Dalam Gelap, Ia Menuntun Cahaya: Perjalanan Haji Mbah Sarjo, Lansia Tunanetra

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Mbah Sarjo Utomo saat beribadah di Masjid Nabawi. Foto: Dok. MCH 2026
zoom-in-whitePerbesar
Mbah Sarjo Utomo saat beribadah di Masjid Nabawi. Foto: Dok. MCH 2026

Di usianya yang telah memasuki 71 tahun, Mbah Sarjo Utomo tidak lagi melihat dunia seperti kebanyakan orang. Gelap telah menjadi teman setianya selama puluhan tahun.

Namun dari gelap itulah, justru lahir keyakinan yang terang dan meyakinkan, membawanya melangkah jauh, hingga ke Tanah Suci.

Di Madinah, Sabtu (25/4), lelaki renta asal Srikayangan, Sentolo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta itu menapakkan kakinya dengan satu niat sederhana: menyempurnakan rukun Islam, sebagai bekal menghadap Allah kelak.

Bagi Mbah Sarjo, haji bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin yang telah ia siapkan sejak lama.

"Haji itu kan rukun Islam. Ibadah saya buat sangu (bekal) saya nanti menghadap Allah," kata Mbah Sarjo lirih.

Perjalanan hidupnya tak selalu mudah. Pada 1992, saat usianya masih 37 tahun, sebuah virus herpes menggerogoti penglihatannya. Harapan sempat menyala ketika ia menjalani operasi.

Namun takdir berkata lain, sebuah kecelakaan dalam prosedur itu justru merenggut seluruh sisa penglihatannya. Dunia yang sebelumnya samar, kini benar-benar gelap.

Menerima kenyataan itu bukan perkara singkat. Ada masa ketika hatinya bergejolak, mempertanyakan takdir yang datang tanpa permisi. Apalagi ketika dokter menyatakan bahwa matanya tak mungkin lagi disembuhkan.

Namun pelan-pelan, Mbah Sarjo memilih berdamai. Ia mengganti keluh dengan ikhtiar yang berbeda: mendekat kepada Allah.

Hari-harinya diisi dengan suara, bukan penglihatan. Dari kajian para ustaz di YouTube dan televisi, ia merajut kembali semangat yang sempat tercerai.

"Saya tiap hari dengarkan kajian ustaz-ustaz lewat Youtube dan televisi, hingga saya semangat dan mantap pada (takdir) Allah," kata dia.

Keyakinan itu kemudian menjelma menjadi keputusan besar. Demi memenuhi panggilan ke Baitullah, Mbah Sarjo menjual pekarangan kebun yang selama ini menjadi salah satu sandaran hidupnya.

Tak hanya untuk dirinya, hasil penjualan itu juga ia gunakan untuk mendaftarkan haji bagi istri dan anaknya.

"Pekarangan kebun saya jual untuk daftar haji saya, anak saya, dan istri saya," paparnya.

Baginya, haji adalah kewajiban yang harus diupayakan sepenuh hati, selama masih ada kemampuan. Ia tak ingin menyisakan penyesalan di ujung usia. Maka, dengan segala keterbatasan, ia memilih memberi yang terbaik yang ia punya.

Penantian panjang itu pun akhirnya terjawab. Bersama kloter pertama Yogyakarta (YIA), Mbah Sarjo tiba di Madinah pada 22 April 2026. Ia datang bukan dengan penglihatan, tetapi dengan keyakinan yang tak pernah pudar.

Sarjo berharap, dengan menunaikan ibadah haji, Allah meridhoi upayanya dan mengampuni dosa-dosanya.

"Kalau saya berhaji mungkin Allah mengampuni dosa-dosa saya di masa lalu," katanya.