Curhat Warga Aceh Tamiang: 4 Hari Banjir Masih Tinggi, Bantuan Baru 1 Heli

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara Jembatan Beutong Ateuh Banggalang yang putus diterjang banjir bandang di jalan lintas tengah Nagan Raya-Aceh Tengah di Desa Kuta Teugong, Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, Minggu (30/11/2025). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara Jembatan Beutong Ateuh Banggalang yang putus diterjang banjir bandang di jalan lintas tengah Nagan Raya-Aceh Tengah di Desa Kuta Teugong, Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, Minggu (30/11/2025). Foto: Syifa Yulinnas/ANTARA FOTO

Banjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, masih belum surut. Daerah ini menjadi salah satu yang paling terdampak dan hingga kini masih terisolasi.

Kondisi memprihatinkan itu diceritakan oleh Khairun Nasyrah, warga Stabat, Sumut, yang berbatasan langsung dengan Aceh Tamiang.

Nasyrah menyebut, seluruh keluarga besarnya saat ini masih di Aceh Tamiang.

Aceh Tamiang, salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, yang terkena banjir-longsor pada akhir November 2025. Foto: Google Maps

"Laporan kondisi terkini di Tamiang, saya mau infokan untuk pemerintah pusat bahwasanya di Tamiang itu daerah paling terisolir karena bantuan sama sekali tidak bisa masuk sekarang. Akses darat dari Medan dan Banda Aceh itu putus total," kata dia pada Senin (1/12).

Ia bercerita, bantuan sempat sekali masuk via helikopter pekan lalu. Namun hingga hari ini ketinggian air masih sangat tinggi di beberapa titik di Aceh Tamiang.

"Di Aceh Tamiang itu betul-betul kekurangan logistik, kekurangan bantuan, per hari Sabtu dalam 4 hari mereka terendam banjir baru ada 1 helikopter masuk ke Tamiang. Dan dengan kondisi seperti itu saya rasa bantuan dengan 1 heli tidak mencukupi untuk kebutuhan orang 1 kabupaten," urainya.

"Kami di Tamiang, daerah Alur Manis, sekarang berada di pengungsian pabrik BSJ. Pabrik itu bukit paling tinggi yang benar benar aman untuk tempat pengungsian. Sampai hari ini ketinggian banjir itu masih sedada."

Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12/2025). Foto: Suhendra/ANTARA FOTO

Kata dia, keluarganya dan warga Alur Manis kini hanya makan sisa-sisa logistik yang tersisa. Warga di pengungsian saling tolong menolong sambil menunggu bantuan datang.

"Jadi bener-bener kami kalau di atas bukit terisolir, kalau mau turun tidak ada akses bantuan seperti perahu karet atau apa pun untuk mencari logistik ke bawah," katanya.

"Karena di Tamiang, jangankan lintas provinsi, lintas kampung itu putus. Untuk harapkan warga bantu warga pun juga mulai susah," tutur dia.

Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12/2025). Foto: Suhendra/ANTARA FOTO

Mirip Tsunami

Ia bahkan menyebut banjir yang terjadi ini menyebabkan kerusakan yang sangat parah. Bahkan mirip tsunami pada 2004 lalu.

"Kerusakan itu bener bener parah sekali, hampir sama kami kena tsunami. Bahkan ada laporan, bahwasanya Kampung Sukajadi yang sudah surut dari ratusan rumah tersisa 4 rumah. Sampai sekarang masih ada daerah belum surut," katanya.

"Saya mohon perhatian pemerintah pusat, pemerintah mana pun, pemerintah nasional. Mereka dalam kondisi kelaparan, mereka tak tahu mencari logistik di mana, dan ini sudah gawat darurat," tutup dia.