Dampak Karhutla Makin Parah, Komisi IV DPR Minta Water Bombing Diperkuat

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Personel TNI menyemprotkan air saat berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut yang meluas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (19/8/2026).  Foto: Rony Muharrman/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Personel TNI menyemprotkan air saat berupaya memadamkan kebakaran lahan gambut yang meluas di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Rabu (19/8/2026). Foto: Rony Muharrman/ANTARA FOTO

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Daniel Johan mendesak pemerintah mengerahkan pasukan pemadaman secara masif untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Daniel mengatakan kondisi kualitas udara saat ini sudah sangat memprihatinkan akibat kabut asap dari karhutla. Menurutnya, upaya pemadaman perlu diperkuat karena keterbatasan anggaran dan cuaca ekstrem membuat api sulit dipadamkan secara total, terutama di kawasan lahan gambut.

"Kami mendesak agar pemerintah segera mengerahkan pasukan pemadaman secara masif, dengan memperkuat operasi water bombing serta tim darat gabungan dari Manggala Agni, BPBD, dan TNI/Polri," kata Daniel saat dihubungi, Kamis (20/8).

Menurut Daniel, pengerahan personel perlu difokuskan pada titik-titik api di lahan gambut yang memiliki risiko tinggi menyebar ke kawasan sekitar, termasuk wilayah yang berdekatan dengan bandara.

Dia juga mendesak Kementerian Keuangan segera mencairkan anggaran Rp 290,9 miliar untuk operasional pencegahan dan penanggulangan karhutla. Anggaran tersebut merupakan bagian dari kesimpulan rapat kerja Komisi IV DPR bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Selasa (18/8).

"Anggaran ini sangat mendesak agar upaya pemadaman di lapangan tidak lagi terkendala keterbatasan sumber daya," ujar dia.

Daniel menilai penanganan karhutla saat ini membutuhkan koordinasi yang lebih terpusat. Dia mengusulkan agar penanganan karhutla ditangani oleh satu lembaga sehingga komando, pengambilan keputusan, dan penggunaan anggaran dapat lebih efektif.

"Kami juga mendorong agar penanganan kebakaran hutan dan lahan ini ditangani cukup satu lembaga saja sehingga lebih terorganisir, terpusat serta anggaran pengendalian, pencegahan dapat maksimalkan tidak seperti saat banyak lembaga terpencar yang tidak satu komando," katanya.

Dia menilai banyaknya lembaga yang terlibat tanpa satu komando berpotensi membuat respons pemerintah lebih lambat. Padahal, kebakaran sudah menyebar ke berbagai wilayah.

"Kebakaran sudah menjalar ke mana-mana, rapat koordinasinya yang panjang ini yang menyebabkan lambatnya penanganan, cukup satu lembaga yang tunjuk, sehingga lebih efisien, cepat mengambil keputusan," tegas Daniel.

Selain memperkuat operasi pemadaman, Daniel meminta keselamatan petugas di lapangan menjadi perhatian. Pemerintah diminta memastikan seluruh personel memiliki alat pelindung diri yang memadai, termasuk masker respirator standar.

Pemeriksaan kesehatan berkala serta skema kompensasi dan jaminan risiko kerja juga dinilai perlu diberikan kepada petugas yang terpapar asap dalam durasi lama.

Daniel juga mendorong percepatan operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan. Menurutnya, teknologi tersebut perlu segera dijalankan ketika masih terdapat potensi awan hujan.

"Kami mendorong percepatan operasi modifikasi cuaca (teknologi modifikasi cuaca/hujan buatan) melalui koordinasi intensif antara BNPB, BMKG, dan BRIN, mengingat opsi ini perlu dieksekusi selagi masih ada potensi awan sebelum kondisi kemarau memuncak," ujarnya.

Selain penanganan darurat, Daniel meminta pemerintah memperkuat penegakan hukum terhadap pihak yang menyebabkan karhutla, baik karena kesengajaan maupun kelalaian.

"Kami juga menuntut penegakan hukum yang tegas dan tanpa tebang pilih terhadap semua pihak, baik yang sengaja maupun lalai, sehingga menyebabkan kebakaran hutan dan lahan," tegasnya.

Menurut dia, dampak karhutla kini telah meluas dari persoalan lingkungan menjadi persoalan kesehatan dan ekonomi. Kabut asap juga telah memunculkan dampak lintas batas dan menjadi perhatian negara tetangga seperti Singapura.

Di Kalimantan Barat, kondisi kualitas udara yang buruk bahkan membuat sejumlah sekolah di Kabupaten Kubu Raya dan Kota Pontianak diliburkan untuk mengurangi paparan asap terhadap anak-anak.

Desakan Daniel tersebut disampaikan dua hari setelah Komisi IV DPR menggelar rapat bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada Selasa (18/8). Dalam rapat itu, Komisi IV meminta pemerintah memperkuat pencegahan agar karhutla tidak semakin meluas.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Alex Indra Lukman sebelumnya menegaskan pemerintah tidak boleh kalah cepat dibandingkan munculnya titik api. Dia meminta langkah pencegahan diperkuat, termasuk di wilayah rawan karhutla di luar provinsi yang selama ini menjadi prioritas penanganan.