Dampak Air Hujan Tercemar Mikroplastik di Jakarta: Iritasi Saluran Pernapasan

Peneliti BRIN Prof. Dr. Muhammad Reza Cordova mengungkap di balik fenomena makin banyaknya mikroplastik yang terkandung di air hujan yang turun di Jakarta. Penelitian terbaru, mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh bisa menyebabkan sejumlah dampak.
"Baru terdeteksi beberapa tahun terakhir, alat analisisnya makin sensitif. Kita kan pakai alat biasa sebelumnya, karena isunya makin tinggi dan alat sensitif jadi mengemuka," kata Reza Cordova pada Kamis (23/10).
"Sekarang makin banyak plastik yang dipakai, pembelian online makin masif, plastik dan polusi makin terlihat. Jadi mikroplastiknya terbawa masuk siklus atmosfer," sambung ahli pencemaran laut yang meneliti sampah plastik sejak 2007 ini.
Reza menambahkan, mikroplastik yang terkandung di air hujan ukurannya ultramikron. Untuk itu ia bisa masuk ke dalam tubuh masyarakat lalu menimbulkan dampak meski tak secara langsung.
"Karena dia ringan, secara kasar kalau buang sampah di lingkungan itu ringan akan terpapar matahari, tergesek angin, dia akan masuk ke dalam ekosistem, kemudian makanan dan minuman. Dia bisa menempel jaringan tubuh karena dia pencemar fisik," urainya.
"Dampak berbahaya tidak langsung muncul atau akut ketika keracunan logam berat atau insektisida. Kalau masuk ke tubuh, dia akan melakukan perlawanan. Namun bila jumlahnya lebih banyak lagi bisa menyebabkan iritasi di saluran pernapasan, bisa menyebabkan peradangan," sambung dia.
Ia mengatakan, dampaknya makin terasa tergantung durasi terpapar air hujan hingga intensitas hujannya.
"Kalau badan terasa tidak enak, kita harus kembali ke gaya hidup sehat, olahraga cukup, metabolisme diperbaiki, makan sayur dan buah supaya serat alami makin banyak. Ketika serat makin banyak dia akan mendorong polutan atau mikroplastik itu masuk ke tubuh," kata dia.
Reza menjelaskan, mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan.
Rata-rata, peneliti menemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta.
Menurut Reza, fenomena ini terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri, kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama hujan. Proses ini dikenal dengan istilah atmospheric microplastic deposition.
