberapa hari terakhir. Dia memilih bertahan, baginya mencari nafkah tetap harus dilakukan. Rubiyat bukan sedang menentang imbauan Sultan, dia mengaku hanya ingin bertahan.
"27 tahun narik ini yang terparah sepinya," kata warga Bambanglipuro, Kabupaten Bantul ini, Kamis (26/3).
Sejumlah becak terparkir di tepi Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Meski begitu dia tetap rela menempuh perjalanan 25 menit dengan sepeda motor menuju jantung Kota Yogya. Dia tetap setia menanti penumpang meski faktanya tidak ada satu pun penumpang hari ini.
"Ya ini kalau saya sopir becak asli Yogya jadi dari rumah ke sini cari rezeki. Kalau di rumah saja kasian anak cucu. Ini modal nekat, semangat, jaga kesehatannya sama penyakit Allah sendiri yang tahu. Saya tetap kerja," kata dia.
Suasana di Jalan Pasar Kembang, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
"Situasi begini pesimis juga. Baru coba-coba ini (cari penumpang). Narik untuk kebutuhan hari ini belum dapat penumpang," kata dia.
ADVERTISEMENT
Situasi ini memang pelik, dia hanya merasa sedikit beruntung karena anak-anaknya sudah mentas. Tapi tetap saja ini cobaan yang berat. Sepi-sepinya Malioboro, dulu dia masih bisa dapat Rp 100 ribu.
"Alhamdulillah kalau hari biasa itu bisa dapat Rp 100 ribu itu sepi-sepinya. Kalau hari ini sama sekali belum ada penumpang. Beberapa teman dari Magelang, Semarang pulang, enggak berani nginep, karena enggak ada penghasilan," kata dia.
Seorang tukang becak beristirahat di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Rubiyat mengaku harapannya tinggal satu, wabah ini segera berakhir. Tak mungkin baginya yang bekerja mobile untuk mencari nafkah di rumah.
"Kalau tidur di rumah uang 5 ribu enggak ada. Sedang becak tidak mungkin dikerjakan dari rumah. Saya ikut prihatin mudah-mudahan segera berakhir," katanya.
Toko yang tutup sementara di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Hal tak jauh berbeda dirasakan Aris Gunawan (56). Tukang becak ini juga merasa kepayahan dengan wabah corona. Wisatawan yang tak lagi datang bikin dia bingung siapa yang harus diantarkan.
ADVERTISEMENT
"Semua lumpuh karena corona ini ya sudah semua ditutup (toko-toko)," ujarnya.
Hari ini pun sepi, dia belum mendapat penumpang. Padahal setengah hari saja pada hari biasa setidaknya dia sudah bisa narik empat kali.
Suasana pertokoan yang tutup sementara di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Pukulan telak juga dirasakan pedagang. Jufril (35) penjual tas dompet ini memilih tetap berjualan. Dia mengaku capek dan pegal jika hanya tidur di rumah dan makan. Katanya, kalau laku alhamdulillah.
"Omzet jauh karena wisatawan dan tamu hotel tidak ada. Ibaratnya 90 persen itu turun. Jauh kadang nggak laku. Hari-hari biasa omzet Rp 600 ribu. Rp500 ribu, Rp 300 ribu masuk. Kalau ini saja nggak laku," kata dia.
Suasana sepi di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Alasannya sudah jelas. Wisatawan tak datang karena obyek wisata seperti candi-candi besar tutup, seperti Borobudur dan Prambanan. Padahal kebiasaan wisatawan itu melancong di obyek wisata siang hari dan menghabiskan malam di Malioboro.
ADVERTISEMENT
"Sepi masuk minggu kemarin mulai tidak ada tamu, kan jadi sepi. Semenjak sejumlah obyek wisata tutup jadi sepi seperti Borobudur tutup," kata dia.
Kondisi ini membuatnya memilih untuk tutup pada sore hari. Menyiasati kebutuhan hidup dengan berhemat. Tidak ada pilihan lain.
"Ya hanya ngirit saja," kata dia tersenyum.
"Tiga kali saya zonk," kata Rifai (25) penjual baju.
Suasana sepi di Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Zonk yang dimaksud Rifai adalah tidak laku sama sekali. Hari ini dia cukup beruntung karena ada satu pembeli. Tapi dia tetap saja hanya bisa jualan sendiri, karyawan untuk sementara diliburkan.
"Karyawan saya liburkan. Ini 50 persen omzet biasanya kotor Rp 3 juta. Hari ini baru satu. Pernah zonk tiga kali," kata dia.
ADVERTISEMENT
Harapan keempat orang ini sama. Mereka hanya ingin virus corona berakhir. Terlebih jangan sampai wabah corona ini hingga Lebaran. Waktu itu merupakan peak season kunjungan ke Yogyakarta.
****
kumparanDerma membuka campaign crowdfunding untuk bantu pencegahan penyebaran corona virus. Yuk, bantu donasi sekarang!