Daftar Calon Dubes RI yang Diusulkan Jokowi, Ada Wishnutama hingga Eks Hakim MK

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden Joko Widodo (kanan) menganugerahkan Tanda Kehormatan kepada mantan Menparekraf Wishnutama Kusubandio di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/8/2023). Foto: Akbar Nugroho Gumay/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Presiden Joko Widodo (kanan) menganugerahkan Tanda Kehormatan kepada mantan Menparekraf Wishnutama Kusubandio di Istana Negara, Jakarta, Senin (14/8/2023). Foto: Akbar Nugroho Gumay/Antara Foto

Surat berisi nama-nama calon duta besar RI yang diusulkan Presiden Jokowi beredar luas. Dalam daftar tersebut, terdapat nama eks Menteri Pariwisata Wishnutama Kusubandio, anggota DPR dari Fraksi PDIP Junimart Girsang, hingga eks Hakim Mahkamah Konstitusi, Manahan MP Sitompul.

Surat yang ditandatangani Jokowi pada 10 Juli 2024 itu ditujukan kepada DPR RI. Anggota Komisi I DPR, Nico Siahaan, membenarkan keberadaan surat tersebut.

"Surat itu baru sampai ke kantor Ketua DPR RI, belum ke Komisi I. Tapi infonya benar begitu," kata Nico kepada kumparan, Kamis (22/8).

Eks Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Manahan Sitompul. Foto: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

"Bersama ini dengan hormat kami sampaikan nama-nama Calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia (Dubes LBBP RI) untuk negara sahabat, guna mendapatkan pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat sesuai ketentuan Pasal 13 ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945," demikian pembuka surat tersebut.

Junimart Girsang. Foto: Dok. DPR RI

Dalam surat itu, tertulis Wishnutama dicalonkan sebagai Dubes RI untuk Amerika Serikat, sementara Manahan yang diusulkan menjadi Dubes untuk Bosnia dan Herzegovina. Sedangkan Junimart Girsang diusulkan menjadi Dubes untuk Italia.

Selain Wishnutama dan Manahan, ada sejumlah pejabat Kementerian Luar Negeri RI (diplomat karier), seperti Direktur Perlindungan WNI Judha Nugraha yang diusulkan menjadi Dubes untuk Malaysia, Jubir Kemlu RI Rolliansyah Soemirat untuk Iran, dan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Abdul Kadir Jailani yang diusulkan menjadi Dubes untuk Jerman.

Jubir Kementrian Luar Negeri Roy Soemirat (kanan) dan Direktur Perlindungan WNI Judha Nugraha (kiri) saat Konferensi pers di kantor Kemlu Jumat (9/8) Foto: Tiara Hasna/kumparan

Secara keseluruhan, berikut 46 nama calon Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia yang diusulkan untuk berbagai negara sahabat dan organisasi internasional:

  1. Didik Eko Pujianto, untuk Republik Irak, berkedudukan di Baghdad

  2. Tri Tharyat, untuk Kerajaan Thailand, berkedudukan di Bangkok

  3. Fikry Cassidy, untuk Republik Bolivaria Venezuela, berkedudukan di Caracas

  4. Franciscus De Salles Toferry Primanda Soetikno, untuk Republik Sosialis Vietnam, berkedudukan di Hanoi

  5. Simon Djatwoko Irwantoro Soekarno, untuk Republik Kuba, berkedudukan di Havana

  6. Hersindaru Arwity Ibnu Wiwoho Wahyutomo, untuk Republik Finlandia, berkedudukan di Helsinki

  7. Kuncoro Giri Waseso, untuk Republik Arab Mesir, berkedudukan di Kairo

  8. Siti Nugraha Mauludiah, untuk Kerajaan Denmark, berkedudukan di Kopenhagen

  9. Judha Nugraha, untuk Malaysia, berkedudukan di Kuala Lumpur

  10. Kartika Candra Negara, untuk Republik Mozambik, berkedudukan di Maputo

  11. L. Amrih Jinangkung, untuk Federasi Rusia, berkedudukan di Moscow

  12. Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji, untuk Republik Kenya, berkedudukan di Nairobi

  13. Sidharto R. Suryodipuro, untuk Perutusan Tetap Republik Indonesia untuk PBB, berkedudukan di New York

  14. Hendra Halim, untuk Republik Panama, berkedudukan di Panama City

  15. Manahan MP Sitompul, untuk Bosnia dan Herzegovina, berkedudukan di Sarajevo

  16. Listiana Operananta, untuk Republik Bulgaria, berkedudukan di Sofia

  17. Yayan Ganda Hayat Mulyana, untuk Kerajaan Swedia, berkedudukan di Stockholm

  18. Rolliansyah Soemirat, untuk Republik Islam Iran, berkedudukan di Tehran

  19. Orias Petrus Moedak, untuk Jepang, berkedudukan di Tokyo

  20. Mirza Nurhidayat, untuk Republik Namibia, berkedudukan di Windhoek

  21. Agung Cahaya Sumirat, untuk Republik Kamerun, berkedudukan di Yaonde

  22. Junimart Girsang, untuk Italia, berkedudukan di Roma

  23. Susi Marleny Bachsin, untuk Portugal, berkedudukan di Lisbon

  24. Imam As'ari, untuk Korea Utara, berkedudukan di Pyongyang.

  25. Bambang Suharto, untuk Republik Federal Nigeria, berkedudukan di Abuja

  26. Chery Sidharta, untuk Republik Demokratik Federal Ethiopia
berkedudukan di Addis Ababa

  27. Daniel Tumpal S. Simanjuntak, untuk Republik Rakyat Tiongkok, berkedudukan di Beijing

  28. Dicky Komar, untuk Republik Lebanon, berkedudukan di Beirut

  29. Andreano Erwin, untuk Republik Serbia, berkedudukan di Beograd

  30. Abdul Kadir Jailani, untuk Republik Federal Jerman, berkedudukan di Berlin

  31. Muhsin Syihab, untuk Republik Federasi Brasil, berkedudukan di Brasilia

  32. Penny Dewi Herasati, untuk Hungaria, berkedudukan di Budapest

  33. Ardian Wicaksono, untuk Republik Senegal, berkedudukan di Dakar

  34. Gina Yoginda, untuk Kerajaan Arab Suriah, berkedudukan di Damaskus

  35. Arief Hidayat, untuk Republik Zimbabwe, berkedudukan di Harare

  36. Chandra Warsenanto Sukotjo, untuk Republik Islam Pakistan, berkedudukan di Islamabad

  37. Andy Rachmianto, untuk Meksiko Serikat, berkedudukan di Mexico City

  38. Ayodhia G.L Kalake, untuk Kanada, berkedudukan di Ottawa

  39. Agus Priono, untuk Republik Suriname, berkedudukan di Paramaribo

  40. Andhika Chrisnayudhanto, untuk Negara Merdeka Papua Nugini,
berkedudukan di Port Moresby

  41. Rina Prihtyasmiarsi Soemarno, untuk Republik Ceko, berkedudukan di
Praha

  42. Yuyu Sutisna, untuk Kerajaan Maroko, berkedudukan di Rabat

  43. Vedi Kurnia Buana, untuk Republik Chile, berkedudukan di Santiago

  44. Cecep Herawan, untuk Republik Korea, berkedudukan di Seoul

  45. Siti Ruhaini Dzuhayatin, untuk Republik Uzbekistan, berkedudukan di
Tashkent; dan

  46. Wishnutama Kusubandio, untuk Amerika Serikat, berkedudukan di
Washington D.C.

Ketua Komisi I DPR, Meutya Hafid, belum memberikan komentar terkait beredarnya dokumen tersebut.